Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Bayang-Bayang Wajah

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Kabut pagi belum mengering. Padahal sinar matahari sudah mulai menghangatkan tubuh. Tapi toh begitu, bening air telaga sudah mulai menguap tersengat oleh hangat sinarnya. Kumparan waktu menyeretku berkeliling di tepian telaga. Riak-riak kecil menggiring ikan-ikan berkecipak di permukaannya. Sebatang pohon mangga menyapaku saat aku duduk di bawahnya. Daun kuningnya membelai wajahku yang muram memikirkan lembaran hari yang tiada menentu.

MENGUAK JENDELA KEPENULISAN DJENAR MAESA AYU

Sutejo
Ponorogo Pos

Djenar Maesa Ayu, adalah sastrawan perempuan mutakhir yang tidak pernah ambil pusing dengan berbagai sebutan. Sebutan yang mengganggu sebagian perempuan itu adalah sastrawangi. Dalam Prosa4, 2004) terungkap bagaimana sisip-sisi proses kreatifnya yang menarik untuk dikritisi sebagai cermin ajar. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa surat kabar dan majalah seperti: Kompas, Media Indonesia, Republika, Lampung Post, Horison, dan Majalah A+.

Mbah Danu

Nugroho Notosusanto
http://sastra-indonesia.com/

Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu “didiami” oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu.

Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang me…

Tidakkah Homofictus Itu Engkau, Tuan?

Kesan Pembacaan Tangan Untuk Utik—Bamby Cahyadi
Pringadi AS*
http://reinvandiritto.blogspot.com/

#1
Penyair adalah pencuri. Penyair adalah pemburu. Begitu dua pernyataan yang begitu saya ingat dari kedua ‘guru’ saya, TS Pinang dan Hasan Aspahani. Penyair mencuri kejadian, mencuri fakta, bahkan mencuri frase dari lingkungannya. Dalam menuliskannya, penyair jua pemburu, yang mengincar sesuatu untuk ditembaki, bila perlu sampai mati. Tak jauh berbeda sebenarnya, seorang cerpenis pun seperti itu. Yang membedakannya adalah cerpenis memiliki ruang lebih untuk berburu. Ia jauh lebih tidak terpancing untuk terburu-buru. Ia bisa meneliti ruang terlebih dahulu, mengasah alat burunya hingga tajam, atau bahkan sengaja tidak ditajamkan, agar buruannya mati pelan-pelan, tersiksa pelan-pelan. Begitu pun Bamby Cahyadi. Ia adalah seorang pemburu, yang bisa saya katakan tenang. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik senyum manisnya itu, ia juga cukup kejam. Ia juga cukup berani dalam mengambil tindakan un…

Dua Kota Dua Kepala

Deddy Arsya
http://www.harianhaluan.com/

Pernahkah kau mendengar sebuah lagu, atau beberapa lagu, dengan begitu banyak nama kota disebutkan di dalamnya? Ketika lirik-lirik dalam lagu itu dibuat, kota-kota itu masih berupa dusun-dusun kecil dengan orang-orang yang saling mengenal satu sama lain. Dan kini, ketika kau mendengar nyanyian itu (secara kebetulan atau sengaja kau menca­rinya di toko-toko kaset di kota-kota kami, kota-kota yang menjual nyanyian yang mencatat dirinya sendiri) maka dusun-dusun itu telah menjadi kota yang ganjil, kota besar atau kota kecil, atau di antaranya?

Kota dalam dendang, kota kecil dalam nyanyian, kota di daratan!

Pernahkah kau mendengar begitu banyak nama kota disebutkan dalam sebuah nyanyian, sebuah nyanyian saja? Kota-kota itu, dua di antaranya akan kuceritakan.

Kota Pertama

Kota yang kini masih menyim­pan gema derit rantai di kaki-kaki pekerja tambang. Kota hitam arang, hitam batubara. Lubang-lubang tambang itu, masihkah ada kira-kira? Atau kereta yang memb…

Tentang Sajak Dody Kristianto

Eva Dwi Kurniawan
http://sastra-indonesia.com/

Dody Kristianto, nama yang kini menjadi perhatian saya. Seorang sarjana sastra.
Sudah lama saya memendam sebuah rasa yang aneh. Rasa yang tersamar-samar mengatakan bahwa kawan saya itu, Dody, akan menjadi seorang penyair baik. Penyair yang resah dengan bahasa dan selalu menemukan kegagalan dalam menyusunnya. Sebab, yang namanaya sajak, tidak akan pernah berhasil diciptakan. keberhasilannya ialah ketika sajak itu dirasakan gagal. Dan sebab gagal itulah, usaha untuk menyusunnya kembali, dilakukan. Dan sudah pasti, akan terjadi kegagalan lagi. Begitulah, serupa kutukan Zeus kepada Syisipus.

Kegagalan-kegagalan itulah yang terus disampaikannya melalui puisi. Dody, tetap menulis puisi. Ia selalu berusaha menulis, meskipun, saya yakin, apa yang ditulisnya itu masih belum membuat dirinya puas. Selalu saja dia resah ketika sajaknya selesai ditulis, terlebih jika dimuat disurat kabar.

Masih saya ingat ketika ketika beberapa puisinya gagal dimuat di med…

FENOMENA KANTONG-KANTONG SASTRA

Gunoto Saparie
Harian Wawasan, 16 Juni 2010.

Menjelang Temu Sastrawan Jawa Tengah 2010 yang diadakan DKJT 19 Juni mendatang, saya teringat pernyataan Korrie Layun Rampan, yang mengatakan bahwa Jawa Tengah merupakan penyumbang terbesar para penyair dan sajak-sajak (puisi). Dalam Antologi Puisi Jawa Tengah , tercatat 47 penyair dengan 118 puisi. Selain itu, beberapa penerbitan lainnya seperti antologi puisi Kicau Kepodang (I-III), Menara, Menoreh, Serayu , dan lain-lain, menunjukkan bahwa Jawa Tengah menyimpan banyak penyair. Kota-kota seperti Solo, Magelang, Temanggung, Purworejo, Purwokerto, Tegal, Banjarnegara, Purbalingga, Semarang, Kudus, Jepara, Pati, Batang, dan Pekalongan, ternyata memiliki potensi kesuastraan yang tidak dapat diabaikan.

Para sastrawan dan penyair itu terwadahi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya sering begitu informal, tidak seperti organisasi kemasyarakatan pada umumnya. Para anggota komunitas-komunitas tersebut sangat beragam, dengan berbagai latar belakang …

SASTRA KENDARI

Syaifuddin Gani
http://komunitassastra.wordpress.com/

Pintu Kesilaman

Sastra Kendari sudah lebih maju dari segi kuantitas, juga kualitas dibanding ketika pertama kali saya mengenalnya sejak tahun 1997 ketika tiba di Kendari. Selain soal karya, kemajuan itu juga sangat nyata pada orang atau penulis yang melahirkan karya itu. Dan mereka, para generasi terkini itu, berusia muda dan menampakkan semangat mencipta dengan penuh kegembiraan.

Saya tiba di Kendari tahun 1997 lalu masuk di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Unhalu, dan kemudian tahun 1998 bergabung dengan Teater Sendiri (TS). Di sanggar inilah saya membaca antologi puisi Dengung karya para penyair Kendari saat itu, antara lain Achmad Zain, Ahid Hidayat, Munawar Jibran, L.M Saleh Hanan, Arrasyidi Budiman, La Ode Djagur Bolu, Edy Zul, dan Jusdiman. Di kemudian hari, hanya beberapa orang saja yang intens menulis dan mengikuti perkembangan puisi tanah air. Di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, saya membaca Majalah Semiotika yang d…

Mendobrak Kebuntuan Sastra

Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

Mereka yang sedang tumbuh, muncul dari kampus dan komunitas-komunitas sastra. Gerakan mereka memang tidak seagresif para penggiat sastra Jawa Timur era tahun 1980-1990-an yang getol ‘melancarkan serangan’ ke daerah-daerah di Jawa Timur dan luar Jawa Timur.

Komunikasi antar penyair antar kota dan provinsipun tergolong cukup intensif dilakukan oleh penggiat sastra 1990-an. Bahkan isu revitalisasi sastra pun lahir akibat dari komunikasi intensif antar penyair dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan isu itu sempat menggetarkan wacana sastra di Indonesia.

Kini generasi baru lahir kembali. Mereka hidup dengan caranya sendiri. Komunitas adalah ruang eksplorasi dan ekspresi sastrawan muda yang muncul akhir-akhir ini. Biro sastra Dewan Kesenian Surabaya (DKS), merespon kondisi ini dengan membuat ruang apresiasi yang diberi tajuk Halte Sastra.

Sekretaris DKS Hanif Nasrullah mengharapkan adanya sebuah wadah sebagai ‘halte’ bagi para sastrawan muda unt…

Liar, Nakal dan Penuh Cinta

Salamet Wahedi *
Jawa Pos, 6 Maret 2011

Dalam sejarah sastra Indonesia, pengarang yang menulis berbagai genre bisa dihitung dengan jari. Bahkan, kalau pun ada, itu hanya sekadar metamorfosa pencarian, atau pelarian di tengah kebosanan proses. Dengan kata lain, seorang pengarang selalu identik dengan satu genre. Misal Sutardji Calzoum Bahri, sefantastis apa pun dia menulis karya selain puisi, semisal cerpen, tetap dikatakan penyair yang menulis cerpen. Atau Sapardi Djoko Damono ketika menghadirkan kumpulan cerpen “Orang Gila”, tidak serta merta mendapatkan label cerpenis. Dia tetap diidentikkan dengan penyair yang melakukan petualangan estetika di negeri lain.

Lalu apa yang menyebabkan label cerpenis atau penyair tak bisa disandang sekaligus? Dalam realitasnya, ambillah Sapardi Djoko Damono, dalam membangun struktur karya prosanya (:cerpen) tak jauh beda dangan puisinya. Kekuatan cerita, yang semestinya menampilkan karakter tokoh, penokohan, plot, yang kuat untuk membedakannya dengan puis…

BELAJAR SASTRA LOKAL ALA SAIPI ANGIN

[Dari Sabrank Suparno, Fikri. MS sampai Wong Wing King]
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Sudah beberapa hari ini aku berada di Jombang, padahal rencananya paling banter dua atau tiga hari. Beginilah keadaanku kala berkelana, seperti udara diterbangkan angin kemana saja sesukanya, tiada lebih diriku sewaktu di rumah. Kubebaskan alam fikiran-kalbu mengikuti arus tak terlihat, ricikan ombak kehidupan berjuta jumlah, setiap partikel terkecil menentukan aura. Daun-daun, burung-burung, segerombolan awan bertumpuk-tumpuk kadang menipis sesuai tarian bayu berdendang, berdentaman ke dalam jiwa.

Mungkin kesukaanku pada dua perkara; membaca, selanjutnya menulis; menyimak buku, peredaran alam, gerak hayati, lajuan tumbuh pula kelayuan. Semua itu kurasai sebadan bersandar ketenangan, belajar menggali ikhwal ribuan makna, membongkar batu-batu cadas pengertian. Aku jadi teringat para ibu pemukul batu-batu di Gunung Kidul, penjual kerupuk berjalan kaki, pedagang almari dengan pikulan kayu, …

Puisi-Puisi Afrizal Malna

Kompas, 13 Juni 2010
Stasiun Terakhir
Untuk Slamet Gundono

Aku hanya gombal yang tergeletak di lantai 230 kg namaku. Nama yang setengahnya terbuat dari air mata dan azan subuh. Gombal yang bisa tertawa dan bernyanyi dari hidupku sendiri. Gombal dari tembang-tembang pesisiran yang membuatku bisa tertawa bersama Tuhan. Melihat surga dari orang-orang yang bertanya, kenapa ada gema kesunyian ketika aku berdiri dan menggapai semua yang buta di sekitarku, kenapa aku bertanya seperti tidak mengatakan apapun.

30 hari aku lupa caranya tidur. Dinding-dinding mulai berbicara, membuat gravitasi terbalik antara tubuhku dan malam yang tersisa pada jam 11 siang. Seluruh dunia datang dan berebut masuk ke dalam telingaku. Aku tarik rem kereta api, berderit, besi berjalan itu berhenti mendadak, berderit, seperti besi besar membentur stasiun terakhir. Aku muntahkan tubuhku bersama dengan suara-suara yang ingin mendapatkan nama dari kerinduan.

Aku hidup bersama Bisma yang berjalan dengan 1000 panah di punggun…

Puisi-Puisi Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Tentang Kau Malam Ini

Sukmaku masuk ke dalam bening matamu
malam ini

Bibir merah mudamu menggoda
Membuatku merayu seorang diri
Berfantasi ke segala arah

Ada gejolak yang menggelegak mendahului
perjalanan ini
Kau kian sempurna gadisku

Aku yang tengadah ke muka alam
Mengharap mimpi yang kupesan.
Sudah sekian lama,
Sudah sekian lama
Sejak kutahu kau pandai menari

Sungguh
Tak bisa kunyanahkan percakapan denganmu gadisku
Engkau telah memabukkanku

Sungguh.
Engkau telah menarik perumpamaan bagiku
Dalam sekejap langkah
Goyahlah sukmaku jadinya
Mendapati engkau yang manja
Kepadaku

Ah…, aku suka.

Saat ada yang menggodamu
Aku gairah dan sempurna
Karna senyummu malu-malu
Kau bagaikan kupu-kupu merah
Yang terbang hinggap di kembang kertas

Oh… aku geram menatapmu gadisku.

Malam ini
Kau merajuk resah padaku
Aku biasa saja, berpura-pura
Tak peduli sambil mencuri dan mengharap
Lagi… dan lagi

Risaumu berjelaga lalu mengkristal
Menjadi rayu untukmu jua
Bahwa aku memang memanjakanmu

Sungguh
Tentang kau malam ini
Sen…

Riwayat

Wiji Thukul
- untuk r

sungai ini merah dulu airnya
oleh genangan darah
kakek nenek kami

sungai ini berbuncah dulu
oleh perlawanan
disambut letusan peluru

bangkai-bangkai mengapung
hanyut dibawa arus ke hilir
bangkai kakek nenek kami

bangkai-bangkai jepang mengambang
dibabat parang kakek nenek kami

demi hutan tanah air
ibu bumi kami
gagah berani
kakek nenek kami
menyerahkan riwayatnya
pada batang-batang pohon
sebesar seratus dekapan
pada sampan-sampan lincah
dari hulu ke hilir
memburu dada penjajah

bukan siapa-siapa
kakek nenek kamilah
yang merebut tanah air
tanyakan kepada yang mampu membaca
tanyakan kepada yang tak pura-pura buta
siapa

sekarang
saat aku berdiri di tepi sungai
yang mahaluas ini
kusaksikan hutan-hutan roboh
dan kayu-kayu gelondong berkapal-kapal itu
akan diangkut kemana
siapa punya

riwayat kita pahit di mulut
getir diucap buram di mata
akankah berhenti riwayat sampai di sini

1997

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=270323872992426&set=at.258429280848552.72283.158632180828263.1355886977&typ…

Pembelaan Hawa

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Namaku Hawa alias Eva,
boleh juga kaupanggil aku Eve
bila memang kau penutur bahasa Inggris
kalian mengenalku karena akulah ibu pertama
dari rahimku dan gua-garba kaumkulah kalian berasal
tapi dalam asuhan patriarki
anakku lanang menjelma si malin kundang
yang menghujat ibunya sendiri
kalian tak mendalam memahami kitabsuci1
dan percaya begitu saja pada dongeng yahudi tua
yang diselundupkan ke dalamnya
bahwa aku tercipta dari tulang rusuk Adam
bukan dari citra Allah seperti Adam tercipta2
kalian tak sungguh mendalami khasanah hadis
menyebut hadis israiliyat yang palsu sebagai sahih3
bahwa aku — lagi-lagi — tercipta dari tulang rusuk lelaki
bahkan bukan tulang rusuk pilihan
tapi justru yang paling bengkok
yang mudah patah
demi menyebut diriku dan kaumku lemah
padahal dalam kitabsuci yang furqan
aku dan Adam tercipta dari nafs wahidah4
artinya tanah yang ditiupkan ruh Allah.

tiba di sini masihkah kalian percaya
pada dongeng yahudi tua
yang menodai kitabsuci dan hadis

Belajarlah Menjaga Lidahmu Abdiku

Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/

Saat ini kami tak mau gegabah
bahkan pada perih
yang menyelinap diam-diam
serupa guratan sejarah
yang di bungkam

Sebab telah kembali
kau hujamkan belati
ke dada kami
berulang kali
mengalirkan darah kebencian
di jiwa-jiwa kami

Lidahmu terlalu pedang
yang senantiasa mampu
membunuh rasa hormat
kami padamu
kami meletakkan kepala
di kaki-kaki kami
bukan untuk kalian
injak semaunya

dan perih ini tak akan
kami biarkan

Kami ingin bercanda denganmu
tanpa janji-janji yang membongkar
busuknya
kami memilih di titik hening
sambil menuntaskan teriakkan
yang tertinggal di kotamu

Saat ini kami tidak ingin ceroboh
bahkan pada jalan setapak
menuju gubug tua yang
nyaris roboh
sebab disanalah tersimpan
air mata rahasia
menjadi misteri yang melilit
kepongahan masa depan

Jangan lagi kau usik kami
sebab kami lebih nyaman
di bawah pohon rindang
dengan kaki pincang.

Nb: kalau kalian masih ngeyel saja
mari kita berperkara sebab
bukan dikening manusia lain
kami meludah tapi disinilah.

________
* Puisi ini lahir atas…

Pataba Sedot Pembaca Dunia

Rosidi
http://suaramerdeka.com/

LETAKNYA di ujung Jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora. Rindangnya pepohonan dan tanaman lain di halaman rumah berukuran 350 meter persegi itu, seakan tak menyiratkan bahwa di dalamnya terdapat sebuah ruang untuk menyimpan mutiara pengetahuan yang ikut memberi citra positif bagi kabupaten paling timur di Jawa Tengah tersebut di mata dunia.

Pataba. Demikian nama perpustakaan yang didirikan oleh Soesilo Toer, adik kandung sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang telah memaksa para cendekiawan asing untuk menghormati karya sastra anak bangsa ini. Sebagaimana Pram (sapaan Pramoedya Ananta Toer) yang namanya sangat dikenal oleh sastrawan dunia, pun dengan Pataba.

Perpustakaan yang salah satunya melahirkan Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Pasang Surut ini juga tidak cuma didatangi pengunjung di daerahnya, tetapi datang dari berbagai wilayah di kepulauan nusantara. ‘’Banyak juga pengunjung yang datang dari luar negeri,’’ ujar Soesilo Toer kepada Suara Merdeka, Kamis (…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi