Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

Padamu Negeri

Eko Hendri Saiful *
_Ponorogo Post  

Sejarah telah mencatat sebuah paham yang lahir dari keterbelakangan nurani zaman kolonialisme. Paham itulah yang membentuk paradigma masyarakat sebagai solusi atas penjajahan yang mengendap selama tiga ratus lima puluh tahun. Pada akhirnya mereka yang berjasa, setia dan  berani,  gugur oleh kekuatan paham itu. Hingga kini paham itu masih dimiliki sebagian masyarakat di negeri ini.

Kisah Peminggiran Masyarakat Desa

M. Harya Ramdhoni Julizarsyah *
Lampung Post, 6 Des 2009

“INDONESIA, di mana itu? Seperti sekelumit kisah di Sangir,” Gora mengerenyitkan dahi diikuti tawa Dagu. Mereka berdua tertawa bersama-sama. (Dyah Merta, 2007:189).

Peri Kecil di Sungai Nipah adalah sebuah kisah tentang orang-orang biasa dengan penghidupan yang sederhana. Namun, novel ini menjadi tidak biasa ketika penulisnya, Dyah Merta, sukses membangun alur yang menarik disertai perwatakan yang kuat dari setiap pelaku. Dyah Merta, penulis kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 21 Juli 1978. Ia sempat kuliah di FKIP Bahasa Indonesia Unila dan merupakan salah seorang dari 100 Tokoh Terkemuka Lampung versi Lampung Post.

Pram, Nobel, dan Lemahnya “PR” Kita

Nina Mussolini-Hansson *
http://www.kompas.co.id/

Kepergian sastrawan Pramoedya Ananta Toer jelas sebuah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai WNI yang menetap di Swedia, hati saya berbuih, terguncang bangga dan berharap setiap kali nama Pramoedya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra.

Jantung Hati

Danarto
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Anak laki-laki itu berlari kencang meninggalkan pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Udara sangat panas. Angin kencang. Angin berdebu. Keringat kota diperas habis-habisan. Matahari terbahak. Pelabuhan menjerit. Orang-orang pura-pura tak mendengar. Orang-orang tak mau tahu. Orang-orang sibuk dengan tas belanjaannya sendiri-sendiri. Ini Metropolis, Bung!

Sanktuari: Syarah atas Caping

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Stephen Hirtenstein, yang sangat mengagumi Ibn Arabi, menyebut pemikiran sebagai “tamu dari langit yang melintasi ladang hati”. Dalam hal ini, pemikiran tak cuma mengacu kepada proses otak, atau sesuatu yang dapat kita pikirkan, atau kita renungkan. Pemikiran mengindikasikan sesuatu yang muncul dari keheningan batin, setiap saat dalam diri kita, di dalam kesadaran batin kita.

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi