Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

KA(E)PUJANGGAANNYA PAHLAWAN DIPONEGORO

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=478

Sebelum jauh merambah pada karya Beliau. Terus terang saya terusik dengan ejaan Diponegoro menjadi Dipanegara. Kenapa Bojonegoro tidak dirubah menjelma Bajanegara? Dst. Bagi saya tetap menggunakan logat aslinya (:jawa) yakni Diponegoro, disamping mengukuhkan literatur yang terakhir ada. Berangkat dari asal dialek, daya pamornya dapat disadap lebih mantab, saat mengejawantahkan suatu kalimah, apalagi kerja bersastra.

Di tanah Jawa, sebutan Pangeran yang kesohorannya melebihi raja-raja kecil ialah Pangeran Diponegoro. Padahal jauh di benaknya tiada membanggakan titel itu, ia lebih nyaman sebagai rakyat biasa, lebih berasa mengunyah asin garam kehidupan jelata. Tak ada pantulan lain, selain kesadaran berontak-lah hal tersebut terbit, menyunggi matahari bencah Dwipa kala itu.

Saat membaca roman sejarah karangan J.H. Tarumetor TS. yang bertitel “Aku Pangeran Dipanegara” penerbit Gunung Agung Djakarta 1966. Saya merasakan betapa sengit pergol…

Geometri Tertawa

Hudan Hidayat
http://hudanhidayat.multiply.com/

Geometri Euklides bertemu dengan kepastian Descartes: “setiap dua titik dapat ditarik sebuah garis lurus”, sejajar dengan “aku berpikir maka aku ada”.

Kita bisa memasuki permainan pikiran ini dengan pernyataan lain: “setiap pikiran yang dituliskan akan menghasilkan aksara atau dunia tanda”.

Itulah hipotesis yang tak perlu berepot membawanya ke dunia laborat: kita bisa mengerjakannya sendiri dan saat ini: mengambil pena dan meletakkan dua titik secara berjauhan, lalu menghubungkan kedua titik itu dengan satu garis lurus. Saat kita melakukan itu pun pernyataan Descartes sudah dan sedang berlangsung: adanya diri kita yang sedang membuat sebuah garis lurus. Begitu juga saat kita melontarkan pikiran itu ke dalam dunia tulisan.

Tapi, apakah itu dunia kepastian, sebagaimana ilmu mengangankan untuk dirinya? Tidak. Itu tetap dalam tingkatan “hipotesa” karena belum terjadi. Berulang-ulangnya ketiga rangkaian pernyataan itu bukanlah sebuah kepastian, se…

Resital Sastra dari Tanah Melayu

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

JAKARTA – Salah satu wilayah di Sumatera yang dikenal dalam perkembangan pustaka sastra dan bahasa Melayu adalah Kepulauan Riau. Enam sastrawan dari wilayah ini akan muncul di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (29/1).

Para penyair itu antara lain Hasan Aspahani, Hoesnizar Hood, Machzumi Dawood, Ramon Damora, Samson Rambah Pasir dan Tarmizi. Tajuknya pun unik, ”Resital Sastra dari Negeri Kata-kata”.

Penyair yang akan berekspresi, Hoesnizar Hood yang menjabat Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau itu mengatakan bahwa idiom itu setidaknya digunakan sebagai identitas terutama soal ”negeri kata-kata”.

Sebelum pembacaan puisi, akan digelar juga diskusi dengan tajuk idiom Melayu khas ”Cakap-cakap Rampai Sastra” menghadirkan pembicara Al-Azhar dan Tommy F Awuy. Acara yang diadakan atas kerja sama Yayasan Panggung Melayu dan Dewan Kesenian Kepulauan Riau bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta ini, merupakan ag…

Nippon

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Pendiriankoe sekarang tetaplah soedah,
Berdjoeang sampai sa’at jang achir,
BERSAMA NIPPON, madjoe melangkah,
KEBESARAN ASIA MESTILAH LAHIR…

– Hamka, “Diatas Roentoehan Malaka-Lama”, dalam Pandji Poestaka, No. 25, 1943

BANYAK orang yang salah harap dan salah sasar pada tahun 1943. Hamka adalah salah satu di antaranya. Ketika itu Indonesia diduduki Jepang, negeri yang mendamik dada sebagai pembebas Asia, kekuatan yang meneriakkan slogan “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!” Seperti banyak sastrawan dan tokoh masyarakat di masa itu, Hamka juga menghunus kata “berdjoeang”, “madjoe” dan “Asia” dengan tangkas—terkadang terlampau tangkas.

Saya pernah bertemu dengan seorang yang ingat bahwa pada suatu hari tahun 1940-an itu ia melihat Hamka, novelis (Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah) yang sudah mulai diakui sebagai seorang tokoh masyarakat muslim, naik kuda ke esplanade Kota Medan, seraya diikuti orang ramai yang berla…

NASKAH KUNO DI DHARMASRAYA

Pramono*
http://www.padangekspres.co.id/

Tulisan ini merupakan catatan kecil dari observasi awal tim peneliti naskah kuno yang terdiri dari dua peneliti Fakultas Sastra Universitas Andalas dan enam peneliti Balai Bahasa Padang pada 19 Februari 2009 lalu. Observasi ini adalah permulaan dari rangkaian penelitian yang bertujuan untuk melakukan inventarisasi, katalogisasi, digitalisasi dan kajian teks terpilih naskah-naskah yang masih tersebar di tangan masyarakat Kabupaten Dharmasraya.

Baru sehari dilakukan penelusuran, tim peneliti sudah “dihidangkan” puluhan naskah di Nagari Koto Padang dan Pisang Rebus. Setidaknya, gambaran awal ini membuat kami merasa bahwa memilih Kabupaten Dharmasraya sebagai lokasi penelitian naskah-naskah kuno adalah keputusan yang tepat.

Tim peneliti baru mendatangi dua lokasi, yakni Jorong Koto Padang, Nagari Sialang Gaung, Kecamatan Koto Baru dan di Nagari Pisang Rebus Kecamatan Sitiung. Di Jorong Koto Padang dijumpai puluhan naskah kuno koleksi Hj. Nerseha yang k…

Kehilangan Jejak Sapardian

Senggrutu Singomenggolo
http://kompas.co.id/

KEHILANGAN JEJAK SAPARDIAN PADA SAJAKNYA DI KOMPAS 22 MARET 2009 - SEBILAH PISAU DAPUR YANG KAUBELI DARI PENJAJA YANG SETIDAKNYA SEMINGGU SEKALI MUNCUL BERKELILING DI KOMPLEKS, YANG SELALU BERJALAN MENUNDUK DAN HANYA SESEKALI MENAWARKAN DAGANGANNYA DENGAN SUARA YANG KADANG TERDENGAR KADANG TIDAK, YANG KALAU DITANYA BERAPA HARGANYA PASTI DIKATAKANNYA, “TERSERAH SITU SAJA…”
(KADO ULTAH SAPARDI DJOKO DAMONO KE 70)

Mengenal Sapardi Djoko Damono seperti mengenal jelas jejak kreativitas saya tigapuluh tahun yang lalu hingga terakhir mengikuti matakuliah dia secara resmi dan menghasilkan tesis yang juga atas bimbingannya. Saya murid yang bengal untuk ukuran akademis karena saya tidak menguntit seratus persen segala yang dijejaki gurunya. Saya membayanginya seperti halnya sajak dia yang monumental:

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yan…

Seni, Imajinasi, dan Kampanye Pencitraan

M. Shoim Anwar
http://www.jawapos.com/

HARI-HARI ini di sekitar kita benar-benar dipenuhi oleh suasana dan media kampanye dengan simbol-simbol politik. Poster, baliho, spanduk, foto, selebaran, dan sejenisnya tumbuh seperti rumput liar di pinggir-pinggir jalan. Radio yang kita dengar, televisi yang kita tonton, serta koran yang kita baca telah dikepung oleh nuansa politik. Persuasi yang dimunculkan simbol-simbol itu terus berulang, mengalami repetisi dari waktu ke waktu untuk merogoh simpati kita. Ibarat menu, semua itu disajikan secara bersama-sama dan kita dipaksa untuk melahapnya. Atas nama pesta, awalnya kita memang sangat bernafsu melahapnya, tapi lama-lama kita pun muntah dibuatnya.

Kita memang selalu belajar dari sejarah. Masa lampau, hari ini, dan masa mendatang adalah ruang gerak perjalanan sejarah. Ironisnya, politik dan kekuasaan hampir selalu memberi sejarah ketidakpastian dalam kenyataan hidup. Berbagai isi media politik yang ada di sekeliling kita bukanlah kenyataan sebenar…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi