Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Puisi yang Baik adalah Puisi yang Jujur

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

SALAH satu pertanyaan yang sering diajukan kawan-kawan penulis pemula pada saya adalah, “Bagaimana cara menulis puisi yang baik itu, bang?” Kata “baik” di sana, memang membuat saya tidak boleh menjawabnya dengan tergesa-gesa. Sebab, saya harus mendudukkan dulu makna dari kata “baik” itu jika dipakai untuk puisi. Saya kuatir, jika kata “baik” dimaknai untuk menunjukkan sesuatu yang teratur, yang sopan, yang rapi, yang bersih, dan yang sejenisnya, maka menjadi tidak tepat kata “baik” itu diperuntukkan bagi puisi. Kenapa?

Sebagaimana sifat sebuah karya seni, puisi tentu tak bisa dikungkung oleh satu kriteria “baik” dalam makna yang umum. Sebab karya seni selalu “memberontak” dari konvensi-konvensi biasa. Karya seni harus menemukan “bahasa ucap” (ekspresi) yang berbeda dari realitas keseharian. Apalagi puisi, yang memang diberi kebebasan yang luas untuk melakukan “pembongkaran” bahasa. Kalau kriteria “baik” secara umum dipakai, maka ketika Chairil Anwar…

Memasuki Era Maiyah Sejati

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Pengajian Padhang mBulan tanggal 26 Juli 2010 kemarin Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) datang terlambat hingga jam 23:00. Kegelisahan Jama’ah mulai tampak pada setiap wajah. Sebagian sudah tidak serantan dan langsung nyelonong pulang. Sebagian lagi bertahan dengan kegelisahan. Mungkin dalam Jama’ah menyimpulkan hasil ‘rugi’ dalam gambling/ perjudian niatnya, jika Cak Nun tidak datang.

Kita coba total kata ‘rugi’ ini bagi Jama’ah secara psiko-analisis. Pertama: mungkin sejak berangkat dari rumah Jama’ah sudah memasang standar untung rugi jika Cak Nun datang. Dengan modal berangkat jauh-jauh, menyibak jalanan, meluangkan waktu dan tenaga. Ini berarti keberadaan Cak Nun secara verbal masih diletakkan sebagai ‘single power’ dari acuan serap untuk memenuhi kebutuhan Jama’ahnya. Tingkat kebutuhan terhadap Cak Nun sangatlah variatif dan luas cakupannya, idola, kebanggaan, kuwalitas pemikiran, kewibawaan, ingin mendebat, mengukur diri, mencari p…

Otonomi Daerah dan Sastra Lokal

Rachmad Djoko Pradopo
http://www.kr.co.id/

PENGARANG lokal-nasional di daerah Propinsi Jawa Tengah banyak sekali, terutama berpusat di Semarang dan sekitarnya. Di antara sastrawan lokal-nasional yang terkenal adalah Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, KH Mustafa Bisri, Darmanto Jt, dan Dorothea Rosa Herliani. Ada seorang sastrawan sebelum kemerdekaan, zaman Balai Pustaka tahun 40-an, adalah Sutomo Djauhar Arifin, karyanya roman Andang Teruna. Ada beberapa antologi bersama di Propinsi Jawa Tengah, pada umumnya berupa antologi puisi. Di antaranya adalah Antologi Puisi Jawa Tengah (1994), editornya Pamuji Ms, Lawang Sewu: Antologi Puisi Semarang (1995), penyuntingnya Hendry TM, Menoreh, 1, 2, 3 merupakan Antologi Puisi Penyair Kedu, penyuntingnya Drs Soetrisman MSc.

Sastrawan Jawa-Indonesia yang belum disebutkan adalah Aryono KD (Jepara-Kudus), Teguh Munawar (Jepara-Kudus), Sumiyoso (Jepara-Kudus), Yudhi Ms, Mukti Sutarman, Timur Suprabawa (Kudus). Mereka yang tersebut, baik menulis sastra Jawa…

Baik, Tunggu Baru

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Perubahan besar terjadi setelah lengsernya Lurah Arta dari jabatan superpanjang. Ribuan orang-orang pandai berbondong ketika itu, memenuhi pusat Kelurahan Luruh Indon yang porak-poranda karenakan uang yang tidak bersahabat. Rakyat kelaparan. Pejabat kelurahan banyak menimbun bahan makanan.

Kelurahan bertemu pagebluk, banyak orang yang tidak kebagian bagi-bagi uang merencanakan sesuatu. Pemuda-pemudi disatukan. Seperti tahun-tahun lalu, dalam masa perjuangan. Mereka berpakaian Kuning, Merah, Hijau, Abu-Abu sampai pada Kelabu. Memadati jalan-jalan utama. Memenuhi lapangan Luruh Indon sambil berteriak: “Gantung Lurah Arta! Lengserkan Lurah Arta!” sampai membabi, meruntuhkan segala yang ada.

Masa, Kelurahan di ambang kehancuran. Pemuda-Pemudi berpakaian aneka warna seolah ingin berkudeta. Berkumpul, membajiri Kantor Perwakilan Ketoprak Kelurahan. Seperti lalat di atas tumpukan darah. Menggenang air mata, perlawanan, api menjalar dan satu, dua, tiga…

Pesta Esok dan Tangis yang Meng-crystal

Gita Pratama
http://www.sastra-indonesia.com/

Aku hanya ingin bercerita tentang pesta tanpa gaun, pendar lampu-lampu kristal ataupun meja penuh hidangan lezat. Pesta yang membuat semua orang tertawa geram dan tangis tertahan. Di tengah kelahiran, ruang lain justru sedang meregang nyawa, mengurai keringat dari bulir-bulir kenangan yang dingin. Malam ini adalah cerita kematian dari tawa yang sunyi. Dari malam yang sepi tentang kepala botak merah darah. Juga kelahiran dari sepi yang riuh, dari malam yang sibuk bercerita tentang penggalan kepala berhias kata-kata.

Di sebuah bangku telah duduk seorang entah laki-laki atau perempuan, hanya kerut kulit keriputnya, menanda jompo. Bibirnya rapat terkatup, tak ada suara hanya tatapan mata nyalang. Mengawasi riang bocah yang sedang merayakan kotak-kotak kayu yang semakin tinggi tersusun. Ia melihatnya, mengingat dulu ketika ia menganyam rotan dijadikan boneka dengan mata bermanik manik kacang kedelai, bibir datar dari benang wol. Dulu ia juga bahag…

Memetik hikmah dari puisi-puisi transendental, karya Moh. Gufron Chalid

Imron Tohari
http://www.sastra-indonesia.com/

“Sastra adalah jalan keempat untuk mencari kebenaran, setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.” ( Teeuw ).

Seperti yang dikatakan Teeuw di atas, seperti itulah yang saya temukan pada sajak-sajak Moh. Gufron Chalid yang terkumpul pada 17 sajak pilihan, yang di inbokkan ke saya untuk saya pelajari.

Setelah menelusuri setiap detak nafas sajak-sajak tadi, di sana saya dapat merasakan bagaimana penyair dalam menjalani proses pencarian jalan kebenaran melalui medium sastera.

Sebagai salah satu alat atau media untuk meletupkan rasa dan pemikiran-pemikiran yang diharapkan dapat mempengaruhi pola piker dan atau pola piker baru yang berdampak positip pada pribadi penyair serta penghayat selanjutnya, puisi,sajak, merupakan perwujudan yang tepat dari sekumpulan kata atau kalimat yang merupakan bagian dari yang namanya bahasa (baca: bahasa hati,bahasa piker,bahasa rasa, dll).

Bahwa Puisi sebagai reinkarnasi bahasa/samsara bahasa, pada kelahirannya kemb…

KISI-KOTA, Kalau Sastrawan Tinggal di Apartemen

Gerson Poyk
http://www.sinarharapan.co.id/

Minggu lalu beberapa sastrawan ibu kota diundang oleh sastrawan (penyair) Leon Agusta dan istri Amerikanya untuk pesta kecil memasuki rumah baru, yaitu sebuah apartemen di depan harian Kompas. Bangunan itu setinggi tiga puluh tingkat.

Mungkin karena pertemuan Leon dengan Maggy di sebuah apartemen bernama Mayflower di Iowa City, maka setelah bertahun-tahun tinggal di kampung-kampung dan di kawasan perumahnn indah tidak membetahkan mereka. Mereka rindu pada apartemen. Maka mereka memilih tingkat tiga, sebuah ruang yang tak terlalu melayang, Atau mungkin karena keamanan lebih terjaga, sebab ada satpam dan mobil yang masuk diperiksa dengan teliti.

Setelah gembira bertemu dengan teman-teman dan kenyang menikmati makan-minum, kami pulang dengan sebuah taksi yang dibayar oleh novelis Hanna Rambe. Beliau mengantar penyair Kirnanto ke Utan Kayu, kemudian taksi berputar ke Thamrin lalu kami berpisah, naik bus ke Depok. Inilah susahnya Jakarta kalau ada aca…

Dua Laki-Laki

Teguh Winarsho AS
http://www2.kompas.com/

“IA belum datang!” Rasto mendengus. Malam gelap tanpa bintang dan langit cuma bentangan kain hitam. “Baiklah, baiklah, aku akan menunggunya!” Rasto menyandarkan punggungnya pada tiang listrik. Matanya merah. Sementara jalan di depannya telah sepi sejak satu setangah jam lalu.

Hanya perempuan-perempuan dengan bedak tebal, parfum menyengat, dan tawa melengkingsesekali masih lewat. Rasto mengeluarkan botol minuman dari balik jaket dan menenggaknya pelan-pelan. Ia harus menghemat minuman itu sebelum subuh datang dan segalanya berakhir. Ia tidak tahu apakah akan pulang dengan kebahagiaan atau terkapar di pinggir jalan.

Waktu bergerak lambat seperto tusukan belati di jantung Rasto. Dan nyamuk-nyamuk itu telah menjadi begitu buas membuat tubuhnya bentol-bentol merah. Membuat kepalanya terasa berat dan sesekali berputar. Membuat darahnya mendidih seperti terbakar. Membuat suasana malam menjadi sangat buruk dan celaka. Mestinya malam ini ia enak-enak di ru…

PIJAR KATA NUREL DI TENGAH ALUN ZAMAN

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://www.sastra-indonesia.com/

“Cinta sangat menentukan kelanjutan proses penyebab atau proses kehidupan subyek. Sebab ketika berada di titik koordinat, kita jelas mendapati karakter diri sebenarnya atau dengan titik seimbang, cermin diri sanggup merasakan getaran kesungguhan dari sang maha Penyebab Cahaya Ilahi: Apakah kita gemetar atau semakin asyik oleh kesejukan Cahaya. Sebelum sampai ke suatu akhir bernama akibat (mati, timbangan pahala)” dikutip dari buku Kajian Budaya Semi (buku pertama Trilogi Kesadaran), bagian Kajian Sebab atas Subyek, Nurel Javissyarqi. Di situ penulis muda, merupakan intan pemikiran dan mutiara-penggagas keadilan ruh dari Lamongan, bicara tentang pemaknaan hayati.

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Jamal D. Rahman
Sumber, http://jamaldrahman.wordpress.com/

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Dalam hubungannya dengan kepenyairan Zawawi, yang paling penting dari desa kelahirannya mungkin kekayaan alamnya —kekayaan alam di mata seorang penyair. Sudah barang tentu terdapat hubungan kompleks antara alam desa dengan kepenyairan Zawawi, yang tidak mungkin direduksi menjadi sekedar hubungan kausalitas linear. Tapi apa pun bentuk hubungan itu, desa Batangbatang pastilah memiliki arti penting ba…

Bertemu Sapardi Djoko Damono

Astrikusuma
http://sosbud.kompasiana.com/

Mimpi besar itu terwujud juga akhirnya. Saya berjumpa Sapardi Djoko Damono, alias SDD, alias Si Penyair Hujan.

Salihara pada 7 November 2009 adalah saksi pertemuan kami setelah melewati berbagai upaya. Sore itu SDD baru saja usai memberikan ceramah tentang puisi-puisi Rendra. Sesuai perjanjian kami sebelumnya, saya menemuinya setelah acara selesai.

“Akhirnya ketemu orangnya setelah selama ini cuma ketemu di FB,” kata Pak Sapardi sambil tersenyum saat menjabat tangan saya.

FB, atau Facebook, memang menjadi sarana pertemuan kami di dunia maya, untuk kemudian menjembatani perjumpaan kami di dunia nyata. Kami sering berbalas pesan di FB ketika saya lembur bekerja sampai malam. Saya memperkirakan, pada saat yang sama beliau juga sedang berkarya, karena dari artikel yang baca di Kompas beberapa tahun lalu, saya tahu beliau senang bangun di malam hari untuk menulis. Bertahun lalu, cara berkomunikasi semacam ini dengan penyair pujaan tak pernah terbayangka…

Jalan Bareng Hamsad Rangkuti

Pipiet Senja
http://sosbud.kompasiana.com/

Hamsad Rangkuti, siapa yang tak mengenalnya? Cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai harian dan majalah, terbitan dalam dan luar negeri. Bahkan beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman, antara lain dimuat dalam New Voice in Southeast Asia Solidarity (1991), Manoa, Pasific Journal of International Writing, University of Hawaii Presss (1991, Beyond The Horison, Short Stories from Contemporary Indonesia, Monash Asia Institute, Jurnal Rima, Review of Indonesia and Malaysia Affairs, University Sydney. Vol. 25,1991. Cerpen-cerpennya juga termuat dalam beberapa antologi cerita pendek mutakhir, antara lain Cerpen-cerpen Indonesia Mutakhir, editor Suratman Markasam, 1991.

Di kalangan sastrawan sosok ini dikenal eksentrik. Ia menikahkan putranya dengan mengundang Menteri Kehutanan RI. Sebagai penghormatan atas hadirnya Menhut, secara pribadi merupakan temannya, ia memberikan emas kawin 500 batang pohon jati unggulan kepa…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi