Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

GEJALA KEMUNCULAN SAJAK BERALIRAN DEKORATIF

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=291

Seorang penyair diharuskan mencari nilai-nilai hayatnya sendiri, meski tengah belajar pun sudah pelajari keilmuan dari berbagai sumber hikmah lain.

Di kedalaman dirinya, pantas menggali yang dirasakan gejolak sehari-hari, atas pantulan hidup bermasyarakat, serta jalannya sejarah yang menggumuli.

Bukan sekadar menghayati lorong-lorong pernah dilewati para pendahulu. Di sinilah tantangannya, apakah penyair tulen atau sekadar pengekor nilai yang ada, dari agama, filsafat pun keilmuan lain.

Kita tahu Ibnu Arabi, walau mengambil ajaran Islam sebagai sungai menghanyutan jiwanya, tapi dirinya tak sekadar ikuti arus semata, ada usaha keras mengeduk relung terdalam, pada yang bergolak di kedalaman jiwa.

Al-Hallaj juga tokoh-tokoh yang menggenggam suatu nilai dengan khusyuk tawadhuk, namun tetap keimanannya tidak seperti hamba membutakan mata.

Ada pencarian sungguh dari faham dianutnya, hingga memunculkan cahaya syiar cemerlang, menjadi pandangan bar…

SIMBOL WAKTU SEBAGAI REPRESENTASI IDEOLOGI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Fantasi-fantasi yang bertebaran pada masa kanak-kanak, konon, secara tidak sadar akan muncul kembali pada masa dewasa dalam bentuk yang lain. Jika pada masa kanak-kanak kita dihinggapi ketakutan akan hantu, bayangan nenek sihir, manusia bertaring yang akan menculik anak-anak nakal yang suka menangis, makhluk raksasa pemangsa manusia, atau sesosok makhluk yang dicitrakan begitu menakutkan, misalnya, pada masa dewasa ia akan berubah wujud menjadi ketakutan terhadap sesuatu yang dibayangkan dapat menghancurkan dirinya, karier, kehidupan rumah tangga atau ketakutan lain yang muncul begitu saja tanpa dapat dipahami sebab-musababnya.

Demikian juga sebaliknya. Serangkaian fantasi tentang harapan dan keinginan pada sesuatu yang tak dapat diwujudkan pada masa kanak-kanak, prinsip kenikmatan yang direpresi, tanpa sadar akan muncul kembali dalam bentuk lain yang sebenarnya merupakan representasi dari keinginan dan harapan pada masa anak-anak itu. Pern…

Agam Wispi (1930-2003)

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di sebuah rumah jompo di Amsterdam yang dingin, tahun 2003 dibuka dengan seorang penyair yang meninggal. Ajal datang hanya beberapa menit setelah 31 Desember. Itu hari ulang tahunnya. Saya bayangkan ia, persis pada usia 72 itu, sendiri, mungkin dalam kamar yang padam lampu, ketika cuaca di luar di bawah nol.

Hampir 40 tahun lamanya ia juga praktis diletakkan dalam gelap dan dalam sunyi. Indonesia seakan-akan melupakannya, Agam Wispi, satu dari khazanah nasional yang berharga: bukan saja puisinya yang cerah dan menggugah, tapi juga hidupnya sebagai satu saksi sejarah Republik? sebuah sejarah yang tak putus-putusnya digerakkan oleh cita-cita dan dihantam kekerasan.

Ia telah mengalaminya bahkan sejak awal. Di rumah masa kecilnya pernah menginap Tan Malaka, dalam salah satu perjalanan rahasia. Ketika itu, demikianlah ia pernah bercerita kepada saya, dari Aceh orang tua Wispi pindah sebentar ke Singapura, satu migrasi yang biasa di masa kolo…

Evi Idawati Luncurkan Novel Teratak

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Evi Idawati pernah populer sebagai seorang artis layar kaca. Kedalaman pemahamannya tentang peran, bisa dilihat dalam aktingnya di sinetron dan film televisi Balada Dangdut, Dongeng Dangdut, Ketulusan Kartika, Wanita Kedua, Satu Kakak Tujuh Keponakan dan lain-lain.

Evi juga aktif main drama kolosal. Trilogi Oidipus, Cabik, Titik Titik Hitam, Sumur Tanpa Dasar dan Kapai Kapai adalah beberapa diantara sejumlah drama yang pernah dimainkannya di seputar Yogyakarta dan beberapa kota lainnya di tanah air.

Tetapi itu beberapa tahun yang silam. Kini alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta kelahiran tahun 1973 ini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis.

Dengan menikmati dunia penulisan kreatif, Evi merasa lega karena berhasil menumpahkan ide-idenya kedalam beragam karya tulis seperti puisi, cerita pendek, novel,skenario film dan sinetron. Ia juga menulis esai.

Satu persatu karya tulis Evi kemudian mengalir ke redaksi koran-koran dan majalah d…

Penyair Rendra

Jakob Sumardjo*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

UNTUK masa-masa mendatang, Rendra akan lebih banyak dibicarakan sebagai penyair. Karya-karyanya di bidang ini lebih monumental dibandingkan dengan karya-karya drama dan fiksinya (cerpen-cerpen). Sekurang-kurangnya, ia telah menerbitkan sepuluh kumpulan puisi dalam bentuk buku. Memang sejak 1970-an dia dikenal pula sebagai orang teater. Akan tetapi, karier awalnya sebagai penyair sudah dimulai sejak 1950-an.

Saya mulai membaca sajak-sajaknya dalam majalah sastra Kisah yang terbit tahun 1953. Kumpulan sajaknya yang pertama adalah Ballada Orang-orang Tercinta yang terbit pada 1957 dan langsung dihargai hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Sejak itu, mengalir sajak-sajaknya yang lebih personal sehingga karya-karyanya menjadi saksi zamannya.

Pendidikan Rendra adalah sastra Barat meskipun dia tidak menamatkannya. Ini gejala umum di tanah air bahwa mereka yang kritis dan kreatif sejak masa mahasiswa, jarang …

Sastra Sunda di Mata Seorang Batak

Wilson Nadeak*
http://cetak.kompas.com/

Ketika Shahnon Ahmad (sastrawan Malaysia) memberi ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sekitar tahun 1970-an dalam pertemuan sastrawan Indonesia, Rustandi Kartakusumah yang duduk di sebelah kanan saya tiba-tiba berdiri dan berkata dengan lantang, “Jika Anda ingin mengetahui sastra dunia, pelajarilah sastra Sunda!” Shahnon yang agak terkejut lantas bertanya, “Anda siapa?” “Saya Rustandi Kartakusumah.” “Oh, sama dengan nama anak saya!”.

Peserta yang lain senyum-senyum. Bicara soal anak, Rustandi pastilah tidak berkutik karena sampai tua pun ia masih “kawula muda”. Lalu Rustandi merujuk kepada buah pikirannya yang pernah dicetuskan dalam diskusi di Universitas Indonesia tahun 1950-an.

Rustandi adalah sastrawan Sunda yang terkenal dengan dramanya Merah semua, Putih semua dan sangat bertolak belakang dengan kritikus HB Jassin dalam visi dan penilaian. Rustandi yang banyak berkelana seantero dunia kembali ke tanah leluhurnya dan giat menerjemahkan ka…

Rumah Puisi, Rumah di Telapak Dua Gunung

Ahda Imran
http://www.pikiran-rakyat.com/

SELEPAS Kota Padangpanjang, di Kanagarian Ai Angek Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat, terdapatlah setumpak tanah di atas ketinggian yang terletak di pertemuan telapak Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Di situlah letaknya Rumah Puisi. Menyendiri dikelilingi areal kebun, persawahan, dan sebuah jalan kecil menurun berbatu menuju jalan besar yang menikung. Yang disebut Rumah Puisi itu adalah sebuah bangunan yang terbilang megah dan nyaman. Nyaris seluruh bagian depan dan sampingnya berdinding kaca sehingga apa yang terdapat di dalam gedung itu, yakni ruang diskusi dan perpustakaan, dan semua kegiatannya bisa tampak dari luar.

Beberapa meter dari Rumah Puisi terdapat sebuah rumah dengan dua kamar yang nyaman. Rumah itu diperuntukkan bagi sastrawan tamu (writer residence) yang merupakan salah satu program dari Rumah Puisi. Selama satu bulan, sastrawan dipersilakan tinggal di situ untuk berkarya, seperti novelis Ahmad Tohari dan penyair D. Zawawi I…

Garin Nugroho, Menangis di Bawah Lukisan Michelangelo

Alex Suban
http://www.suarapembaruan.com/

Tahun ini genap 25 tahun Garin Nugroho (48) menapaki karier profesionalnya. Garin “tukang” membuat film, begitu ia telanjur dikenal. Lewat tangannya, lahir film-film yang meraih penghargaan di berbagai festival film di luar negeri, termasuk untuk kategori sutradara terbaik, sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya.

Opera Jawa (2006), contohnya, meraih penghargaan kategori Best Actress dan Best Sound Track di Nantes Film Festival (2006). Film yang diproduksi SET Film dan New Crowned Hope itu, juga meraih penghargaan kategori Best Composer di Hong Kong International Film Festival (2007). Karya film dokumenternya, Tepuk Tangan (1986), meraih penghargaan Best Education Film dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 1986. Karya dokumenter yang lain, Air dan Romi dinobatkan sebagai karya dokumenter terbaik di Okomedia International Ecological Film Festival, Freiburg, Jerman, 1992.

Sepanjang kariernya, Garin menelurkan 11 karya film cerita, 11 karya fil…

Media Harus Ikut Mencerdaskan Bangsa melalui Bahasa

Prita Daneswari
http://www.mediaindonesia.com/

Di Indonesia, media massa kini mempunyai pengaruh besar bagi pemikiran dan kebahasaan masyarakatnya.

Untuk itu, melalui bahasa, media massa harus ikut serta dalam mencerdaskan bangsa ini. Hal itu dikemukakan para pemerhati bahasa Indonesia dalam sebuah diskusi bahasa bertajuk Kajian Media Massa: Mencari Kata Baku. Acara ini diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) dan Forum Bahasa Media Massa, bertempat di Gedung Dewan Pers di Jl Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (16/12).

Para pembicara yang hadir yakni Redaktur Senior Majalah Tempo A Amarzan Lubis, pakar bahasa Indonesia Prof Dr Anton Moeliono, serta Ketua FBMM TD Asmadi.

FBMM adalah suatu organisasi yang terdiri atas orang-orang yang peduli terhadap bahasa Indonesia. Para anggotanya sebagian besar adalah editor bahasa dari beberapa media massa di Tanah Air, seperti Tempo, Kompas, Antara, Swa, dan RCTI.

Melalui diskusi akhir tahun ini, para pakar bahasa itu bertujuan mencari kesepakatan mengena…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi