Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2012

Kabuki Terbukti (Kisah Cinta yang Akrobatik)

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

Tubuh hanyalah yang terbaik dari objek yang dimiliki,dimanipulasi, dipakai secara fisik.-Jean P. Baudrillard.

Adagium Freudian yang menyatakan bahwa “wanita menginginkan cinta, laki-laki menginginkan seks” agaknya sudah tidak berlaku lagi dalam masyarakat modern. Tubuh, mengalami suatu fase revolusioner dalam masyarakat modern jika dibandingkan periode sebelumnya. Berjalan seiring dengan ledakan seksual, tubuh mengalami transformasi makna sekaligus penampakan.

Sepeda "Onthel"

Sartika Dian Nuraini *
Bali Post, 2 Des 2012

Kita cukup kaget dan salut saat mengetahui banyak orang di Indonesia menekuni hobi bersepeda. Bersepeda pada akhirnya adalah implementasi keinginan yang memadukan banyak hal, antara lain olahraga, wisata, petualangan, identitas. Bersepeda di antara masyarakat yang kecanduan sepeda motor dan mobil mungkin saja kisah yang membutuhkan alasasan-alasan masuk akal.

OMONG-OMONG SASTRA : MEMPERTAHANKAN TRADISI SILATURAHMI DAN BERKARYA

M. Raudah Jambak
http://www.facebook.com/raudah.jambak/notes

Sastra tentu tak lepas dari ragam persoalan kehidupan manusia dengan segala tetek-bengeknya. Semua terpapar dengan filosofi dan citraannya. Kekayaan pengalaman referensial dan faktual yang dimiliki pengarang dapat mewarnai karya dengan ketajaman pena dan kedalaman makna yang dikandungnya. Sastra urban adalah kebangkitan sastrawan kebangsaan: sastra yang mampu memaknai kata dan menggetarkan kehidupan kemanusiaan. Sastra yang menyentuh dan bukan menyinggung: menghidupkan kembali ruh bangsa yang sekian lama belum terumuskan.

Gerakan Sastra Sumatera Merdeka

Afrion
Harian Analisa, 9 Des 2012

Tulisan T. Agus Khaidir di Rebana Analisa minggu, 2 Desember 2012, menyikapi gerakan Sastra Sumatera Merdeka, disebutkannya tidak cukup hanya berteriak merdeka. Itu artinya bahwa sebenarnya respon terhadap gerakan membendung dominasi Jakarta semakin menguat. Akan tetapi tentu saja, kita membutuhkan pula cara-cara yang sehat sesuai dengan koridor yang ada.

Sastra Lisan di benak Mochtar Lubis Sangat Kuat

Syarbaini
Harian Analisa, 18 Nov 2012

Pada saat Mochtar Lubis masih hidup, Sastra Hijau daerah belum begitu ditinggalkan. Sastrawan kondang pada zamannya sempat melakukan seminar dan penelitian di sebuah perpustakaan di negeri Belanda. Ternyata hasilnya cukup banyak mengagumi sastra Indonesia yang tersimpan di perpustakaan negara kincir angin itu. Hal ini disebabkan pada zaman penjajahan Belanda tempo doeloe kaum penjajah yang pulang ke negerinya, membawa oleh-oleh buku-buku sastra lisan asal Indonesia.

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi