Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Sastra di Titik Persilangan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Memimpikan kata ‘perubahan’ di Indonesia, sama halnya mengidamkan hadirnya sebuah revolusi. Tentu banyak pilihan di dalamnya untuk berkiblat, ada revolusi yang berdarah-darah (simak detik-detik terhangat revolusi Mesir), ada pula revolusi ‘aman saja’ (sluman, slumun, slamet yang terjadi di Iran). Revolusi sesungguhnya bermakna membongkar keburukan ‘kita’secara menyeluruh dari berbagai segi.

Setiaknya ada dua syarat yang bisa menyebabkan terjadinya revolusi menurut pakar politik DR. Ruslan Abdul Gani. Pertama: Tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap hukum, hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kedua: Terjadinya gab, kesenjangan yang akut antar dua kubu. Revolusi adalah hasil perkalian dua syarat tersebut.

Kilas tahun 80-an, ketika Indonesia ingin menyamai Malaysia dengan pendapatan 2000 dolar/kapita/tahun, Polandia sudah mencapai 20.000 dolar/kapita/tahun.,Artinya secara perekonomian Polandia berada pada taraf kemapanan, namun karena…

Sastra dan Dunia Wayang

Puji Santosa
http://sastra-indonesia.com/

Banyak pandangan dari para kritisi Barat bahwa memahami masyarakat Indonesia masa kini tidak terlepas dari warisan budaya tradisionalnya. Sebab warisan budaya tradisional tersebut telah mengondisikan keadaan sekarang yang mengajari bagaimana cara meramu penerimaan suatu gagasan dari luar, baik pengaruh dari dunia Barat maupun dunia Timur yang lain, seperti Arab, Persia, dan India. Budaya tradisional itu telah memberi pembelajaran yang sangat berharga bagi kelangsungan hidup kita kini. Salah satu warisan budaya tradisional tersebut adalah wayang.

Menurut Kabin (dalam Anderson, 2008:vi) “wayang adalah pentas bayang-bayang Jawa yang didasarkan pada adaptasi dan pengembangan tema-tema dan babak-babak utama dalam Ramayana dan Mahabharata”. Di luar daerah asal-usulnya, India, kisah Ramayana dan Mahabharata memiliki banyak versi atau saduran dengan kreasi baru seperti di Jawa ada Kakawin Ramayana (berbahasa Jawa Kuno), Serat Rama (gubahan Yasadipura I d…

Mamanda dan Eksistensi Bahasa Banjar

Mahmud Jauhari Ali
dimuat di Sinar Kalimantan

Secara administratif, wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Banjarmasin sebagai ibukotanya, terletak di bagian tenggara pulau Kalimantan dengan batas-batas, yakni sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur, sebelah selatan dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Selat Makasar, dan sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah (Sam’ani dkk, 2005:7). Provinsi ini mayoritas didiami oleh masyarakat dari suku Banjar. Hal inilah yang menyebabkan bahasa yang dipakai dalam masyarakat pada umumnya di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar. Memang akan kita temukan pemakaian bahasa selain bahasa Banjar di Provinsi Kalaimantan Selatan, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Dusun Deyah, bahasa Ma’anyan, dan bahasa Dayak Meratus. Akan tetapi, pemakaian bahasa-bahasa selain bahasa Banjar tersebut dipakai dalam kelompok masing-masing suku yang bersangkutan.

Sebagai contoh, bahasa Bakumpai dipakai oleh masyarakat suku Bakumpai atau bahasa Ma’an…

Potret Ponorogo dalam Tembang Tolak Bala

A. Zakky Zulhazmi
Ponorogo Pos, 24 Juli 2011

Pada awal Mei 2011 Han Gagas meluncurkan sebuah novel bertajuk Tembang Tolak Bala (LKiS, Jogja). Sebuah novel yang menceritakan secara lugas dan cerdas tentang Ponorogo. Kehadiran novel ini merupakan sebuah angin sejuk di tengah musim kamarau. Mengatakan perkembangan novel Indonesia akhir-akhir ini sebagai sebuah musim kemarau rasanya tidak berlebihan. Pasalnya sudah beberapa tahun ini kita senantiasa disuguhi novel dengan tema-tema yang itu-itu saja. Bahkan Han Gagas menulis di awal Pengantar Penulis, sebagai berikut: saya menulis pengantar ini ketika dunia kita sedang mengalami yang namanya mabuk novel ‘Ingin Maju Harus ke Luar Negeri”.

Han Gagas sendiri adalah seorang lelaki kelahiran Ponorogo, 21 Oktober 1977. Setelah menamatkan studi di SMAN 2 Ponorogo Han Gagas melanjutkan ke Geodesi UGM. Karyanya, terutama cerpen telah banyak dimuat di koran lokal maupun nasional. Sebelumnya ia juga pernah menerbitkan buku Sang Penjelajah Dunia (Republi…

Puisi-Puisi Fina Sato

http://sastra-indonesia.com/
Mungkin Aku Lupa Menghitung Kisah
: buat Rosadi

mungkin aku lupa menghitung kisah
menjadi sejarah pada awal perjalananmu
aku mengiris sungai dan batubatu hitam
yang semaikan suka duka pada akhir
malam sesak kelam

“hujan pun mengantarkan kepulanganmu
dalam kamar gelisahku,” sapamu sesaat
ketika malam merayap gigir di ujung jalan
yang laju tembus halimun pada gelap jalan berbatu
tapi matahari lindapkan kisah pada
lelaki dan segurit puisi

ada sebaris kenangan kausulam
pada punggung kesunyian akhir cerita
pun selayar pesan pejalan yang berangkat
pagi buta kepergiaan
bahkan tak ada janji pertemuan pada episode
tak sempat ditamatkan
waktu kelak bersumpah memberi ruang
untukmu menyapa perempuan yang sampai
di persimpangan

“titipkan sebait puisi untukku,” katamu
embun makin bekukan ujung jarijariku
memahat lekuk kata pada telapak tanganmu

kini aku hanya mampu mengenang
kisah malam lelaki kesah di persimpangan
semusim di rahim kotamu
purnama tak lagi telanjang

saat kepulangan di teras rumah,
huj…

Sajak-Sajak Alex R. Nainggolan

http://www.lampungpost.com/
Buat Anwar

aku ingin berdoa sepertimu
mengetuk di pintu-Nya
mungkin akan terbuka
menampung segala keluh
yang berkerumun di tubuh
tapi dari sudut mata tirusmu
sajak-sajak mengelupas
mengabarkan dunia yang luas
seperti telur menetas
anwar, jika suatu waktu aku sua
apa yang mesti kutanyakan?
ehm, mungkin tanpa bertanya saja
paling enaknya kita surfing
diksi saja di internet
atau mengapungkan tenung waktu
di kafe, dengan beberapa lagu
sekaligus cemilan juga capuccino
“aku ingin berdoa,” ucapmu lirih
“buat siapa? di kafe ini?” kejarku
“puisi yang telah lama pergi dan mati,”
hampir suaramu tak terdengar

Jakarta, 2010



Menempuh Nuh

sementara kapal nuh sudah lapuk
tenggelam di laut
namun engkau masih saja menunggu
dengan wajah kerut
atau rindu yang semaput
segala yang penuh kabut
dan banjir bandang
gelisah bertandang
mungkin engkau bimbang
dengan apa mesti menempuh nuh
sebab ia terasa perkasa
memahami bencana
engkau terus saja menempuh
ke ujung laut
yang jauh

Jakarta, 2010



Suatu Waktu

suatu waktu, entah di …

Puisi-Puisi Noval Jubbek

http://oase.kompas.com/
apel merah

air mata jatuh pada lembar-lembar daun kaki telanjang menapaki subuh yang diam di pinggir kali dengan asa tenggelam semata kaki riak mengetuk gendang batu dengan japitan ketam ada puisi yang dinyanyikan daun kering sebelum menjemput ajal pada ujung ranting laki-laki kecil dengan tulang yang diperas ari, hingga muncul ratusan cerita gusar dan lapar

di atas surau yang bisu, tampak benaman kening telah melahirkan fajar dari sela jari-jari pohon enau serupa tangan tengadah mengintai sepasang angsa berbulu emas, dan dua lembar kertas bergaris-garis lurus menyulam sayap kelelawar yang menggantung rapi sebab disini mimpi diawali, dalam katupan mata bicara pada alis-alis dan bantal bercorak langit kelam.

cepatlah bersekolah, sebelum ranting patah di pangkal tulang punggung bapak yang telah lelah menyanggul sepatu-sepatu hitam bersemir keringat kulit amis dan legam sebelum bintang yang hendak kau raih, raib dicuri matahari, semakin lapar saja menjilati tapak-tapa…

MEMBACA NUREL JAVISSYARQI

Muhammad Rain
http://sastra-indonesia.com/

Membicarakan kesusastraan sepertinya semua penulis puisi akan suka dan tertarik, nyaris tanpa embel-embel ngarep. Ngarep nama-namanya disebut dalam kupasan selentingan bidang sastra itu. Termasuk pula sahabat baruku Si Nurel ini, saya pikir beliau tak ada sedikitpun niat ngarep disebut-sebut namanya dari mulut kata Muhrain. “Si” yang saya maksud sebab saya merasa sok akrab saja, begitu.

Tulisan berupa sapaan belaka ini dengan maksud menuju pemikiran tentang apresiasi karya Nurel yang telah saya peroleh hasil kiriman hibah Saudara alias Sahabat baru kita ini, “kita” bermakna bahwa sahabat pembaca adalah sahabat saya, sahabat saya adalah sahabat kalian.

Meskipun sudah hampir seminggu memegang “Kitab Para Malaikat (Puisi Nurel) dan Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Esai Kritik Nurel)” namun karena masih terus di jalanan menebas Medan, Banda Aceh dan Sabang (jelang akhir Mei dan awal Juni 2011) , buku ini belum berhasil sa…

Puisi yang Menggugat Kemerdekaan

Abdul Aziz Rasjid
Malang Post, 25 Juli 2009

Ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka
itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia

— Wahyu Prasetya, Bendera Anak-anak (1990/1991)

Penyair punya kebebasan dalam mencipta puisi sebagai hasil kreasi. Penyair boleh menumpahkan emosi di antara situasi yang sedang ia alami, membayangkan dunia ideal yang diidamkannya setelah ia memikirkan pengalaman yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya. Penyair punya hak untuk menyatakan, memikirkan ulang dan menanyakan segala sesuatu yang telah terjadi di masa lampau maupun sedang berlangsung di masa kini untuk memberikan saran bahkan membayangkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

Mengunakan bahasa, kekhasan penyair muncul lewat cara pengolahannya terhadap peristiwa-peristiwa itu dengan kepiawaian baluran daya imajinasi. Fakta dan imajinasi yang saling berkelindan dalam rupa puisi dapat pula diposisikan dan difungsikan sebagai tanggapan evaluatif bermuatan artistik —keindahan bunyi, …

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi