Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

MENYUSURI SERAT KALA TIDA MELALUI PUISI ATHAN

Nurel Javissyarqi
http://www.sastra-indonesia.com/

Dapat dikatakan hampir seluruh diriku, memulai mengeluarkan tulisan dari tubuh dengan sugesti. Di sinilah sebuah cara memunculkan nilai puitik yang bergelayutan dengan ringan. Kala melangkahkan segala kenangan, ingatan pun gejolak jiwa terus menggemuruh berharap dihaturkan melalui kalimah-kalimah. Pada lain tempat aku pernah mengatakan, sugesti suci ialah cinta.

Seolah kata-kataku, anak yang kulayarkan ingin selalu dimanja, apalagi saat perbaikan atau revisi. Berbondong dengan wajah riang memohon dimandikan dengan air kembang pengertian dalam bau-bauan harum wewarna di ruangan.

Di antara kata-kata bergandengan erat, kadang menjelma sepasukan tentara siap melabrak faham yang menghalangi. Segelombang laut berkelembutan hanyutkan pelena. Pun sesosok hantu hingga diriku ketakutan menyentuhnya, merinding bulu-bulu juga mengajak menangis dalam diam. Pula bermusuhan dengan kata-kata sendiri, seakan pesaing yang sulit ditundukkan.

Sebelum jauh kuu…

RAJA ALI HAJI: BAPAK KESUSASTRAAN MELAYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Kalau bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Klasik, maka kesusastraan Indonesia lahir karena dukungan sastra klasik yang tersebar di kepulauan Nusantara, seperti Bali, Jawa, Sunda, atau Melayu. Khusus dalam pembicaraan yang menyangkut kesusastraan Melayu Klasik, tentu saja Abdullah bin Abdulkadir Munsyi tidak dapat dilewatkan. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Syair Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura ke Kelantan, Hikayat Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, dan Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah.

Para pengarang lain yang terkenal adalah Nurrudin ar-Raniri dan Hamzah Fansuri dengan syair-syair tasawufnya, Tun Sri Lanang dengan Sejarah Melayu-nya, dan Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas-nya. Yang terakhir inilah yang membawa nama Raja Ali Haji lebih dikenal sebagai sastrawan, meskipun ada sebagian buah tangannya bukan karya sastra. Bahkan, karyanya yang menyangkut masalah tata bahasa Melayu am…

Ruang Anak-anak Peradaban Masa Depan

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

DI MANAKAH ruang bagi anak-anak dalam bangun peradaban yang dominan ditentukan manusia dewasa usia? Pertanyaan begini dipastikan tiada seberapa mengusik kalangan politisi negara maupun daerah yang kini berasyik-masyuk riuh-rendah dengan suksesi gubernur hingga pemilu, lanjut mengincar-incar kursi puncak kepresidenan buat peneguhan kuasa. Tak perlu heran bila Hari Anak Nasional 23 Juli nanti bakal lewat sepi-sepi saja, kalah gaung dengung tinimbang perdebatan egosentris kader–nonkader balon pemimpin tanpa standar kriteria jelas, kecuali kepentingan pribadi dan kelompok.

Tarik-ulur kepentingan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional yang baru, ribut-ribut protes para orangtua siswa baru terkait hasil penyaringan masuk sekolah, kegiatan orientasi di sekolah-sekolah bagi siswa baru –sebentar lagi menyusul mahasiswa baru di perguruan-perguruan tinggi berbiaya mahal– sama sekali tidak dipahami sebagai masalah mendasar, karena pendidikan anak-anak tidak …

Kupu-kupu Gereja

Utada Kamaru
http://www.sinarharapan.co.id/

…. Ingat! Kerajaan Allah sudah dekat! Ratakanlah jalan. Ratakanlah jalan. Bertobatlah…!

Suara pendeta Jeffrey lantang berteriak-teriak di atas mimbar. Tangannya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah depannya. Mengarah tajam. Membuat orang-orang merasa telunjuk itu diperuntukkan baginya seorang. Atau bagi suami di sampingnya. Atau buat anak lelakinya yang terkantuk-kantuk di sisinya. Kebaktian pertama di ” gereja subuh”. Jam masih pukul setengah 6 pagi.

Di ujung sebuah kursi panjang, tak jauh dari mimbar, seorang anak laki-laki duduk sambil terkantuk-kantuk. Tiba-tiba makhluk cantik hadir di sebelahnya. Namanya Sophie.

” Iya, aku memang terlambat, maafkan,” ungkap Sophie setelah mengulurkan tangan dan menyebutkan nama kepada anak lelaki itu. Lembut benar terasa di tangan si anak. Membuat mata ngantuknya mengerjap-ngerjap. Saat dia sadar, makhluk cantik itu sudah tak di sebelahnya lagi. Makhluk cantik itu diam-diam mengepak-ngepakkan sayapnya mengitari rua…

Kain Batik Sidomukti

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Pada ulang tahunku yang ke tujuh puluh dua, saat musim dingin belum juga pergi, aku menerima bingkisan dari seorang teman lama, yang syukur berusia panjang pula seperti diriku. Sebuah bungkusan kertas kado sederhana berwarna hijau tua berhiaskan kembang-kembang berwarna putih bagaikan untaian melati. Di luar bungkusan menempel sebuah amplop, dilekatkan dengan selotip tipis. Amplop itu lebih dulu aku buka. Isinya sebaris puisi:

Di hari bahagia ini/Kenanglah kami/Yang jauh/Namun tetap terengkuh/Oleh jiwamu/ Kenanglah tanah/ tempat darah tumpah/tempat kita/kan bertemu kembali.

Aku tersenyum. Pasti dia tak pernah berhasil menjadi seorang penyair, namun semangatnya yang menggebu untuk menjadi penyair membuatnya mampu menghafalkan sajak-sajak karya Asrul Sani, seperti ”Surat Dari Ibu” atau seluruh sajak Sitor Situmorang yang terkumpul dalam ”Surat Kertas Hijau”: lonceng gereja bukit Itali. Atau: cherchez la femme, cherchez la femme. Atau: bunga…

Cerita Siti Jenar dalam Dongeng Wali Sanga

SYEKH SITI JENAR
Pergumulan Islam-Jawa
Penulis : Abdul Munir Mulkan
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta
Peresensi: Dr. Simuh *
http://majalah.tempointeraktif.com/

Syekh Siti Jenar karya Abdul Munir Mulkan menarik dicermati karena beberapa hal. Buku setebal 353 halaman yang dilengkapi dengan salinan teks asli dan terjemahan bahasa Indonesia ini ditulis oleh Abdul Munir Mulkan, yang dikenal sebagai dosen IAIN Sunan Kalijaga yang bukan hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menggeluti ilmu-ilmu sosial. Karena itu, dalam karyanya ini, Munir Mulkan mendekati karya sastra Jawa dari sudut ilmu sosial-politik. Atas dasar alur cerita dalam karya sastra itu, Munir Mulkan dapat menyingkap adanya oposisi dari kelompok Syekh Siti Jenar beserta murid-muridnya terhadap penguasa kerajaan dan Kesultanan Demak yang didukung oleh Wali Sanga.

Dalam buku ini, Syekh Siti Jenar didudukkan sebagai pengikut Kerajaan Majapahit yang mbalela. Dari alur cerita, Munir Mulkan dapat membuka satu aspek karya-kary…

Yonatan Raharjo Persembahkan Novel “Lanang”

Novel Yonatan Raharjo “Lanang” Pemenang Sayembara Novel DKJ 2006
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

SINOPSIS:
Doktor Dewi seorang antek korporasi asing. Berkepentingan memasok produk rekayasa genetika dari luar negeri, dia ciptakanlah hewan transgenik penyebar virus penyakit, Burung Babi Hutan. Sejak kemunculan makhluk aneh ini, area peternakan sapi perah tempat Lanang bekerja tiba-tiba terserang penyakit gaib. Ribuan sapi mati. Warga pun gempar.
Bersama pemerintah dan masyarakat, Lanang, dokter hewan yang cerdas, obsesif, dan melankolis, sibuk mencari tahu sebab kematian sapi perah. Seminar dan penelitian dilakukan, tapi penyakit misterius tak kunjung ketemu. Usaha ilmiah pun menemui jalan buntu. Lalu, mengemukalah isu dari seorang dukun hewan bahwa biang keladi kematian sapi adalah Burung Babi Hutan, makhluk jadi-jadian. Polemik mistikisme tradisional versus bioteknologi modern pun menambah ruwet persoalan. Akankah proyek Doktor Dewi berjalan mulus?
Ditulis dalam gaya thriller, plot …

Tak Mudah hanya Bermodalkan Idealisme

Jurnal “CAK” Terbit Kembali
Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

SETELAH sekitar enam tahun menghilang dari peredaran dan tiada kabar, jurnal CAK (Catatan Kebudayaan) kini hadir lagi. Peluncuran edisi terbaru (Nomor 6 Th. IV Januari - April 2002) diadakan di Kantor Redaksi CAK, di Peguyangan Kangin Denpasar, baru-baru lalu. Berbagai kalangan hadir pada kesempatan itu. Undangan yang hadir boleh dibilang sudah cukup mewakili beragam kalangan mulai dari sastra, seni rupa, musik, seni pertunjukan, budayawan, intelektual, akademisi, kalangan kampus, hingga kalangan jurnalis. Beragam kalangan tersebut, agaknya, mendukung dan menyambut gembira penerbitan kembali CAK. Dalam acara peluncuran tersebut juga ditampilkan musik-musik alternatif karya Wayan Gde Yudane, pembacaan puisi, dan diskusi tentang “Media Alternatif” yang menampilkan Haryo Prasetyo Hartanto.

Jurnal CAK pertama kali terbit pada November 1994, digagas dan diterbitkan oleh anak-anak muda Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali. CAK, …

Vagina yang Haus Sperma:

Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami
Katrin Bandel
http://www.facebook.com/group.php?gid=38840078585

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya. Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). “Memang seperti itulah gaya hidup dan pergaulan sebagian kerabat dan kenalan saya di Jakarta”, jelas kawan saya itu dengan merujuk pada deskripsi kehidupan keempat tokoh perempuan muda dalam novel Saman dan Larung. “Baru dalam novel Ayu Utami saya menemukan representasi realitas yang saya kenal…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi