Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

Puisi-Puisi Imamuddin SA

http://sastra-indonesia.com/
DALAM API WAKTU

seperti tembakau hatiku
tak pernah merindukan hujan sabdamu
hanya memuja siraman air
dari tarian kata-katamu

tidakkah kau pastikan
adalah lidah tak berdaya: terbata
membiarkan perut, kaki, tangan,
mata, hidung, telinga
bersaksi sendiri
dalam raga hampa esok hari

basah air mata hanya di tanah
keluh sesal menjadi bah luka

dan tidakkah kau tajamkan mata-matamu
saf para pembual bergolong-golong
mengantri menjadi batu dan kayu
dalam api waktu

adalah dia yang bersaksi
tak pernah bersapa mengenal sendiri

Lamongan, Oktober 2010



PENGANTIN CAHAYA

jantungku adalah dingin puncak
berkerai kabut di ujung lambaian jejak
hatiku adalah sunyi hujan
merajut nafas dalam penghambaan

betapa sulit kulukis keindahan
dingin, kabut, sunyi, awan, hujan
tuhan
yang mendekap perjalananku kali ini

sungguh rumit kueja dengan kata
segala tercurah dalam satu alif
menjadikan aku seperti manggar
tertiup angin yang terjatuh pada kelopak
dan berbuah

betapa sublimnya nafasku
hingga tak pernah kutemu
dalam pengembar…

Puisi-Puisi Dadang Ari Murtono

http://www.suarapembaruan.co.cc/
Paras

'paras mereka mirip,' ucap seorang penyair
tua tentang pasangan yang
berjodoh
dan kita lalu saling mematut
diri, mencari lekuk yang serupa
namun sungguh, mataku terlalu sipit
dibanding matamu,
kulitmu jauh lebih bersih
dari kulitku
dan hidungmu begitu mancung,
begitu manis. bibir kita juga
tampak sangat berbeda
dan begitulah, esok paginya
tak kudapati kau di sebelahku
tak ada lambaian tangan, tak
ada ucap selamat tinggal
hanya firasat runyam tentang
kau yang tak akan kembali
tapi masih kusimpan wangi
rambutmu di rongga dadaku
tahukah kau sejak saat itu
aku punya kegemaran baru:
aku suka memanjangkan rambut
dan memakai anting
sebab dengan itu, ketika berkaca
betapa kuyakin alangkah
mirip paras kita



3 Pinta Kecil

untuk sawah yang kekeringan
ajari aku menahan rindu
seperti kau yang tahan menunggu
tetes-tetes hujan membasahimu
menyegarkan butir-butirmu
juga kandunganmu
untuk pohon mangga
ajari aku bermunajah
agar serupa kau yang begitu tabah
membiarkan codot mencucup basah
dan anak…

Jiwa-jiwa Merpati yang Lara

Endah Wahyuningsih
http://sastra-indonesia.com/

Aku adalah Rosita Angraini,kekasih Roi Pramudya. Sesosok pemuda tampan yang begitu dikagumi oleh kaum wanita namun mempunyai sifat angkuh dan tak pernah mau peduli dengan perasaan orang lain.Sedangkan Saskila adalah kekasih Roi yang dahulu dan kini telah meninggal karena sebuah penantian pahit yang tak bisa ia lalui seorang diri. Tanpa Roi Pramudya. Saskila begitu mengaguminya namun baginya sudah tak ada harapan, karena sifat Roi yang begitu egois, acuh dan tak pernah mau mengerti tentang perasaan orang lain. Tapi Saski tetap setia, selalu berusaha memahami karakter kekasihnya dengan menanti sebuah harapan yang tak jelas. Hingga akhirnya jiwa merpati yang lara itu mulai lemah dan putus asa kemudian memilih mati tenggelam disebuuah lautan.

Disebuah pantai kujumpai Roi seorang diri.kulihat ada sedikit gundah yang tengah mengusik fikirannya. Kuhampiri dia sembari kutepuk pundaknya.memang sudah kuduga bahwa ia akan mengabaikanku dan kenyataan y…

Nae

Miftah Fadhli
http://www.surabayapost.co.id/

Gerimis itu akhirnya datang juga. Gemilat kilat memancar di langit hitam. Sesaat, pandanganku terpaku pada sosok bayangan yang berkelebat di seberang sana. Menjadi tidak jelas karena interval gerimis yang rapat.

Perlahan ia membuka kaosnya. Kaos putih yang kulihat paling terang sore tadi. Aku bisa melihat gerak meliuk rambutnya yang sengaja dikibas-kibas. Tubuhnya pecah-pecah sebab kaca jendela keruh akibat gerimis yang telah berubah jadi hujan deras. Aku terkesiap ketika tiba-tiba gadis itu membuka jendela kamarnya. Aku langsung tunduk, menutup jendela dan bersembunyi di balik tirai. Kuintip sesekali wajahnya yang berkeredapan dihantam kemilat guntur. Wajahnya menjadi tidak jelas karena rintik hujan menempias di permukaan jendelaku.

Sesaat setelah ia menutup kembali jendelanya, aku melongok keluar. Menyibakkan tirai jendela yang langsung dihempaskan angin ketika kubuka daun jendela. Kutelusuri alur tubuh hitamnya yang terpotong hingga pinggang…

Gegelas

Fikri. MS
http://sastra-indonesia.com/

“Sebenarnya apa yang kau tunggu di sini? Kuperhatikan sejak tadi kau sama sekali tak beranjak pergi hanya berdiri, duduk melipat kaki”

Lelaki itu mendekat.
“Ayolah beritahu aku mungkin ada sesuatu yang dapat kulakukan untukmu!”

Kutinggalkan ia beberapa langkah, mengganti bajuku yang kusam bau keringat, sementara ia masih diam.

“Kau …,tak bisa bicara ya!?” Aku bertambah bingung dengan lawan bicaraku ini.

“Baik kalau begitu, mungkin tenggorokanmu kering, kuambilkan segelas air putih. Tunggu sebentar, dan ingat bicaralah padaku!, Ada apa?”

Segelas air kuletakkan di hadapannya, ia merubah sikap kaki kanannya berganti memangku yang kiri, ia rogoh tas sandangnya mengambil sesuatu. Kupikir sesuatu yang penting, sebatang pena hitam ternyata. Ia mulai melukis tangan kirinya di antara telunjuk dan ibu jari. Lingkar melingkar dari bawah ke atas tak berurut, besar, kecil, lalu sedang tampak dari pandangan samping seperti proyeksi bidang datar. Lingkaran sedang dan k…

Perjalanan Sakral

Muhammad Al-Mubassyir
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Sayup-sayup angin dingin menelusup masuk ke ruang kalbuku, tapi kubiarkan saja, toh kedinginan itu terasa hangat bagiku. Biarlah mulutku sampai kaku sekali pun, nanti kekakuan itu akan berubah menjadi irama indah yang menghiasi perjalananku. Dan juga kubiarkan tanganku berkeringat darah dan nanah demi mengepal butiran-butiran kayu kecil yang di mata banyak orang tidak memiliki nilai filosofi apa-apa.

Entah kenapa perasaanku seperti ini, kayaknya ada sesuatu yang mengganjal pada malam ini yang membuat beda dengan malam-malam lain. Tampaknya para peziarah jauh lebih banyak dari sebelum pukul sebelas tadi, tapi tak apalah yang penting Mbah Hasyim terus hadir di ruang hampaku, Mbah Wahid selalu menemani iring-iringan bibirku dan Gus Dur terus mencoba merajut benang salbut yang terikat erat dengan perasaanku.

Aku tak menghiraukan nyanyian surga yang keluar lantang dari puluhan bahkan ratusan peziarah itu, aku cuma sibuk dengan diriku sendiri ya…

Ketika Obor Menyala

Liestyo Ambarwati Khohar
http://sastra-indonesia.com/

Cemloteh ringan tawa anak-anak mengiringi tarian Api diatas obor-obor yang baru saja dinyalakan. Sementara di sudut dan lekuk tiap kampung, gema tabkir terus saja menggema membentuk ritme merasuki jiwa siapa saja pendengarnya.

Lebaran selalu seja melahirkan suasana melankolis dan romantis terhadap Tuhan ataupun kita sesama manusia seperti tahun-tahun sebelumnya aku melewati lebaran di rumah induk. Rumah dimana aku dilahirkan, dibesarkan. Serta ditumbuh dewasakan.

Diruang tengah dengan aroma “Bunga sedap malam” yang merebak dan kue-kue lebaran yang sudah tertata di tiap-tiap meja, aku masih saja suka melihat foto keluarga dengan figora yang kokoh, sehat dan kaca terawat yang terpanjang di ruang tengah. Terlihatlah Alm ayah di foto dengan gagah dan kumis garangnya, dan alm ibu dengan kerudungnya yang anggun dan disebelah kanan kiri mereka adalah aku dan mbakyuku poninten.

Takbir terus saja menggema atmosfer lebaran semakin terasa, dan sem…

RENCANA PALING SEMPURNA

Juwairiyah Mawardy
http://www.surabayapost.co.id/

Dia akan menikahiku. Resmi sebagai istri. Tercatat dalam buku nikah yang bisa diperlihatkan pada siapapun. Begitulah janjinya. Semula aku selalu bertanya kapankah itu? Tapi lama-lama aku tak ingin bertanya lagi. Aku hanya perempuan luar pagar. Perempuan kedua. Mungkin saja dalam tingkatan-tingkatan pikirannya, aku bukan hanya nomor dua, melainkan nomor ke sekian puluh dari urusan hidupnya. Yang terpenting adalah urusan politiknya.

Dia hendak maju sebagai calon bupati. Ia katakan akan segera bercerai dengan istri yang belum juga dapat berbuah itu. Aku menunggu. Aku percaya padanya. Seperti ia percaya padaku bahwa aku tak akan membongkar hubungan kami ke publik. Aku menginginkan kesuksesannya terwujud. Seperti aku menginginkan pernikahan agung kami juga terwujud.

Hubungan kami adalah hal yang tak terelakkan. Kami tidak kumpul kebo, melainkan menikah di bawah tangan yang tersembunyi dari tatapan-tatapan mata yang nyata. Sepekan sekali ia akan…

PUSARA MASA LALU

M. Luthfi Aziz
http://sastra-indonesia.com/

Prolog:
Entah sihir atau wahyu yang membuatku selalu terbangun dalam mimpiku di siang bolong, di bawah kolong-kolong langit langkahku selalu diikuti gelombang gelisah mengenai sebuah gelisah; aku mengingat dan menyebut namanya, bayangan dirinya menari tepat dimataku tanpa mampu ku mengusirnya, tiba-tiba tangan dan kepalaku bergerak teratur bersama ritmis alam, menari di antara ekstase ketidak sadaran dan ruh yang masih terbawa di alam nyata. Nama, wajah, dan dirinya sempurna berpusara di dalam benakku. Tanpa mampu menolak aku berusaha melawannya yang berujung pada keputusan keputusasaan untuk dapat melepasnya, walau sesaat. Sementara dia mahluk asing berupa bayangan nyata yang selalu menguntit dunia riilku. Kini dia nyata hanya imaji kosong, namun aku masih berjuang untuk menghapusnya dalam kehidupanku, apakah aku bisa?
***

Aku bertemu dengannya dalam sebuah acara pada salah satu dunia imaji ilmiah. Sebuah seminar yang menghadirkan pembicara terk…

Hantu Mei

Dadang Ari Murtono
http://www.surabayapost.co.id/

Sampai manakah batas kesetiaan itu barangkali tak ada yang tahu benar. Seperti pula tak ada yang tahu benar sejauh mana batas cinta itu. Kadangkala teramat tak masuk akal. Seperti kisah ini. Kisah tentang gadis yang memutuskan menjadi hantu. Setia menjaga rumah yang oleh orang-orang disebut rumah hantu. Setia menjaga dendam.

Semua dimulai ketika orang-orang mendadak lihai menjarah dan membakar, memperkosa dan membunuh pada suatu mei yang rusuh. Dan keluarga Mei adalah salah satu keluarga yang menjadi korban. Ibu dan kakak perempuannya diperkosa sebelum kemudian dipotong kedua puting payudaranya. Ayah dan kakak laki-lakinya dibunuh dan dibakar setelah sebelumnya dipaksa menyaksikan ibu dan kakak perempuannya diperkosa bergantian dengan brutal. Ia selamat. Mei selamat. Semata karena ayahnya memasukkannya ke dalam lemari kosong yang lama tak terpakai dab teronggok di sudut gudang. Orang-orang itu, pada akhirnya membakar pula rumahnya. Sepert…

Ngidam

Aang Fatihul Islam
http://sastra-indonesia.com/

Ribuan butiran air hujan menetes dari langit, pepohonan mengayun-ayunkan ranting-rantingnya. Dedaunan dan bebatuan menengadah ke atas langit bermunajat pada Sang Pencipta atas apa yang telah terjadi di belahan bumi ini. Lekukan bumi mengendap-endap dalam fatamurgana yang teretas percikan-percikan api neraka yang merayap lewat desiran udara yang begitu menyengat. Burung-burung berkicau riuh dan nampak sumbang tidak seindah dulu lagi seakan ada perubahan atmosfir yang memekikkan kehidupan mereka. Alam seakan muak dengan hiruk pikuk yang melilit bumi dalam keangkuhan dan ketidaksenonohan yang terus terjadi dan terjadi. Desahan alam sudah tidak seindah dulu lagi, kamuflase demi kamuflase telah menutupi keindahan mereka dalam debu-debu kemunafikan dan kecongkakan. Kala itu eksotisme alam seakan hilang dan beruba menjadi nuansa duka.

Aku melihat para dalang memainkan perannya dan banyak wayang yang berparaskan Rahwana mempunyai misi untuk menculi…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi