Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

REALITAS (SEJARAH) MASA DEPAN

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Ini seolah dunia yang diandaikan peramal atau lagu gubahan firasat, namun tidak. Kita memiliki kemampuan tersebut, sebab memperoleh kenangan silam atas perjalanan hayat kesadaran kekinian. Posisi bertahan-menyerang atau penerimaan aktif dari dalam. Realitas masa depan itu, bayangan kemarin kepada kesadaran terkini yang hendak menggapai kemungkinan.

Awal kali bermain catur, tentu memperhatikan yang di depan. Buah catur kita dengan milik lawan dalam dunia permainan. Kesadaran posisi, ukuran jangkauan, gerak langkah atau berhenti mendadak, ialah usaha gerak kekinian menuju masa depan.

Pengetahuan menjelma ilmu saat berulangkali terjadi, menjadi bahan pelajaran pada cita kebenaran melangkah. Dan sebaiknya jebakan dihindari, agar kuda tunggangan tidak terperosok kembali. Situasi di depan itu wajah yang harus diterjemahkan, menjadi pilihan melangkah bertepatan realitas yang gemilang.

Hidup tak lebih permainan berulang, dengan ukuran t…

Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Penulis terhenyak ketika memperoleh berita bahwa Dami N Toda telah meninggal pada bulan November 2006 yang lalu. Perkenalan pertama kami terjadi di Sanggar Wowor milik pematung Michael Wowor di Jalan Kalibata Raya pada tahun enam puluhan ketika Menteri Perkebunan waktu itu, Frans Seda, memberi oder kepada Michael untuk membuat patung Irama Revolusi.

Dami masih kuliah di UI ketika itu dan karena ia masih punya hubungan keluarga dengan Michael (kakak perempuan Michael kawin dengan famili Dami seorang yang bergelar ‘raja muda’ atau bangsawan Manggarai yang kemudian menjadi bupati) maka sudah tentu Michael membantu Demi sekadarnya.

Kami bertiga selalu berdiskusi tentang seni-budaya termasuk bagaimana membangun NTT melalui kesenian khususnya pariwisata budaya umumnya.

Lalu saya menulis di Kompas dan Dami menulis di Suara Karya dan sebuah majalah di Flores mengenai tema pembangunan budaya ‘kampung’ dan pendidikan non formal yang dalam perkembangan st…

Sastra Setelah ‘Pendidikan Ulang’

Yos Rizal S
http://www.ruangbaca.com/

Karya-karya terjemahan dari penulis generasi “pendidikan ulang” Mao hingga penulis mutakhir Cina kini gampang ditemukan di toko buku. Siapa saja mereka?

Sepotong biola itu berubah menjadi sebuah ancaman. Seorang kepala desa di kaki gunung Burung Hong dari Langit di kota Yong Jing, Cina, membolakbalik biola seperti tengah mencari bubuk heroin yang mungkin disembunyikan di alat musik itu. Ia juga mencurigai biola yang dibawa dua orang anak muda di depannya sebagai senjata.

Tapi seorang penduduk desa berseru dari balik kerumunan orang-orang yang mengerubungi Pak Kepala Desa. “Itu mainan tolol,” ucapnya. “Bukan, “ Pak Kepala Desa membetulkan, ”mainan borjuis.” Luo, salah seorang dari anak muda tertuduh itu, menjelaskan bahwa “benda aneh” yang diributkan seluruh desa itu adalah sebuah alat musik.

Luo lalu menunjuk tokoh Aku untuk memainkannya. “Apa judul lagumu?” tanya Pak Kepala Desa. “Mozart,” tokoh Aku bergumam. “Mozart apa?” “Mozart Memikirkan Ketua Mao…

Narasi Haji dalam Prosa Indonesia

Damanhuri
ttp://www.lampungpost.com/

Ke angkasa hitam, kulihat, jemaah itu tengadah. Langit gelap langit pekat…Ada langit lain, angkasa lain, di dalam dada. “Putih, benderang, melesat-lesat lempeng cahaya.” Lempeng! Adakah-adakah itu lempengan doa? Tuhan, tak ada hal yang ingin Kau sampaikan kecuali bahwa apa pun doa, dari hati yang bersih, adalah cahaya. Betapa. Tetapi, aku?…

Panggilan ini. Haji tahun lalu. Ingatan akan kampung. Betapa. Apakah sebenarnya makna kata “mampu” atau “sanggup”? Apakah yang telah kuperbuat di tahun lalu?

Kutipan di atas berasal dari paragraf-paragraf awal novel karya Gus tf Sakai, Ular Keempat (Kompas, 2005), yang memungut fakta sejarah seputar kisruh perhelatan haji tahun 1970 sebagai latar cerita. Sebuah novel unik dengan pilihan tematik yang juga langka: pergulatan spiritual Haji Janir, seorang pengusaha rumahmakan, yang “kecanduan” naik haji tapi sembari tetap tak menyisihkan kepedulian pada nasib sesamanya.

Gemar beribadah tapi selalu gagal menangkap pesan …

Novel Fenomenal tanpa Resep Tunggal

Judul buku: Ayat-Ayat Cinta
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika dan Basmala
Tebal buku: 420 halaman
Cetakan: Pertama, Desember 2004
Halaman: 20,5 x 13,5 cm
Peresensi: Detti Febrina*
http://www.lampungpost.com/

BANYAK faktor yang melatari sebuah buku hingga bisa dikategorikan buku laris atau best seller. Namun, novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang sampai Desember 2007 sudah memasuki cetakan ke-30 dengan jumlah yang terjual sekitar 300 ribu eksemplar–konon memecahkan rekor buku laris se-Asia Tenggara–memang menjadi fenomena tersendiri yang rumus suksesnya tidak bisa dipilah secara singularis.

Sukses novel bergenre sastra islami ini tidak kurang membawa dua penerbit besar Malaysia memperebutkan hak edar dalam bahasa Melayu. Dalam wawancara dengan majalah Tempo (31-12-2007), Direktur Penerbit Republika Tommy Tamtomo mengaku novel itu rencananya juga terbit di Kanada dan Australia.

Tambahan lagi, Januari 2008 ini akan ada acara Napak Tilas Ayat-Ayat Cinta ke Mesir. Dengan membayar 1.20…

Karena Fiksi bukan Kutbah Jumat

Efri Ritonga, Oktamandjaya Wiguna, Angela
http://www.ruangbaca.com/

Fiksi bernapas Islam tumbuh tanpa peningkatan kualitas

Beberapa tahun silam, Aisyah Putri adalah bunga di musim semi. Hampir tidak ada pembaca buku remaja Islam yang tidak mengenalnya. Pintar, ramah, dan baik hati, teladan yang ia berikan meresap di hati pelajar sekolah menengah, yang menjadi pembaca utamanya.

Bak gulungan ombak, seri karya Asma Nadia ini meraup sukses di pasar fiksi Tanah Air. Keberhasilan Aisyah Putri, yang mencuri perhatian remaja hampir tujuh tahun silam, itu antara lain karena penokohan yang sangat lokal dan mengena di hati remaja Indonesia. Bak kata anak remaja, “gue banget”. Apalagi, di masa itu, fiksi remaja populer didominasi chicklit dan teenlit terjemahan yang kurang menyentuh kehidupan pembaca lokal.

Menurut Asma, ciri khas novel remaja islami terletak pada muatan nilai di dalamnya, verbal atau pun tidak. “Fiksi islami mencoba untuk memberi pencerahan bagi pembacanya,” kata penulis yang telah m…

Bahasa Jawa Suriname dan Belanda

Endang Suryadinata*
http://www.radarsampit.com/

KISAH Ramadan dan Lebaran di Kampung Orang-Orang Jawa di Suriname, yang saya ikuti dari situs Jawa Pos (Grup Radar Sampit) pada 20-23 Oktober 2006 lalu sungguh menjadi sajian menarik, seperti “kacang renyah” di waktu Lebaran. Bagi warga Surabaya yang tinggal di Belanda seperti saya, sajian itu seolah-olah membangkitkan nostalgia betapa unik, asyik sekaligus eksotik berlebaran di desa-desa di Magelang, Jogjakarta atau Kediri di dekade 70-an atau 80-an dulu.

Selain itu, sebagai peminat sejarah sekaligus pemakai bahasa Jawa di negeri asing, saya merasa mendapatkan air sejuk lewat tulisan wartawan Jawa Pos Arief Santosa itu. Betapa bahasa Jawa masih eksis justru di sebuah negeri asing seperti Suriname. Seperti kita tahu saat ini penutur atau pemakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar sehari-hari tinggal sekitar 80 juta orang di seluruh dunia.

Meski jumlahnya tampak cukup banyak, belakangan sering muncul kekhawatiran bahasa satu ini akan musnah…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi