Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Kancing Baju

Miftahul Abrori *
http://pawonsastra.blogspot.com/

1
Di Ranjang aku tertusuk kain matamu
Benang biru yang memburu benih
Tergantung di jendela berpagar rindu
Mengurai mimpi di selakang waktu

Aku membiarkan pijakan kakimu
Terbenam di antara rayuan
Melupakan warna pilu
lalu terburai di kancing baju
Malam yang telah kita sepakati
Lelap dalam sepi menipu

2
Bumi merah menelan darah
manusia digelendeng seperti keledai
menjadi tumbal kebodohjan

orang-orang penuh debu
orang-orang berwajah biru
dipermainkan peradaban

Tangan melepuh membuka pagar besi
pelan tanpa menyesatkan bunyi
sepatu dilepas lalu menyapa pintu
matanya tertinggal
menatap sekeranjang tumpukan benang

api tak lagi panas
mengambang tersengat tali
dikancing baju
ia menitip semburat ngilu

Bumi Mangkuyudan, Januari 2011

*) Bergiat di Thariqat Sastra Sapu Jagad dan Paguyuban Manunggaling Kawula lan Sastra. Kuliah di Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta.

Puisi-Puisi Nyoman Tusthi Eddy

http://www.balipost.co.id/

Regresi Human Male

Menyapa masa lalu dalam remang petang
sepi mengalir bagai banjir bandang

Badai datang kembali, gemuruh angin sakal
mengoyak tubuh perahu yang ringkih

Api tungku yang nyenyak tidur bertahun,
bergelora menyingkap kelambu langit
membuai memburu rindu

Cumbu yang selalu gamang
lagu yang selalu sumbang
bara yang padam di langit silam.

Tapi aku maharaja dalam mimpi-mimpiku



Samgama Humanitas

Segenggam putik lepas dari seludang lanang
bagai barisan laron menyerbu lampu
dari kegelapan tanah lembab

Bagai arus lava melintas lubang kepundan
istirah menanti Dewa Asmara menabuh kecapi
menggoda mimpi asyik masyuk

Ketika pasangan-pasangan makhluk
merajut langit dan bumi dalam panas cuaca
tebaran putik mengadu laut,
menggiring gelombang menderas ke gerbang
ruang garba

Kedua makhluk mengerang dalam desau
badai yang hebat

Waaaaahhh!

Ibuku dan Ibumu

Sartika Dian *
http://pawonsastra.blogspot.com/

air dan hujan
siapa kalian? ibuku atau ibumu?
ataukah ibu yang lain yang diam
sementara debu beterbangan dan
menempel di rimbunnya pepohonan
langit yang di atasnya
ada pendar bintang seribu
kejora, kaliankah ibuku atau ibumu
yang turut melangkah bersama
pendulum bisu yang berdetak detik
pasir putih dan segala
gejolak di dalamnya
adalah klimaks da gambar-gambar kosong
gelombangnya membawaku, musuh dalam ketiadaan

semalam entah mengapa ada
mimpi yang kosong
berbicara tentangmu
tak ada klimaks
yang ada hanya samar-samar
memayahkan tubuhmu
dan putih bergoyang-goyang
sutau hari ada pualam yang retak
di antara kakiku dan kakimu
kita menikmati malam pukah berdua
ibuku patah
ibumu ternyata juga

25 Nov 2010

*) Sartika Dian Nuraini, esais dan aktif di Pengajian Senin (Solo)

Puisi-Puisi Nyoman Wirata

http://www.balipost.co.id/

DENPASAR FESTIVAL

Tak ada yang asing di lidah
Rasa itu sudah mewarnai tulang
Menjadi aroma peluh dan nafas
Meracik bumbu meramu kata
Menjadi bahasa

Tak ada yang asing
makan tanpa bangku tanpa penyekat
Mendulang nikmat dengan keringat liat

Tak ada yang asing jika makan di jalanan
Dulu dengan baju komprang
Diberi aroma revolusi

Membuat kita kehilangan selera makan
Sebab terbayang gairah dan darah
Terbayang luka dan wajah memar

Kehilangan wangi harum dupa
Tak ada yang asing
Dalam sebuah perayaan beserta
Umbul-umbul huruf-huruf kapital

Menonton wajah kota penuh cahaya
Kembang-kembang api meluncur dari mulut
Namun ada catatan tentang
Koral dibalut bara

Alun-alun pernah dijaga
orang-orang bersenjata
Mobil lapis baja dan
Ada orang hilang di galau malam

Aku menikmati daging panggang
jajan ketan di sepanjang udara sore

Dengan separuh gaji perbulan
Apakah dapat membayar selembar
Kain tenunikat buat istri
yang berulang tahun



MEMBACA KITAB BERWUJUD POHON

Ketika kubaca Denpasar
Seekor burung urban menyalam…

Kain Merah Pudar

Yudhi Herwibowo *
http://pawonsastra.blogspot.com/

kain merah pudar yang kausampirkan di relungku
adalah kain yang dulunya putih
tempat kita mencoreti masa lalu

kau masih saja terluka
di meja makan bundar, tempat kau dan aku bersantap
bersama anak-anakmu, anak-anakku
kau akan selalu bercerita tentang bekas luka di dahimu: kemarahanmu
seakan luka itu masih mengerak perih
dengan kata-kata kramat leluhur yang terpekik
dan aku: hanya bisa menggelung kata

kau memang telah berubah,
tidak semenjak kau sampirkan kain merah pudar itu di relungku
tidak, tidak: tapi jauh, jauh selebih itu
kini kau bahkan begitu berapi
seakan mendapat wangsit, yang sebenarnya hanyalah pangsit di wadah busuk
kau bahkan mengubah semuanya: mencoreti lagi dengan kata-kata leluhurmu di kain merah pudar ini, hingga menjadi lebih kusam
seakan telah menyembuhkan penyakit paling kronis diri kita: kematian

dan aku hanya akan berlirih: ‘maafkan aku, karena tak bisa ikut denganmu…’
tapi kain merah pudar ini, biarlah tetap di sini.

Solo, juli 200…

Puisi-Puisi Faizal Syahreza

http://www.balipost.co.id/
Kelopak Kemboja

tertawan angin,
nyeri itu terbang ke hilir
menyembunyikan duka.

putih kelopak kemboja, ia diburu duri
yang dulu lari dan kini menjadi alir mati.

bersama perih menancap pada kabut
perlahan turun dari bukit-bukit.

memucat bersama doa
di suatu subuh, maut perlahan
memekak dari warna kelopak.

sebelum gugur menandai mayat, rapat
terkubur tanah, berserak dengan langit.

cahaya memanah arah dari barisan pohon.

sampai kesunyian tertinggal di wajah batu
melorot dari genggaman ngilu.



Tersekap Kemboja

kelopak kemboja,
keranda putih
yang merepih
perih langit.

di atas makam
sayup-sayup dosa
menyusup nyeri
terkandung duri.

saat kau
tertabur atas kubur.

tak ada senja
selain akhir usia
yang tersekap
di dingin tanggal
batu nisan.

hujan menyekat
tanah dan batu.

kabut runtuh
ke dalam warna
pucatmu.

walaupun kau tabah
maut telah baur
tumbuh berdekap
dalam bukat
rambutmu.

Mengartikanmu

: Yang Pernah Tinggal di Osaka
Indah Darmastuti *
http://pawonsastra.blogspot.com/

Kelopak melati cintaku
Mengantar mekar, mengumbar wangi setanggi temui hatimu

Kau yang di jauh
Kau yang tak tersentuh oleh jejariku dengan madu yang menyepuh
Manis tercecap gilapkan bibir hausmu

Mengayuh rengkuh tatkala rindu hadir menggebu
Ingin kuselimutkan padamu, rambutku yang telah kucuci
Ingin kutidurkan engkau dalam gelaran zaman yang teranyam
Lalu kukidungkan nyanyian sukma dan doa tanpa ratap dan air mata

Lalu kau akan terbangun pada pagi
Tanpa kau temui tubuhku berada di sisi
Selain wangi melati
yang mengantarmu menjumpai hadirku dalam bayang dan mimpi

Solo, 6 Juni 2000

*) Karya-karyanya tersebar di berbagai media. Novelnya Kepompong telah diterbitkan oleh Jalasutra.

Bukan Puncak Huangshan

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

TERSEBAB kau memilih jalan yang lebih mendaki dari Puncak Huangshan, aku merasa malu berani menyuntingkan tunjung biru pada mahkotamu. Seharusnya kuberada pada ketinggian sanjung manjadi takdirmu. Kau terima dengan rela pelepah hati masaiku. Tapi, di malam yang telah dihalalkan kubuka cindai jinggamu, aku tak mampu menatap kejora jiwa itu.

Bibirmu yang tak seranum kuncup kenanga, meneteskan makna-makna melampaui sabda. Meski matamu tak secerlang kaca, kedalamannya menundukkan keangkuhan sahara. Seluruhku lumat pada keteduhan yang kau pungut dari belantara sukma.

Dalam keheningan malam yang dihentikan debar harap, aku mematung dengan sebab yang tak tertangkap. Menatap sosokmu pun aku luruh. Senyummu yang tak jeda menakhta pada pipimu nan merona, menahan setiap kehendak penuh bara. Apakah aku telah menikahi peri, ataukah bidadari?

Kulihat tapakmu berpijak di bumi, rautmu pun tak menabur kejelitaan purna, tapi apa yang membuatku mabuk dalam pana.

Seharu…

Susuk Kekebalan

Han Gagas
Republika, 28 Maret 2010

Hatiku gamang saat kaki menjejak pematang dan menyusuri setapak. Gelap turun sempurna memerangkap semua rumah dan pepohonan. Bulan, walau separo, cahayanya berhasil membuat bayang-bayang pohon memanjang dan membesar, dan angin menjadikannya bergoyang-goyang. Di depan, nampak sebuah rumah limasan kabur disinari lampu senthir, membiaskan sinar suram. Lengang.

Karso menggamit pundakku saat tiba di pelataran. Lalu kami menaiki undhak-undhakan. Berhenti sejenak, mengatur napas. Ia mengetuk pintu pelan-pelan. Suaranya menghunus sunyi malam.

Sepi. Tak ada jawaban.

Siang tadi, Karso mengajakku membeli kembang tujuh rupa di Pasar Legi dan jarum emas di Toko Koh Yan, sebagai piranti kekebalan.

“Kau tahu sendiri, kawan-kawan terjagal ajal. Tak ada jalan lain, kita harus pasang susuk pada Eyang Warok !”

Kata-kata Karso memupuk kecemasanku. Memencarkan cairan takut ke penjuru pikiranku.

Pintu masih terjalin rapat. Karso mengetuknya lagi. Lebih keras.

Sekarang keadaan mema…

IDEOLOGI SASTRA INDONESIA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dua tulisan tentang ideologi yang dimuat Kompas (Novel Ali, “Ideologi Media Massa” 15/4 dan Komaruddin Hidayat, “Reformasi tanpa Ideologi” 24/4) menegaskan pentingnya institusi, gerakan, dan teristimewa: bangsa, melandasi arah perjuangannya ke depan dengan sebuah ideologi. “Ideologi media massa berkaitan dengan idealisme yang mestinya menjadi dasar perjuangan pers nasional,” demikian Novel Ali. Sementara hal penting yang diajukan Komaruddin Hidayat adalah penyikapan negara menghadapi fenomena global. Di situlah, perlu diciptakan: “ideologi baru yang menyatukan kepentingan semua anak bangsa dan menjadi pengikat kohesi emosi dan cita-cita bersama ….”

***

Kesusastraan Indonesia sesungguhnya dapat memainkan peranan penting dalam menawarkan ideologi sebagai usaha membangun cita-cita bersama. Mengapa sastra? Bukankah itu cuma hayalan sastrawan belaka? Bukankah membaca karya sastra berarti membaca sebuah dunia fiksional? Bagaimana mungkin membangun …

Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie

Seno Joko Suyono, Dwijo Maksum, Imron Rosyid,
Lucia Idayani, Istiqomatul Hayati, Nurdin Kalim
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di atas pintu depan toko itu hanya terlihat papan kayu biru kusam bertuliskan “SURABAYA”. Toko di Jalan Dhoho, Kediri, itu menjual bahan makanan seperti abon, dendeng, ke-rupuk. Pada era 30-an, toko itu bernama “SOE-RABAIA”, terkenal sebagai pusat penjualan ban Dunlop dan onderdil mobil.

Berjajar dengan toko tersebut terdapat bangunan 12 meter persegi yang kini sehari-hari berfungsi sebagai tempat praktek dokter gigi. Dari foto 1930-an, dapat diketahui bangunan itu dahulu sebuah toko buku yang pemiliknya juga pemilik toko onderdil itu. Papan namanya berbunyi TOKO TAN KHOEN SWIE, SEDIA BOEKOE DJAWA MELAJOE DAN OLLANDA.

Dari toko itulah mengalir buku-buku pujangga Jawa tersohor, seperti Kalatida karya Ronggowarsito, Kitab Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV, atau Wedatama karya Mangkunagoro IV. Juga buku lain karangan R. Ngabehi Yosodipuro, pujangga Pad-mo…

Umbu dan Bali

Wayan Budiartha *
http://www.kompasiana.com/budiartha

Bosan sebagai presiden penyair di Jogja Umbu Landu Paranggi lalu pindah ke Bali sekitar tahun 75. Bersama Gerson Poyk, Ki Nurinwa dan belasan penyair angkatan tahun 70an Umbu menggiatkan dunia kepenyairan Bali. Padahal di Jogja nama besarnya sudahpun sejajar dengan Ebiet G Ade, Emha, atau dengan yang di Jakarta seperti Sutarji dan sederetan nama besar lainnya.

Umbu malahan ke Bali, mengasuh ruang sastra di koran Bali Post sampai saat ini. Di Bali dia menjadi penjaga gawang, berkelana dari satu sekolah ke sekolah lain menggiatkan yang namanya kompetisi puisi. Dia mengambilnya dari istilah sepakbola, olahraga yang memang paling digemari Umbu. Dia berkutat di kedua dunia itu sama seriusnya. Sampai sekarang tak kurang dari 3000 penyair yang sudah berhasil ditetaskannya lewat lembar sastra koran Bali Post. Sebagian terbesar melahirkan karya yang mencengangkan bukan saja di tanah air tapi juga di tingkat Asia bahkan dunia.

Tapi Umbu sendiri …

“Horison” dan Generasi Pasca-Orba

Binhad Nurrohmat*
Kompas, 24 Des 2006

Life begins at forty, kata orang, dan tahun ini majalah Horison berumur 40 tahun—sebuah rekor hidup majalah kesusastraan yang belum tertandingi di negeri ini. Majalah kesusastraan berbahasa Indonesia itu lahir setelah kekuasaan Orde Lama tutup buku dan ketika kekuasaan Orde Baru baru berdiri. Majalah bulanan yang legendaris itu terbit pertama kali pada Juli 1966 dengan SIT No.0401/SK/DPHM/SIT/1966, 28 Juni 1966 dan SIUPP No.184/SK/MENPEN/SIUPP D.I/1986, 3 Juni 1986.

Di tengah keterbatasan pada mula kelahirannya, Horison mampu gigih dan bergairah membangun dirinya dalam kesunyian dan keterpencilan. Kantor Horison berpindah-pindah tempat, susunan pengelolanya berulang bongkar pasang, dan kondisi keuangan perusahaan yang darurat.

Kegigihan dan gairah itu bukan tanpa hasil. Horison melahirkan sastrawan “Generasi Horison” (Subagio Sastrowardoyo, Bakat Alam dan Intelektualisme, 1971) yang menjadi barisan penting kesusastraan Indonesia: Goenawan Mohamad, Bud…

#Koinsastra, Melawan Pembiaran

Khrisna Pabichara
Kompas, 10 April 2011

BERMULA dari kecemasan Pengurus Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, lewat Ajip Rosidi, jika hibah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak segera dikucurkan dalam tenggat dua bulan, lembaga itu akan gulung tikar. Kekhawatiran terhadap penutupan lembaga yang didirikan oleh Paus Sastra Indonesia HB Jassin itulah yang mendorong lahirnya gerakan #Koinsastra.

Fenomena ”koin” sebagai wujud kepedulian melahirkan pertanyaan menggelitik: seberapa banyak yang bisa dilakukan lewat pengumpulan receh demi receh itu? Lalu, apakah gerakan itu akan bertahan lama dan bisa memastikan PDS HB Jassin tetap bertahan dan bernyawa?

Semenjak dilansir 18 Maret 2011, #Koinsastra menuai banyak silang pendapat. Ada yang aktif mendukung, ada yang secara diam-diam berpartisipasi, ada yang mencibir dan menuding sebagai sesuatu yang sia-sia, bahkan ada yang terang-terangan memboikotnya. Apa pun bentuknya, silang pendapat itu membuktikan bahwa keberadaan #Koinsastra mulai…

Membincang Dunia Sastra Indonesia di Sanur

Nuryana Asmaudi
Bali Post, 17 Des 2006

BALI kembali jadi tuan rumah event sastra bertaraf nasional. Hajatan bertajuk “Temu Sastra II Mitra Praja Utama 2006″ (MPU 2006) yang digelar di Hotel Inna Sindhu Beach, Sanur, pada 12-15 Desember lalu itu melibatkan para sastrawan terkemuka Indonesia, pegiat sastra, pengajar, akademisi sastra, sampai birokrat pemerintah. Sebuah peristiwa besar dunia sastra di Tanah Air yang menarik dan penting untuk dicatat.

MPU 2006 diselenggarakan Forum Pecinta Sastra se-Bali (FPSB) atas dukungan Pemda Bali atau Disbud Bali. Dalam buku panduan MPU 2006 disebutkan, acara ini adalah salah satu wujud kegiatan kerja sama 10 provinsi yang tergabung dalam wadah MPU. Ke-10 daerah itu adalah Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Menurut Ketua Panitia MPU 2006 sekaligus Ketua FPSB, Drs. I.B. Darmasuta, acara ini merupakan agenda lanjutan dari event yang sama yang digelar di Banten …

Pelajar dan Penulisan Sastra

Tri Lestari Sustiyana*
Lampung Post, 7 Okt 2006

Akhir-akhir ini, banyak kalangan berpendapat sastra di Lampung sedang tumbuh pesat. Pertumbuhannya ditandai munculnya penulis-penulis remaja, terlebih beberapa media baik penerbit buku yang menerbitkan karya sastra remaja maupun media cetak menyediakan ruang secara khusus untuk sosialisasi atas karya-karya sastra remaja. Tapi jika ditilik lebih jauh, remaja dalam hal ini adalah kalangan pelajar, masih belum memperlihatkan prestasi dalam bersastra yang dapat ditandai sebagai sesuatu yang menggembirakan.

Belum Menjadi Tradisi

Penulisan sastra di kalangan pelajar belum menjadi tradisi. Jangan berharap lebih akan kreativitas bersastra dari pelajar. Kenyataan yang akan kita temui adalah jauh panggang dari api. Hal ini mengingat kurikulum di sekolah masih menempatkan sastra sebatas pengenalan, belum meramu substansi pembelajaran ataupun proses kreatif sastra! Padahal sastra, sebagai salah satu entitas kebudayaan, akan makin bermakna jika didukung …

Pernikahan Cahaya

S.W. Teofani
http://sastra-indonesia.com/

Cahaya kembali pada cahaya. Cahaya berkumpul bersama cahaya. Hanya cahaya yang tahu cahaya.

Aku pahat huruf-huruf itu di diding kastil. Saat lelah menerobos pualam. Mencari celah menembus kegelapan. Bilah huruf itu menjelma kekuatan. Aku terhenti mengenang. Muasal diri bukan cahaya. Tapi ada cahaya pada diri. Kepada cahaya seharusnya diri berpulang. Dengan cahaya diri berjalan. Selain cahaya, pada diri adalah kegelapan-kegelapan yang harus dimusnahkan. Selain cahaya, pada diri adalah bagian-bagian yang harus dihancurkan. Maka diri menjadi pertarungan kegelapan dan benderang.

Peluh bercucuran. Darah berceceran. Sekeliling hilang. Aku tak tahu di mana gelap, di mana terang. Diam, lelah setelah pertarungan. Hingga lesap seluruh kesadaran. Pekat setiap penglihatan. Bergeming pada bisu paling muram.

Pelan…pelan terpejam. Pelan…pelan…teredam.
Setelahnya hilang, pada kehampaan paling lenyap.

Perlahan hadir terang. Datang begitu benderang. Menyilaukan. Mence…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi