Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Islam di Mata Dua Raja Jawa

Asep Sambodja
http://www.kompas.com/

Bagaimana kita membaca Wedhatama dan Wulangreh dalam konteks kekinian? Mungkin kita akan dengan mudah mengatakan bahwa pengarang Wedhatama, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunegoro IV terasa sinis saat membicarakan agama Islam. Sementara pengarang Wulangreh, yakni Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono IV terasa lebih bisa menerima ajaran agama Islam. Tapi, apakah sesederhana itu?

Kalau kita baca Wedhatama karya Mangkunegoro IV, yang diterjemahkan kembali oleh Fatchurrohman (Jakarta: WWS, 2003), terbaca bahwa Mangkunegoro IV memberi pelajaran kepada anak-anaknya bahwa sebaiknya yang dijadikan panutan itu Panembahan Senopati (Raja Mataram yang pertama) dan bukan Nabi Muhammad SAW.

Hal ini terbaca pada bagian berikut ini:
Nuladha laku utama, tumraping wong tanah Jawi, wong Agung ing Ngeksiganda, panembahan Senapati, kapati amarsudi, sudaning hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amemangun karyenak t…

Strategi Budaya Mencari Titik Temu Islam-Jawa

Mh Zaelani Tammaka
http://sajaroh.blogspot.com/

MASALAH toleransi tetaplah menjadi masalah yang senantiasa urgen bagi masyarakat yang pluralistis-khususnya dari segi agama-seperti di Indonesia. Bermacam upaya dilakukan untuk menangani masalah itu. Di antara upaya tersebut adalah mencari titik temu (kalimatus sawa) di antara agama-agama yang ada. Namun demikian, upaya mencari titik temu sering seperti terbentur tembok yang tebal ketika masing-masing pihak merasa superior di antara pihak yang lain. Di luar itu, problem yang menghadang adalah bahwa pencarian titik temu tersebut dikhawatirkan akan merusak otentisitas ajaran suatu agama. Inilah yang kemudian tercermin pada munculnya gerakan-gerakan pemurnian agama, khususnya di kalangan Islam. Karena itu, perlu dicarikan jalan keluar bagaimana bisa membangun suatu praktik keagamaan yang terbuka, egalitarian, namun tidak mengorbankan otentisitas suatu agama.

Di masa lalu, khususnya pada zaman kerajaan-kerajaan Islam pasca-Demak, masalah semaca…

Puisi-Puisi Ribut Wijoto

http://manuskripdody.blogspot.com/
SENGAJA AKU MENCINTAIMU

sengaja aku mencintaimu
lalu biarkan kukirim surat
seperti suratku yang tiada henti
mengalir ke tubuhmu

aku tak pernah menanti jawab
sebab aku belum selesai mengeja
bait bait sajak yang kautulis
tak juga sempat kutolak
sebab cinta adalah kesendirian

rindu aku jadi kekasihmu
sebab dari ada kuingin tiada

1996



DI PUCUK PUCUK

engkaukah itu
bening bergelantungan
di pucuk pucuk daun

dan akukah tuhan
tiap kali menyebut
namamu

1996



KABAR DARI PENGASINGAN

di paruh perjalanan
aku bertanya padamu
engkau kalijaga

sejarah merubah perahu
mencari cermin tanah
namun tanpa upacara
burung burung ketakutan

1996

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2010/10/puisi-puisi-ribut-wijoto.html

Puisi-Puisi Indiar Manggara

MENDUNG JULI

apakah kau masih tersenyum di sana?
dalam labirin sunyi
merajam cengkrama kita waktu itu
sementara di sini kembang setaman
telah menebal di dadamu
tercacah gerimis malam
kau jadikan selimutmu

apa kau masih kegelapan dalam rumah tuamu?
karena pualam-pualam telah rapuh
pada rumput-rumput liar yang acuh padamu

apa kau telah kehabisan salam
dari ribuan jejak tanpa nama
biar kugantikan dengan melodi kudus
yang kukirimkan seperti sajak putih
yang tereja dari tiga bibir dupa melati
bergincu bara, menari di bawah biru langit sebagai penafsir kata.

apa bulan masih tersenyum padamu?
apa matahari masih menyapamu?

ijinkan aku bermain ke rumah tuamu
sekedar membuka kembali cengkerama kita
waktu itu

20-23oktober ‘05



INTERLUDE RIEZKA

I
di senyap bilik senja aku bertapa
mencari gerimis di balik tirai mendung
meruntuhkan angsana-angsana kuning
berdansa seperti melodi kelam rambutmu

dimana kata-katamu yang kau kubur
dalam senyummu yang tak pernah tampak
tapi jangan kirimi aku fatamorgana itu
karena…

Cerita Lama dari Kami

Budi Saputra
http://www.lampungpost.com/

LENGANG, dan tak banyak yang dapat kami perbuat di sini. Sebuah rumah tua dengan arsitektur dan ornamen lama. Lukisan hitam putih para petani, dan patung harimau Sumatera yang setia menemani lenguh birahi kami di kamar pengap miskin cahaya. Di luar itu, hanyalah hamparan kesepian dan barisan makhluk hijau yang menatap kami setiap harinya. Bahwa selalu ada yang kami rasa datang menyusup di kala malam merayap. Dari kedalaman hutan rumbia yang lebat, selain kabar seorang gadis belia yang pernah diperkosa dan dibakar, juga bunyi-bunyi aneh yang kerap kami dengar dan merangkak menuju rumah kami di tengah malamnya.

Ya, selama bertahun-tahun memang seperti itulah. Sebuah masa yang berlari dari nyala lilin, dari sinar petromaks yang hanya menyala di kala malam. Usia yang terkungkung, terisolasi dari lalu lalang kemanusiaan. Anjing betina dan jantan yang kerap kami saksikan kawin pun, hanyalah percakapan konyol kami pada benda-benda yang tak bisa memberika…

Terompah Kyai

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya.

Menunggu Kereta

Renny Meita Widjajanti
http://www.suarakarya-online.com/

Dari sebuah rumah sakit lelaki itu keluar, meninggalkan ruangan VIP yang baru semalam di tempatinya. Dengan kakinya yang lemah, ia melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit, melewati pintu gerbang hingga tiba di tepi sebuah jalan yang padat lalu-lintas. Ia sendirian berdiri di trotoar, wajahnya terlihat pucat dengan bibir membiru, tatapan matanya menyiratkan kegelisahan. Lelaki itu terus mengarahkan pandangannya ke arah lalu-lintas yang hingar bingar. Ada yang sedang ia tunggu.

Sebuah mobil warna putih mendekat dan berhenti tepat di sampingnya. Ia pun bergegas masuk lewat pintu yang telah dibukakan dari dalam. Kemudian mobil itu melaju menembus padatnya lalu-lintas. Selama di perjalanan batin lelaki itu terus berbisik: “Aku harus secepatnya sampai stasiun sebelum hari gelap. Sebelum malam mengepakkan sayap-sayap hitamnya. Aku tak ingin ketinggalan kereta.” Ia harus berangkat sore ini.

Matahari perlahan beranjak ke peraduan, burun…

Pesta Kawin

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Tanjung Dungkak, adalah kota kecil dari sekian puluh kota yang pernah aku singgahi. Dibanding Tanjung Benoa Bali, kota ini tak sekedar jauh wilayah teritorialnya, melainkan jauh pula tingkat peradapannya. Kawasan sunyi dari lalu lalang menusia, minim gedung mewah, tak ada kendaraan transportasi dan dunia gemerlap. Keadaan ini berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Tanjung Benoa Bali yang tak sepi turis manca negara silih berganti menyinggahi.

Hingga kini aku tak pernah mempertanyakan, apakah hidup di rantau adalah takdir yang aku pesan. Yang aku tau adalah saat kepala bagian kontraktor CV tempatku bekerja menelphon, mengabari perpindahan tempatku selanjutnya setelah libur beberapa minggu.

Kerjaku memang berganti wilayah. Sekali berangkat, tak akan pulang hingga garapan usai. Jarak kepulanganku yang paling pendek sekitar enam bulan, selebihnya hingga empat tahun. Bahkan kepulangan terakhirku, seorang anak kecil yang baru jalan terantana…

DARI DAN KE …

Bambang Kempling *
http://sastra-indonesia.com/

Mimpi masih berlanjut setelah itu.

Suatu perbincangan pada suatu sore masih saja mengiang di telinganya sepanjang hari yang dilalui kini. Apakah hal yang tampak selalu di depan mata, telah menjelmakan racun pada setiap lembut udara yang dihirupnya? Ataukah semacam tabir bagi kebanggaan jalan yang pernah dilalui?

Sore itu, selesai rintik hujan dan di barat matahari kuning keemasan hampir terhimpit di antara gedung-gedung tua tertiraikan pohon-pohon akasia, ketika sepasang kekasih duduk berhadapan di bawah tiang bendera yang menjulang di tengah lapangan rumput, ketika dia dan seorang temannya melintas di antara mereka tanpa begitu peduli, ketika mereka lalu menyapa,

“Hallo!!”

Ketika sapaan itu tak ada sahutan sama sekali. Ketika sang perempuan menyebulkan senyum kecil yang manis sekali, lalu bertanya pada sang kekasih:

“Kemana mereka?”

“Entah!” jawab sang kekasih.

Di perempatan jalan mereka berhenti, ketika seorang pengendara motor melambaikan tang…

Dharmadi: Ketika Sajak Kembali Menjejak

Abdul Aziz Rasjid
Kedaulatan Rakyat, 14 Des 2008

Empat tahun sesudah terbitan Aku Mengunyah Cahaya Bulan, muncullah sekarang: Dharmadi, kumpulan puisi Jejak Sajak (diterbitkan Kancah Budaya Merdeka: Purwokerto. 2008). Sebagian sajak-sajak yang termuat didalamnya tak dapat dikatakan muda, sebab ditulis dari rentang waktu 1994-2000, dan sebagian memang dapat dikatakan baru, sebab ditulis dari rentang waktu 2006-2007.

Membaca Jejak Sajak, secara umum mendapati jeritan jiwa Dharmadi sebagai penyair, khususnya keresahannya terhadap keadaan zaman. Jeritan itu semakin menguat, karena ia meyakini, bahwa zaman hari ini penuh kejanggalan juga kemuraman.

Kejanggalan dan kemuraman adalah situasi kengerian. Sebuah suasana yang melahirkan kecemasan. Sebuah suasana yang melahirkan kecemasan. Namun, tidak seperti kecemasan normal hanya melanda seseorang akibat harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kejanggalan dan kemuraman yang disuguhkan Dharmadi timbul secara massal.

Akibat dari hadirnya kepercayaan be…

Karya di Tengah Silang Sengkarut

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 29 Des 2007

SEBUAH obrolan selepas di depan Taman Budaya Kalimantan Timur seusai Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin, 26 Oktober 2007 yang lalu.

Di situ ada Saut Situmorang, Isbedy Stiawan Z.S., Ari Pahala Hutabarat, Oyos Saroso HN, dan cerpenis Trianto Triwikromo. Hanya sebuah obrolan santai sambil saling berseloroh. Tapi tiba-tiba suasana menjadi serius dan panas. Dan itu dimulai dengan pertanyaan Saut yang ditujukan pada Isbedy dan Ari Pahala, “Bagaimana, enak diundang TUK?” Pertanyaan itu awalnya diladeni Isbedy dan Ari Pahala dengan gurauan dan sindiran. Akan tetapi, kemudian lama-kelamaan suasana jadi tambah panas. Saut terus berbusa-busa menerangkan sejumlah hal dan sikapnya yang cenderung menyerang komunitas Teater Utan Kayu (TUK). Ketika Isbedy, Ari Pahala, Trianto, dan Oyos dianggapnya membela TUK, tiba-tiba telontarlah makian Saut, “Ah! Kalian semua tahi kucing! Bela-bela TUK!”

Kejadian itu hanyalah bagian kecil dari riuh-rendahnya silang sengka…

Memaknai Sastra Religius dari Pesantren

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Dewasa ini, secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis. Salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan.

Maka, bertambahlah ‘spesies’ baru, genre baru ke dalam khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).

Sebagaimana kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos).

Mayoritas begitu kenta…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi