Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Jati Diri dan Bahasa Indonesia

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 21 Apr 2013

Lapor. Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi pada jam mata kuliah di Jurusan Indonesia Universitas Bonn. Diskusi itu bermula dari pertanyaan seorang mahasiswa.

“Menurut Bapak, apa ciri khas budaya Indonesia dan bertolak dari itu di mana kira-kira identitas atau jati diri bangsa Indonesia?”

Andai Anda Melayu Riau

Taufik Ikram Jamil
Kompas, 30 Mar 2012

Bagaimana perasaan Anda jika sesuatu yang Anda miliki tiba-tiba asing, padahal dari segi fisik, benda tersebut tak berubah sama sekali, bahkan Anda masih menyandang sebutan sebagai pemiliknya? Orang Melayu Riau memiliki pengalaman mengenai hal ini dari berbagai segi. Tak saja berkaitan dengan ekonomi dan politik, juga bahasa.

Sastra Itu “Berat”

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 22 Jan 2011

Sekretaris Ikapi Cabang Yogyakarta baru-baru ini menyatakan bahwa penerbitan buku sastra hanya lima persen dari penerbitan buku di Yogyakarta karena para penerbit menganggap sastra itu “berat, baik materi dan bahasanya” sehingga kurang laku (Kompas, 6 Oktober, 2010, hlm. 12). Anggapan buku sastra kurang laku karena dianggap “berat” dan oleh karena itu para penerbit menghindar menerbitkannya, sudah lama menjadi mitos di kalangan penerbit.

Sulitnya Bahasa Indonesia

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 24 Mei 2010

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

Para Hadir

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 12 Sep 2016

“PARA hadirin yang berbahagia ….”

Pada acara seremonial, simposium, hingga hiburan, inilah kalimat pembuka dari master of ceremony (MC) atau pembawa acara. Para pejabat juga mengucapkan kalimat serupa dengan variasi: “Para hadirin yang saya hormati ….”

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi