Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2010

Sri

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal.

Di Atas Bukit Di Bawah Langit

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Anak manusia, lelaki, tapi dasar dia adalah seorang Lelaki Pendosa. Dia memang lelaki, namun tubuhnya tidak sekuat jiwanya dalam menempuhi hari. Lelaki kurus yang diberati timbangan dosa. Sepertinya dia tidak pernah perduli akan itu. Dia terus mengembara, menempuhi perjalanan yang terasa semakin semakin memukau semenjak kedatangan Perempuan Pendoa di dalam langkah perjalanan sunyi. Kakinya berkelana, tangannya yang lentik bermain kata menyeret seorang perempuan yang telah memenjara jiwanya. Perjalanan Lelaki Pendosa harus ada Perempuan Pendoa di sana, sebab jiwa sang lelaki telah terlumpuhkan begitu saja. Terlumpuhkan tanpa peperangan. Menyerah tanpa pemberontakan.

Pada keheningan sore, ketika hujan rintik untuk sejenak, jalan-jalan padat kota mereka tinggalkan. Ada angin dari selatan yang menantang. Langit di atas telah berwarna jingga, dengan gumpalan-gumpalan hitam di beberapa sudut. Pada sudut-sudut jalan yang lain, sisa-sisa kelopak mawar…

Puisi-Puisi Imron Tohari

http://www.sastra-indonesia.com/
Se-siapa

Jaka, malam gulita bulan memancar
berkayuh sampan di telaga bening
adakah salah hati bersandar
pada ikrar di sudut kerling

Duhai engkau dara remaja
gerangan apa yang kau rasa
hingga asa terejam binasa
terkubur hasrat gundah merana

Duhai jejaka pelipur lara
bagaimana hati tak gulana
saat asmara memekar bunga
pahit lidah merusak paksa

Dara, ada asap karena api
kalau saja nafsu terkendali
bilakah itu akan terjadi
pada asmara suci berseri

Jaka,sedih luka kuratapi diri
langit berjelaga hujan berlari
pada sesiapa aku menanti
ini hari ku harus kembali

( 2009 )



MANIKAM

Kala masa datang menyapa
Asa cinta seterang suria
Mengikat janji sepenuh segala
Seia sekata mestitah terjaga

Dalam rampaian puji puja
Kupu dan bunga berkecup mesra
Mematri rasa asmara bergelora
A ha,inginnya hidup sepanjang masa

Tapi!, bila cinta pergi menepi
Aiai, lara nian sesali diri
Sedih pilu bersulam sepi
Debar jantung tergetar nyeri

Apatah kini segala arti
Yang terjadi tak guna disesali
Hendaknya insan kian sadari
Uji…

Puisi-Puisi Deny Tri Aryanti

http://www.suarapembaruan.com/
Puisi Cinta untuk Valentina

Kekasihku Valentina
Kaurebahkan kepalamu di bahuku
Saat kita berjalan di atap malam
Menuai mimpi, menebarkan pengkhianatan
Pada malaikat dan bidadari
Cinta kita tertambat pada sunyi
Meski ribuan kisah menghujani dengan gerimis
Darah masih terus mengalir pada kerinduan maya
Pelukanmu hanya kutukan hantu
Di siang hari
Valentina kekasihku
Malam ini terasa dingin
Terasa kaku seperti cinta kita
yang tak pernah sampai pada laut
mungkin angin akan membawa kita pada sebuah
peristiwa
dimana malam tak lagi gelap
cinta tak lagi membutuhkan makna
atau kerinduan hanya sebatas tanda koma
Kekasihku Valentina
Kau rebahkan kepalamu di atas bahuku
Yang telah menjadi batu
saat kerinduan ini lebur pada siluet mimpi

Sby, Feb 06



Mungkin Kisah Kita

Mungkin kisah kita telah jadi legenda
Kenangan di atas menara gereja
Hanya sebatas tiupan lonceng tanpa pendeta
Teriakan-teriakan laut
seperti doa-doa sepi tanpa abjad
Misa di altar gereja
Adalah sebuah perkampungan biru
Dimana pasir-pasi…

Teater dan Pesantren

Fahrudin Nasrulloh *)
http://radarmojokerto.co.id/

Apakah itu teater? Untuk apa manusia membutuhkan teater? Kenapa orang-orang berpeluh tenaga dan keringat bermain teater? Apa ada kebajikan yang dibuahkan dari menggeluti teater? Barangkali demikianlah orang pesantren yang awam atau yang merasa punya riwayat dengan pesantren yang kurang mengenal teater akan bertanya-tanya semacam itu. Jawabannya sederhana: di pesantren nyaris tidak dikenalkan bahkan dikembangkan seni teater yang bagi mereka tidak lebih sebagai produk budaya Eropa-Barat yang hingga kini telah menjadi bagian dari seni pertunjukan moderen di Indonesia dan mendapatkan apresiasi yang luas di seluruh belahan dunia.

Berteater adalah menghirup keseharian, memaknai keberadaan diri atas nama kenyataan, dengan secermat mungkin, dengan yang biasa-biasa saja, merasakan aliran darah mengalir di urat-urat nadi. Menghayati tubuh yang bergerak, pikiran yang berkembara, orang-orang yang berpusaran dalam rutinitas keseharian dengan berbagai…

“Elang”: Potret Buram Indonesia Timur

Handoko F. Zainsam
http://oase.kompas.com/

Tak banyak mengalami kesusahan. Itulah yang pertama kali terbersit dalam pikiran saya saat membaca Novel “Elang” karya Kirana-Kejora. Begitu mengalir, lancar, dan tak tersendat kisahnya. Sepertinya saya dihadapkan kepada seorang penulis sangat piawai dalam merangkai kisah, memainkan alur, dan menyodorkan “robekan” nilai-nilai kemanusiaan.

Saya jadi teringat almarhum begawan penulisan secara populer, Ismail Marahimin. Dalam pengajarannya, ia selalu bilang, “Menulis itu mudah dan menulis itu indah”. Dalam Novel “Elang” ini, nampak sosok Kirana Kejora begitu mudah menyampikan kisah. Ia menampilkan eksistensi dirinya sebagai sosok penutur yang manis dan pencerita yang kuat.

Saat ia memulai kisah dengan perburuan Elang Timur di Hutan Timika, Papua, saya merasa diajak melihat sebuah film petualangan yang cukup seru. Kalimat-kalimatnya begitu tangkas. Sepertinya tak ada permasalahan yang serius bagi penulis untuk merangkai kisah hinga pada tahap akhir k…

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Nirwan Ahmad Arsuka*
http://cetak.kompas.com/

• Judul: Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer • Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dilengkapi Soesilo Toer • Penerbit: KPG, Jakarta, 2009 • Tebal: 505 halaman (termasuk lampiran)

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak lurus kronologis, karangan itu akan menjadi biografi atau otobiografi penting.

Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat kejadian sejarah dan karangan disusun tak harus mengikuti aliran waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelok-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Memoar ini memang disusun mengikuti arus waktu linier, tetapi terasa agak menjauh dari ”riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer yang ”seharusnya” menjadi pusat cerita …

BAHASA KAUSALITAS YANG RAHMATAN LIL ALAMIN

Nurel Javissyarqi*
http://sastrarevolusioner.blogspot.com/

Prolog:
Sebelum membahas pokok persoalan, marilah berserah kepada Sang Penyebab segala sebab. Bagaimana dikatakan kegentingan karena seringkali mengartikan akibat sebagai sebab atau sebaliknya mengerti sebab padahal itu akibat. Tentu itu menghawatirkan kesehatan iman di alam fikiran. Jika yang terpaparkan ini tidak bertepatan dengan ketentuan ayat-ayat-Nya, tinggalkanlah. Andai ada senyawa tiupan ayat-ayat-Nya yang tersirat pun tersurat, bukan dari penulis semata.

Saya harap saudara memiliki jarak pengamanan agar yang tersampaikan bukan belenggu. Telah banyak para tokoh mengupas kausalitas, tetapi perlu menilik ulang untuk mendapati pencarian itu bersesuai dengan pribadi. Tidakkah yang baru berangkat biasanya menemukan keganjilan. Harapan saya ini sanggup memberikan kesan terdalam, menempati kedudukannya sebab-akibat, atas kesamaan irama tarian Ilahiyah, amin.

Kegagalan teori Darwin terdapat pada pemilihan contoh, yang mana proses …

Politik Kanonisasi Sastra

Saut Situmorang
http://www.sastra-indonesia.com/

Dalam dunia sastra Indonesia banyak pengarang sangat yakin bahwa apa yang mereka sebut sebagai “substansi” sastra, yang konon universal, bebas-nilai (apolitis), dan abadi, itu memang ada dan merupakan satu-satunya faktor penentu baik-tidaknya, berhasil-tidaknya, sebuah karya sastra menjadi sebuah karya sastra. Contoh yang paling sering saya alami adalah menerima pernyataan “Buktikanlah dengan karya!” setiap kali saya berusaha mendongeng tentang pentingnya menyadari politik sastra yang mempengaruhi sastra di manapun terutama di Indonesia, seolah-olah apa saja karya yang mereka produksi memang secara otomatis sudah sangat penting nilainya bagi sejarah sastra. Ada sementara dari para pengarang romantik ini memakai istilah lain untuk maksud yang sama, yaitu “sublim”. Sebuah puisi yang menjadi, misalnya, adalah sebuah puisi yang “sublim”, kata mereka. Tapi para pengarang bakat alam yang romantik ini selalu lupa untuk mengelaborasi arti dari is…

GM dan Pengembalian Bakrie Award

Wijaya Herlambang
http://www.suaramerdeka.com/

GM menyatakan mengembalikan hadiah itu karena tak setuju cara Bakrie akhir-akhir ini dalam memperkuat posisi politik.

SIAPA tak kenal Goenawan Mohamad (GM)? Dia selalu berusaha jadi firgur sederhana, meski sebenarnya sangat berpengaruh. Dia selebritas kebudayaan, pemimpin budaya ”pembebasan”, terutama bagi penggemar ideologi liberalisme.

Pada 22 Juni lalu, penanda tangan Manifes Kebudayaan tahun 1963 itu mengembalikan Bakrie Award yang dia terima tahun 2004 ke penyelenggara pemberian penghargaan, yakni Freedom Institute. Hal itu mengejutkan banyak pihak, terutama yang selama ini mengamati aktivitas kebudayaan nasional. Pertama, karena GM sebelumnya dikenal dekat dengan Freedom Institute yang didirikan keluarga Aburizal Bakrie. Kedua, sebelum kasus Bank Century meletus, yang menyeret nama Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, hubungan GM dan Bakrie baik-baik saja.

GM menyatakan mengembalikan hadiah itu karena tak setuju cara…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi