Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Puisi-Puisi Landung Rusyanto Simatupang

http://sastrakarta.multiply.com/
KATANYA IA

Katanya ia pernah menyusup Merah dan merah ia kelupas jadi cokelat, putih, kuning, dan beberapa golongan minoritas warna lainnya. Konon ia pernah masuk Hijau dan hijau ia sayat-sayat hingga jadi birunya hijau, kuningnya hijau, putihnya hijau, bahkan cokelatnya hijau, bahkan juga hitampekatnya hijau. Dan ia masuk putih dan si putih diserpih-serpih jadi biru laut si putih, kuning emas si putih, coklattanah si putih, kelaburambut si putih dan ribuan serat nuansa tanpa nama. Kabarnya ia sangat sangsi sekaligus amat pasti ketika menekur, bersila, menghimpun dan menghembuskan tatapan mata pada pucuk hidung yang membulat hamil beribu cakrawala. Kabarnya ia tiba di terang yang hari-hari ini menghampiri kita sebagai warna-warni nyala lampu, papan nama, spanduk, panji, pataka, kerudung, celana mini, bikini. Semuanya cuma tertangkap oleh kita sebagai isyarat-isyarat sederhana untuk berhenti, berjalan, menghitung, menandatangan, sembahyang, membeli, mengh…

Puisi-Puisi Fauzi Absal

http://sastrakarta.multiply.com/
CATATAN DARI KASONGAN

Membangun wilayah, menekuni tanah liat
Ada ia, menyambung sejarah warisan leluhur, yakni
Memahami impian bumi pertiwi
Sembari bertegur sapa dengan irama pariwisata
Atau kata Gibran: “Mencintai kehidupan dengan bekerja”
dalam ayunan sang nasib yang beringas
Ia rumuskan kehendak zaman elektronik-informatika
dalam bentuk-bentuk patung gerabah komuditas
Ada naga ada jago ada gajah ada katak
atau celengan masa depan dipoles aksesori
namun betapa aroma tanah liatnya:
Bertautan antara kerajinan dan cocok tanam
Superman atau ksatria baja hitam tidak menjadi obsesinya
Barangkali karena tidak perlu
mengganggap zaman ini penuh dusta dan kekerasan
Sumeh saja seperti menghadapi tustel-tustel dari kota besar
yang banyak maunya
Lakoni saja pandom kehidupan yang nyasar-nyasar mau ke mana

Di tengah-tengah jagad manusia yang ngendon polutan
Masa depan toh masih terjaga dalam semilir setiap adzan
menghampar ladang dan pebukitan dengan
palawija dan jewawud padi-padian
‘Pala…

Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin

http://sastrakarta.multiply.com/
SENANDUNG LERENG BUKIT RANTANI
-Non torno vibo alcun, s’iodo il vero
senza tema d’infamia it rispondo – Dante

a/
Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada seribu gubuk menyalakan senja
di antara batu-batu kecil sekeras rinduku dan pintu-pintu terbuka
bagi perempuan-perempuan yang melongok ke luar jendela; menatap
kering setapak meliuk dan mekar kembang jagung bagai awan-awan tipis
digesek angin.

(Konon, perempuan-perempuan itu tinggal di tirai bambu dan memakai
sandal kayu. Kini, memasang antena parabola dan rumah kaca)

Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu kudengar suara dari dalam gua
memanggil anak rantau yang hilang dan perempuan-perempuan kencing
di atas lobang dan burung-burung turun ke lembah bertekukur di atas
bunga solang. Aku menumbang ilalang yang menusuk bulan.

(Memang, anak bukan bermimpi pulang ke bulan,
anak matahari pulang ke matahari)

Siapa tahu, di lereng bukit rantani itu ada anak-anak lempung lempang
berjalan menuju puncak. gerak serak beranak pin…

Puisi-Puisi Zainal Arifin Thoha

http://sastrakarta.multiply.com/
ZIARAH DOA

Dan doa adalah
Persembahyangan dalam ziarah
Menali hasrat penuh sedekap
Bersujud diri merambah akrab

Lalu salam sewangi kembang
Bagi kiri kanan tiada pandang
Dan zikir senantiasa sumilir
Mengalirkan cinta dari hulu hingga hilir

Dalam doa ada senyum shalawat
Kepada sesama erat berjabat
Itulah ziarah sepanjang shalat
Pinta dan rahmat diaminkan para malaikat



DARI SEBUAH JENDELA

Jendela yang mengetukketuk deras hujan
Adalah bayangmu yang tibatiba bersalam
Lalu kau buka mantel dan memeras
Gerai rambut yang bercucuran

Adakah yang lebih puitik
Ketimbang senyummu yang gemetar
Lalu binar mata dan bening suaramu
Menghaluskan ini jiwa dalam dingin yang nanar

Duduklah, nikmati kopi
Dan jangan dulu berkata-kata
Biarkan sejarah yang barusan berputar
Mengheningkan resah sembari
Memijit-mijit kalbu yang kepegalan

Oleh daundaun yang menempelkan tangan di kaca
Jendela itu kembali terbuka

Mempersilakan tangismu menerobos
Bersama luruh angin yang luka



HIDUP ATAU MAUT

Perjalanan ini begitu menc…

SENYUM PUN BERKEMBANG

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://www.sastra-indonesia.com/

Baik, baik, lebih baik kita simak lebih lanjut, apakah pikir dan kegelisahan yang mencucuk-cucuk dada itu masih meninggalkan bekas, ataukah sudah sirna sama sekali. Jikalau sulit untuk dihapus, lebih baik kita sendiri yang menyembunyikan ke balik baju kaos, baju-dalam, ataupun sesuatu yang tersembunyi di sini.

MEMBANGUN PENDIDIKAN, MELAKSANAKAN OTONOMI DAERAH

Catatan Kecil atas Berbagai Gagasan Besar

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

“Kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada pendidikan” (Fukuzawa Yukichi (1835—1901), Bapak Pendidikan Modern Jepang)

Membaca sebuah buku antologi, boleh jadi kita merasa laksana dibawa masuk ke sebuah lanskap yang penuh panorama. Dari sana, tema-tema yang beragam seperti hendak saling menyerbu dan memaksa kita (pembaca) melakukan pilihan-pilihan. Jika keberagaman tema yang dihadirkan itu mengesankan berbagai gagasan yang fragmentaris, maka tugas pembaca kemudian mencoba mencari benang merahnya. Mencoba pula menemukan pesan keseluruhan yang hendak disampaikannya. Bagaimana hubungan dan keterkaitan antara tema yang satu dan tema yang lain. Bagaimana pula masing-masing tema itu menyatakan diri dan menyampaikan pesan sponsornya. Apakah ada pesan holistik atau ideologis yang melatarbelakangi dan melatardepani keseluruhan tulisan-tulisan itu.

Dalam hal itulah, buku antologi kerapkali menghadirkan dua hal …

Max Dauthendey (1867-1918)

Penyair Jerman yang Meninggal di Kota Malang

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=447

Tatkala insan dari tlatah jauh memasuki alam tropis Jawa Dwipa, meyakini keberadaannya, akan diserap suara-suara gaib.

Kehadiran suara merambahi sekujur badan jiwa, naluriah berkecambah meresapi aura keganjilan.

Nalarnya ditelan pusaran keagungan, yang dicari tapak kehakikian. Kesantausaan hayat ketulusan menebarkan budhi mengembangkan pekerti.

Mendapati restu leluhur atas bencah dipijaknya. Dinaya meruh didengarnya, bisikan tak terlihat namun sangat dekat, melebihi denyutan nadi.

Dibawa terbang menuju pengetahuan tak terhingga, pengajaran tiada di negerinya.

Hingga yakin nasib kata-katanya membuncah hadir, kala anak bangsa yang didiami melestarikan.
***

Ku persembahkan sastrawan Max Dauthendey, dari buku “Malam Biru di Berlin” penerjemah Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H., penerbit PT. Star Motors Indonesia, 1989:

Dialah penyair, pengarang prosa impresionistis, yang seringkali latar belakang kary…

MENEGUK SEJARAH DAN FALSAFAH

Judul Buku : Bung Sultan
Pengarang : RPA Suryanto Sastroatmodjo
Jenis Buku : Bunga Rampai Esai
Penerbit : Adi Wacana, Juni 2008
Tebal Buku : xxxiv + 230 hlm; 15 x 21 cm
Peresensi : Imamuddin SA.
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Wartawan, penulis, sastrawan, budayawan dan siapa saja yang mengabdikan diri dalam bidang tulis-menulis, semuanya pastilah memunguti batu-batu peristiwa yang berserakan di tepian hidupnya untuk dijadikan konsep dasar karyanya dan sebagai suatu kesaksian kecil dalam sejarah kehidupan umat manusia. Meskipun bersikap kecil, jika batu-batu itu dikumpulkan secara terus-menerus, seseorang akan mampu membuat rumah sejarah, bukit sejarah, bahkan gunung sejarah.

Bung Sultan merupakan sebuah karya yang patut kita selami dan kita teguk setetes demi setetes bening air kesaksian serta pemikiran pengarangnya. Karya ini digurat dari serpihan peristiwa yang tertangkap oleh indrawi pengarangnya. Pengarangnya tidak lain adalah seorang tokoh yang fenomenal yang dimiliki bangsa …

KEMBANG KERTAS

Judul : Kembang Kertas
Penulis : Kurniasih
Penerbit: Jalasutra, cet 1 2005
Tebal : 200 hal
ISBN : 979-3684-37-2
Peresensi: Hernadi Tanzil
http://www.ruangbaca.com/

Kurniasih adalah bibit baru yang menjanjikan sesuatu (hal 13), demikian komentar Bambang Sugiharto, filsuf dan pengamat sastra “jebolan” Unpar (Universitas Parahyangan) Bandung dalam menutup kata pengantarnya di buku ini. Kurniasih, penulis muda kelahiran Bandung ini, tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Sastra Inggris IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kini ia aktif di FSK (Forum Studi Kebudayaaan) ITB, sebuah forum yang bergiat dalam pengkajian berbagai permasalahan budaya kontemporer. Di FSK inilah ia sering mendiskusikan dan menuliskan kajiannya tentang sastra. Kegiatan hariannya saat ini adalah menjadi editor buku fiksi dan nonfiksi di penerbit Jalasutra, Aktifitasnya yang dekat dengan dunia baca-tulis inilah yang mendorongnya untuk menulis fiksi yang antara lain tertuang dalam buku kumpulan cerpen ini.

Kembang Kertas ada…

Hamsad Rangkuti, Kereta Api dan Pohon Jati

Dimas
http://www.poskota.co.id/

Hamsad Rangkuti kembali bikin ulah unik. Dia menikahkan putranya dengan mengundang menteri kehutanan RI.
Sebagai penghormatan atas hadirnya Menhut, yang secara pribadi merupakan temannya, dia memberikan mas kawin 500 batang pohon jati unggulan kepada mantunya, yang langsung ditanam.

Mas kawin berupa 500 bibit pohon jati unggulan ini diberikan dalam ijab kabul Girindra Rangkuti dan Sitti Samrotul Fuadah yang disaksikan Menteri Kehutanan, MS Ka’ban, di Kampung Cimayang III RT 12 RW 05, Desa Cimayang, Pamijahan, Leuwiliang, Bogor, Minggu (5/7).

Dalam ijab tersebut, diserahkan sejumlah seserahan termasuk cara simbolik mempelai pria menyerahkan satu pot bibit pohon jati tersebut.

Usai prosesi kedua mempelai itu, seperti dilaporkan detik.com, beserta orang tua, kerabat dan MS Ka’ban, mereka menanam bibit pohon jati di sebuah hutan yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat acara.

Menurut MS Ka’ban, bila 500 bibit jati ini tumbuh dan kemudian mencapai 10 tahun, dipe…

Pencarian Kesejatian Adlawi

Mohammad Eri Irawan*
http://www.jawapos.com/

Puisi, pada mulanya, adalah ikhtiar penyair menyampaikan ide (dan nubuat) lewat imaji-imaji yang ia representasikan dalam huruf-huruf di puisinya. Imaji itu ada berserakan di mana-mana lalu ditangkap oleh indra penyair. Tantangan utama sang penyair adalah mengolah imaji itu untuk dikonkretkan menjadi ide (dan nubuat) ke dalam puisi, terkadang lewat hal-hal yang simbolik.

Persoalan menghadirkan kekuatan ide yang implisit dalam kata-kata di puisi yang sesungguhnya eksplisit setidaknya menjadi salah satu parameter keberhasilan rekam jejak kepenyairan seseorang.

Samsudin Adlawi hadir lewat buku sajaknya, Jaran Goyang. Sebelum ini, jejak kepenyairan Adlawi (khalayak memanggilnya Sam atau Udi) sudah lumayan panjang. Sejumlah sajaknya hadir di beberapa antologi, seperti Interupsi (1994), Cadik (1998), Wirid Muharram (2001), dan Dzikir (2001). Dari jejak kepenyairan itu, buku ini tetaplah menjadi milestone bagi Adlawi dalam menghidupi dunia sastra tana…

Di Balik Penerbitan Buku Sastra Swadaya

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

BULAN-bulan terakhir saya menerima beberapa antologi cerpen dan puisi. Buku-buku itu tak cuma karya pengarang/penyair yang tinggal di Ibu Kota dan terbit di Jakarta, akan tetapi juga karya pengarang/penyair yang berdomisili di daerah, dan diterbitkan di daerah.

Dari Jakarta, saya terima antologi cerpen Papirus, berisi cerpen 24 mahasiswa/i Jurusan Teknik Grafika & Penerbitan Politeknik Universitas Indonesia. Lantas kumpulan puisi Di Antara Kita karya Salimi Ahmad; Antologi 20 Penyair yang berisi puisi 20 penyair usia 50-60 tahun; kumpulan cerpen Tina K Laki-laki Beroma Rempah-Rempah yang diterbitkan Kutubuku (milik Kurniawan Junaedhie, yang juga menerbitkan antologi cerpen saya, Nasihat-nasihat Cinta); dan Cerpen Kompas Pilihan 2008 Smokol yang memuat 15 cerpen dari 15 pengarang.

Dari daerah, ada antologi puisi Redi Lawu, memuat sajak-sajak 19 penyair yang tinggal di sekitar Gunung Lawu, diantaranya Beni Setia (Caruban), Hardho Sayoko SPB, K…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi