Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Puisi Doa sebagai Tes bagi Otentisitas

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Puisi pada dasarnya mengandung doa. Bahkan ada puisi doa. Jika kita bersua dengan puisi sejenis doa, maka jangan pernah menganggapnya remeh. Tak hanya puisi mantra yang baik, tapi puisi doa pun bisa sangat baik. Tapi soalnya adalah: tak banyak sajak doa yang baik di Indonesia. Padahal sajak berisi doa bisa digunakan untuk dipakai berdoa kepada Tuhan ketimbang doa-doa syariat yang selama ini sudah akrab digunakan.

Teater Dan Drama William Shakespeare

Elsya Crownia*
http://padang-today.com/

Dunia ibarat panggung sandiwara yang diwarnai dengan berbagai peran. Kehidupan begitu dramatis pun ikut diterjemahkan dalam dunia teater. Teater hanya sebagai alat penyampai untuk menuangkan kata-kata, jeritan, dan tangis manusia yang meringis. Dalam teater, kita dapat menemukan berbagai macam kritikan-kritikan pedas dan menuangkan seluruh realita kehidupan manusia.

N Y E K A R

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Ibu ingin nyekar. Keinginan itu disampaikannya berulang-ulang. Ibu ingin seperti umumnya warga di kampung kami. Bersiap jelang bulan suci Ramadhan dengan nyekar. Tradisi yang biasanya dirangkai dengan besik atau bersih-bersih makam itu diakhiri dengan berdoa, mendoakan arwah yang dikubur. Berikut moyang-moyang terdahulu. Ibu juga ingin kembali nyekar, lusa, usai sembahyang Ied di masjid kampung. Kebetulan, sarean atau pemakaman umum utama kampung kami terletak persis di samping masjid.

Untuk Sebuah Nama

Ramadhan Batubara
http://www.hariansumutpos.com/

Apalah arti sebuah nama kalimat yang dikeluarkan sastrawan Inggris zaman Elizabeth, pencipta Romeo and Juliet, Hamlet atau lainnya itu memang sangat populer. Benar-benar kalimat yang sangat kuat hingga menjadi sebuah kalimat penolong dari segala sesuatu yang kadang menjerat. Misalnya, nama kita yang jelek hingga untuk menolongnya kita keluarkan saja kalimat tersebut ketika menerima ejekan orang-orang, apalah arti sebuah nama, maka semuanya akan bisa dikatakan selesai. Yah, kalimat yang sakti bukan?

Tentang Syair dan Penyair

Hary B. Kori’un *
http://www.riaupos.co/

SUATU hari, sebuah surat masuk ke alamat e-mail redaktur. Seorang penyair muda –dia mengatakan dirinya baru belajar menulis sajak— mengirim beberapa sajak ke tubuh e-mail, tidak melalui file lampiran. Ada 4 sajak dan temanya seragam, tentang cinta yang kandas. Yang membedakan hanya kata dan bahasanya. Terjadi diskusi antara penyair kawan kita ini dengan redaktur. Dia bilang, sajak-sajak yang ditulisnya itu adalah ungkapan perasaannya yang sedang karam karena jalinan kisah cintanya kandas. Ketika ditanya mengapa mengirimkannya tidak pakai file lampiran dan sepertinya dia menulis keempat sajak itu hampir dalam waktu bersamaan, dia bilang, ketika membuka internet, pikirannya sudah penuh dengan sajak dan harus dituangkan dalam tulisan, untuk itu dia langsung menulis dan setelah selesai langsung mengirimkannya.

LELAKI BERSANDAR PADA ANGIN

Bambang kempling
http://sastra-indonesia.com/

Lorong menuju kamar itu, mengingatkannya pada kebisuan-kebisuan yang tidak sempat tertulis. Begitu banyak yang mendesak perlahan, termasuk pilihan-pilihan. Tetapi ada semacam kesadaran bahwa kata-kata yang menjelma begitu saja, tidak seharusnya berakhir sia-sia.

Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai… (1)

Marhalim Zaini *
http://www.riaupos.co/

Saya menulis esai ini dengan segenap rasa bahagia, karena orasi saya dalam helat Anugerah Sagang 2011 berjudul “Akulah Melayu yang Berlari, (Percakapan-percakapan yang Tak Selesai Tentang Ideologi dan Identitas Kultural),” yang dimuat di Riau Pos, 13 November 2011, direspon dengan amat referensial dan konstruktif oleh sahabat karib saya Syaukani Al Karim. Bertambah kebahagiaan saya itu, ketika Alvi Puspita turut serta menyambut orasi saya dan esai Syaukani tersebut, dengan esai berjudul “Apa yang Sebenar, Apa yang Mesti?” (Riau Pos, 25 Desember 2011).

Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai…(2)

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.co/

Putra Daerah dan Politik Identitas

Selepas berbicara tentang kacukan, dan memberi kesimpulan di akhir paragraf dengan kalimat, “Melayu, dengan demikian tak lagi soal tubuh, tapi lebih mengarah pada variabel dalaman,” Syaukani membahas pula tentang “identitas jasadi makhluk Riau.” Ia menyebut, “ketika provinsi Riau berdiri pada tahun 1957, juga telah dibuat rumusan tentang siapa putra daerah, yang memuat tiga ukuran, yaitu: yang beribu-bapak Melayu, atau salah satu dari orang tuanya Melayu, atau yang lahir di Riau meski kedua orangtuanya bukan Melayu.” Artinya, bukankah dengan begitu Syaukani, sekali lagi, sedang membantah pernyataannya sendiri?

(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

”Kalau ada sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka” (Abdurrahman Wahid, 2001)

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi