Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Tentang Permulaan Kesusastraan Indonesia Modern *

Agung Dwi Ertato **
http://agungdwiertato.blogspot.com

Kehadiran kesusastraan Indonesia saat ini tentu saja mempunyai kesejarahan yang begitu panjang. Boleh jadi kesejarahan tersebut berkaitan dengan banyak hal, semisal masalah sosial, politik, ide kebangsaan, kebahasaan, maupun bentuk formal kesusastraan itu sendiri. Tentu saja faktor-faktor tersebut memengaruhi jawaban menyoal kapan kesusastraan Indonesia atau lebih tepatnya kesusastraan Indonesia modern tersebut lahir.

Memaknai Keunikan Budaya dalam Sastra

Raudal Tanjung Banua
Riau Pos, 17 Maret 2013

SASTRA adalah dunia yang unik. ‘’Dunia jungkir balik,’’ kata Budi Darma. Justru keunikan itulah yang menjadi pertaruhan seorang sastrawan, tak mesti dalam bentuk, tapi lebih-lebih pada persfektif. Cara pandang pengarang yang unik akan sangat menentukan dunia yang dibangunnya, meskipun secara bentuk (struktur) biasa saja. Cerpen dan novel Kuntowijoyo bisa sebagai pintu masuk apa yang saya maksud. Secara bentuk karya Kuntowijoyo boleh dikatakan konvensional, namun prilaku dan pandangan tokoh-tokohnya berhasil mengusung sisi budaya (Jawa) yang inkonvensional. Yaitu, sisi budaya yang tidak gampang dimaknai, sebab meskipun terlihat sederhana, ia sesungguhnya sangat kompleks.

Maklumat Sastra dan Pendewasaan Sastrawan

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 17 Maret 2013

DUNIA sastra Indonesia semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat. Pengakuan terhadap sastrawan pun kian mewarnai perjalanan kesusastraan di Tanah Air.

Di era pascareformasi, penyair, cerpenis, hingga novelis anyar banyak bermunculan. Namun, hanya sebagian kecil yang sukses menghasilkan karya-karya yang mampu menembus batas negara hingga benua.

PUISI-PUISI YANG BERSELIMUT TEBAL

Ragdi F. Daye
harianhaluan.com, 27 Maret 2011

Sebagai karya sastra, puisi mengekspresikan pengalaman hidup manusia dan pemahaman­nya tentang kehidupan melalui bahasa yang estetis. Berbeda dengan prosa yang mempunyai peluang menyampaikan maksud dengan kapasitas ruang ekspresi yang cukup luas, puisi memadat­kan gagasan dalam tubuh yang ramping. Konsekuensinya, puisi perlu menyaring dan memilah kata-kata secara lebih ekstrem untuk menghantarkan maksud pengarangnya. Bahasa dalam puisi merupakan kristalisasi atas bahasa yang biasa digunakan dalam keseharian. Inilah yang menim­bulkan aspek estetika di dalam tubuh unik puisi.

Eksistensi Komunitas dan Masa Depan Sastra Lombok Timur

Fatih Kudus Jaelani
http://buletinkapas.wordpress.com/2012/03/07

Banyak yang menanyakan seberapa jauh kesiapan dan kemampuan komunitas sastra di Lombok Timur menunjukkan eksistensi dalam membina dan melahirkan nama-nama baru di dalamnya. Pertanyaan itupun lahir dari berbagai pihak yang merasa memiliki andil dan loyalitas tinggi terhadap eksistensinya masing-masing. Siapapun mereka, sebuah pertanyaan tentu berawal dari pemahaman yang timbul akibat proses membaca situasi dan kondisi perkembangan objek yang akan ditanyakannya.

SASTRA NUSANTARA ADALAH SASTRA KEPULAUAN

[Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]
JJ. Kusni
Jurnal Toddopuli, Nov 30, 2008

Les Insolindes, Insulinde, barangkali adalah istilah lain dari Nusantara yang menunjukkan kepada suatu kawasan yang terdiri dari berbagai pulau. Pengertian sempitnya, barangkali identik dengan wilayah yang sekarang menjadi wilayah negara Republik Indonesia dan budaya Melayu sehingga mencakup Malaysia Barat & Timur serta Brunei. Mungkin termasuk juga Filipina Selatan dan Muangthai Selatan serta Timor Leste.

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi