Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

KUNTOWIJOYO DALAM MAKLUMAT SASTRA PROFETIK

Imamuddin SA

Siapa yang tidak kenal dengan Kuntowijoyo! Ia seorang sastrawan, budayawan, sekaligus akademisi yang lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Ia salah seorang maestro yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karya-karyanya sungguh luar biasa dan menjadi karya besar. Melalui karya-karyanya, Kuntowijoyo mengantongi berbagai macam gelar.

SEKUNTUM BUNGA SOFI DARI DAHAN MAFIA THREE IN ONE

Awalludin GD Mualif *

NOVEL sebagai bagian dari karya sastra, mempunyai bentuk  dan proses penceritaanya sendiri yang terikat dalam hukum-hukumny sendiri. Proses dan bentuk yang menghasilkan kecemasan, ketakutan serta harapan, sebab akibat, penyampaian gagasan, nilai dan pesan-pesan dalam frame dan dunia yang diciptakan penulisnya. Seperti Tuhan yang menciptakan semesta, sebagai latar bagi manusia, demikian juga manusia (penulis) mencipta karya sastra, dimana unsur sastra menjadi latar bagi para tokoh-tokoh yang digambarkan oleh penulis.

Sastrawan Riau Bergerak (PUISI UNTUK ROHINGYA, Hal II)

Laporan: Kunni Masrohanti
http://www.riaupos.co

Panyair Indonesia Terbitkan Buku Puisi Rohingya

Penyair di seluruh Indonesia juga melakukan hal serupa. Ratusan penyair yang tergabung dalam grup Ruang Sastra bersepakat mengumpulkan karya puisi tentang Rohingya. Siapapun penyairnya boleh mengirimkan puisi tentang Rohingnya, tapi tetap ada proses kurasi.

Dan Fenomena Presiden Penyair Daerah sebagai Dagelan Populer?

Nurel Javissyarqi
Tentu kita tahu sebutan presiden penyair Indonesia tersemat dari-padanya Sutardji Calzoum Bachri. Kredonya yang fenomenal itu meluas mempengaruhi banyak penyair serta kritikus (… dengan kredonya yang terkenal itu, Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya cipta atau kreativitas, Ignas Kleden endosemen di buku Isyarat, lalu lihat buku Raja Mantra Presiden Penyair, 2007).

Puisi Alam: Membangun Mitos Baru (Bagian Kedua)

Maman S. Mahayana
http://riaupos.co

KESADARAN  penyair bahwa ia menempatkan puisi sebagai fakta, sebagai realitas, menuntutnya pada pemahaman, bahwa ia mesti berjuang membangun puisinya tidak sebatas mengangkat puisi alam atau mantra sebagaimana adanya, tidak juga sekadar menawarkan bentuk tranformasi atau usaha melakukan revitalisasi.

Puisi Alam: Membangun Mitos Baru (Bagian Pertama)

Maman S Mahayana
http://riaupos.co

JAGAT Nusantara adalah kisah eksotisme manusia alam. Kebersatuan manusia Nusantara dengan alam itulah yang lalu menghasilkan kebudayaan, melahirkan kesenian, menciptakan puisi! Sebelum bangsa-bangsa asing datang ke Nusantara memperkenalkan kebudayaan mereka dengan segala sistem kepercayaannya,

Bahasa Media Bahasa Kita

Bagja Hidayat *
Majalah Tempo, 7 Des 2015

Pada akhirnya bahasa Indonesia adalah himpunan berbagai bahasa daerah, bukan hanya bahasa Melayu yang menjadi akarnya ketika ditetapkan sebagai bahasa persatuan 87 tahun lalu. Jika dilihat dari jumlah penuturnya, bahasa Jawa dan Sunda paling banyak mempengaruhi bahasa Indonesia. Dari 6.000 lebih bahasa di dunia, jumlah penutur bahasa Jawa menempati urutan ke-11.

Ben Anderson dan Perkara Ejaan

Joss Wibisono *
Majalah Tempo, 28 Des 2015

Pada obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh. Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi.

Sanjak, Sajak, Puisi

Zen Hae *
Majalah Tempo, 1 Agu 2016

Dalam sebuah kicauannya beberapa bulan lalu, penyair dan kritikus seni Nirwan Dewanto (@nd_nir) bertanya, “Mengapa sanjak menghilang?” Jawabannya mungkin bisa kita temukan jika kita mundur ke dasawarsa 1950 atau ke masa yang lebih silam daripada itu.

Mengurus Bahasa Bersama

Ahmad Sahidah *
Majalah Tempo, 17 Okt 2016

Kamus Besar Bahasa Indonesia selalu terbuka untuk pengayaan kosakata. Kehadirannya adalah penyempurnaan terhadap keluaran sebelumnya. Perubahan dan penambahan juga menimbang dari pelbagai sumber dan masukan para ahli linguistik. Meskipun makna bahasa tak bisa sepenuhnya dirujuk pada kamus, KBBI senantiasa akan menjadi acuan utama dalam berbahasa lisan dan tulisan. Bagaimanapun mesti diakui bahwa makna bahasa juga bisa ditemukan dalam percakapan sehari-hari, yang kata Noam Chomsky, filsuf bahasa, menunjukkan pentingnya konteks dalam memahami tuturan. Lebih jauh, bagaimana kita bangga menggunakannya dalam segala suasana.

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi