Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Waktu di Sayap Malaikat

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

Dari sekian banyak penyair yang menulis tentang waktu, hanya sedikit sajak yang sungguh-sungguh menghadirkan pergulatan tentang waktu.

KALAU Voltaire membayangkan waktu sebagai ukuran keabadian, sesuatu yang panjang, saya hendak menegaskan di sini: waktu dapat dijadikan bahan tes bagi autentisitas seseorang. Kalau dia penyair, keautentikan dirinya sebagai penyair akan terlihat ketika ia menggarap soal waktu. Autentik atau tidak puisi yang dihasilkannya, juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca ketika ia membicarakan soal waktu.

Salah satu penyair yang tak begitu dikenal, tapi telah menghasilkan buku kumpulan sajak yang unik dan bentuk yang menyempal, adalah Nurel Javissyarqi. Lewat analekta sajak bertajuk Kitab Para Malaikat (2007), Nurel menghadirkan tafsiran waktu dalam bingkai filsafat dan ajaran kebatinan Jawa yang tak mudah dicerna, tapi autentik dan kuat.

Dari segi bentuk, sajak-sajak Nurel cukup unik: setiap ujung larik sajaknya ditandai…

MENGENALI STRUKTUR PENULISAN AMIR HAMZAH, CHAIRIL ANWAR, DAN DIMAS ARIKA MIHARDJA

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Masih tentang pembicaraan licentia poetica dalam kaitannya dengan konvensional bahasa, pada kesempatan ini kita awali dengan kutipan pendapat dari Atmazaki (1993: 70-72) yang menulis; Ada tiga faktor yang menjadi penyebab licentia poetica digunakan oleh penyair, yaitu sebagai berikut: 1) Pada dasarnya penyair menyampaikan pengalaman puitiknya. Pengalaman puitik tersebut lebih banyak berhubungan dengan emosi dan intuisi daripada rasio, ilmu dan ilmiah; 2) Karena pengucapan puisi lebih pendek daripada pengucapan non puisi maka berbagai unsur yang menurut penyair mengganggu pengucapan puitiknya akan dihilangkan atau dibuang; 3) Sastrawan (penyair) adalah orang yang mampu menggunakan bahasa untuk tujuan tertentu.

Padamulanya Banyuwangi

Prosa ini untuk almarhum guruku, Hariwidjaja
Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

Oh umat manusia… hiruplah harum ranum risalah Muhammad yang mulia, saksikan wujud pancaran Allah Yang Ilahi. Oh umat manusia… ciumlah manisnya bibir lelaku budi pekerti yang membebaskan sesama, tersenyumlah tuk raih ajaran shalat yang terpuji, relakan hatimu pahami kisah cinta dalam prosa yang sunyi senyap tiada melenyap bahkan merasuki ruhul qudus, insan kamil cermin Sang Hyang Ilahi.

Oh umat manusia…kusaksikan pendeta mengaku mendapati dari seorang yang bertitah sang nabi, tertulis dalam kitab suci para sakti seberang jauh nusantara, mendekap erat batin perempuan suci, mengajar takbir yang menggetarkan gunung-gunung, ruku dan sujud yang membuat alam bersahaja, memuja puji dewa segala dewa hingga tiada daya upaya para bathara, melantun doa yang terijabah, menaruh harap yang menguatkan, mematri niat yang abadi, membimbing hidup berarti.

Oh umat manusia…kusaksikan ayah ibu tlah beradu belah kalbu …

Lelaki Penghias Kubur

Aguk Irawan MN*
Minggu Pagi, Juli 2011

TAK bisa dipungkiri, bagi banyak orang sejauh mata memandang, harta dan kehormatan itulah kebahagiaan. Orang mengejar mati-matian agar menjadi pejabat, tidak lebih tujuannya adalah demi itu. Menjadi pejabat, atau orang terhormat tanpa materi adalah semacam aib besar. Tetapi tidak pada seorang lelaki tua. Di keheningan pagi yang buta, ia seperti berkelakuan aneh, padahal orang seantero negeri ini tahu, kalau ia adalah lelaki terhormat dan kaya. Ia terliihat sedang membongkokan tubuhnya, membersihkan sebuah kuburan di halaman rumahnya, dan kuburan itu masih tanpa nisan, tanpa nama, tapi selalu saja terlihat seperti ada bekas siraman bunga mawar. Dan bau harumnya semerbak sampai ke jalan-jalan.

Ada yang aneh di kuburan itu, kalau dilihat dari seberang jalan ia nampak lapuk dan berlumut hitam, namun bila diperhatikan lebih lama kubur tersebut nampak eksotik dan bersih. Tanpa menghiraukan sesiapa yang sesekali mencuri pandang pada dirinya, lelaki tua …

Magi dari Timur

Sutardji Calzoum Bachri
Riau Pos, 08/09/2003

Jika para wali di langit tinggi
Jika para wali berarak di awan
Jika para wali menapak langit tinggi
Mari ikut bersama-sama.

(disarankan dinyanyikan seperti When the Saints Go Marching In)

BEGITULAH dia Pak Tua itu menyanyi dengan harmonika berjalan menapak-napak pantai. Sementara burung poididi, si raja udang, elang, gagakgulana, makadawaktu, murai dan lainnya meloncat-loncat girang dan bising dengan kicau lagu masing-masing, seakan tak peduli dengan irama nyanyi dan langkah loncat Pak Tua di pantai antara pasir dan bebatuan.

Angin pantai senja itu jinak. Tapi sejinak-jinaknya angin pantai, tetaplah dapat menyibak-nyibak perdu, ranting dan dedaunan berangan dan pelepah pepohonan kelapa kembar, mendesah dan menderu dalam gumam yang dalam. Maka engkau takkan dapat mendengar penuh nyanyi dan harmonika Pak Tua kalau kalian tak dapat masuk ke dalam dirinya.

Dalam diri Pak Tua ada ruang yang luas dan lapang yang dibuat dan dimuat oleh kejadian-ke…

Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga

Afrizal Malna*
Kompas, 13 Juli 2008

SELAMAT tinggal kedaerahan… Selamat tinggal lelaki dan perempuan…
Selamat tinggal ”nasionalisme sastra” yang terperangkap dalam masalah-masalahnya sendiri.

Kita bukan lagi suku-suku, kita adalah manusia. Kita bukan lagi lelaki dan perempuan, kita adalah manusia. Suatu hari nanti, dan kalau lebih bergegas lagi, sekarang juga: selamat tinggal tradisi, kalau globalisasi begitu mencemaskan kita. Dan kecemasan itu menjadi celaka ketika lewat tradisi, kita justru kembali lagi ke dalam bentuk kolonialisme baru manakala tradisi itu sendiri ternyata adalah hasil seleksi sejarah yang dilakukan kekuasaan kolonial, manakala tradisi itu telah jadi salah satu ikon dari struktur penindasan kolonial yang akar keberadaannya telah mengalami kosmetika.

Kita adalah generasi pasca-Indonesia, kata YB Mangunwijaya, yang sadar bahwa Indonesia adalah ikon pasca-kolonial justru dari hasil konstruksi sejarah kolonial. Dan nasionalisme kita lebih luas dari Indonesia itu sendi…

Arah Perkembangan Kritik (Kajian) Sastra

Aprinus Salam*
http://www.kr.co.id/

Beberapa kalangan menggelisahkan arah perkembangan kritik sastra. Kegelisahan tersebut antara lain disebabkan kritik sastra dianggap tidak mampu mengakomodasi perkembangan karya sastra. Kegelisahan itu juga disebabkan karena saat ini tidak ada kritikus sastra seberwibawa HB Jassin. Di samping itu, kritik sastra dianggap tidak mampu menjelaskan arah perkembangan karya sastra, yang kita tahu, akhir-akhir ini karya sastra terbit dengan cara yang cepat dan sangat beragam. Terdapat beberapa hal yang perlu diletakkan dalam porsi persoalan yang lebih pas. Pertama, apa yang sebenarnya terjadi dalam perkembangan studi-studi sastra. Kedua, mengapa kewibawaan kritik sastra model HB Jassin sekarang tidak berkembang. Ketiga, bagaimana studi sastra melihat arah perkembangan karya sastra.

Hingga tahun 1970-an, bahkan hingga tahun 1980-an, istilah dan konsep kritik sastra memang masih sangat populer. Istilah dan konsep itu dimaksudkan sebagai satu telaah yang berka…

BELAJAR MENULIS DARI LAN FANG

Sutejo
Ponorogo Pos

Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lan Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta.

Sitor Situmorang: Hanyut dalam Arus Waktu

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kebisuan adalah unsur vital dari setiap sajak. Pesan, komunikasi atau pengaruh batin yang ingin diwujudkan melalui puisi berwadah kebisuan. Lubuk hati dan rasa adalah dasar yang ingin dicapai dengan kata-kata puisi, dengan sarana bahasa. Kepekaan akan puisi adalah kepekaan akan kebisuan…
–SITOR SITUMORANG, 1978

Sitor adalah penyair Indonesia sesudah Chairil Anwar yang paling produktif menghasilkan sajak dengan pengucapan prosa yang khas. Setiap tahun sajak-sajaknya muncul bagaikan luncuran waktu yang tak terbendung. Pada awal 1950-an, mungkin hanya Sitor penyair Indonesia yang paling banyak menerbitkan puisi. Pada era ini, Sitor menyebut proses kreatifnya sebagai arus waktu yang bergemuruh dan bergaung, yang bagaikan “tanggul jebol yang tak mampu dibendung”.

Untuk meminjam perumpamaan dari Takdir Alisjahbana dalam konteks lain, Sitor juga ibarat pohon beringin dengan tunas yang tumbah rimbun dengan akar yang meruah ke pantai kesadaran kemaknaan di …

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi