Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Bukittinggi di Peta Sastra

Adek Alwi*
http://www.suarakarya-online.com/

KOTA Bukittinggi, Sumatera Barat, boleh jadi sudah lenyap dalam peta sastra Indonesia. Atau bulatan-merahnya yang dulu tegas, nyata, sekarang samar saja. Tidak terdengar lagi aktivitas sastra di kota itu.

Juga tak terbaca karya sastrawan yang ada di kota itu, misalnya dalam jurnal dan majalah sastra atau ruang-ruang sastra surat kabar. Beda dengan kota tetangganya, dan yang lebih kecil, Payakumbuh. Payakumbuh satu-dua dasawarsa terakhir bersinar dengan kegiatan sastra serta karya sastrawan yang berdomisili di sana, seperti Gus tf, Adri Sandra, Iyut Fitra dan banyak yang lainnya.

Sebenarnya, pada dasawarsa 1950-an dan paling tidak sampai penggal pertama 1960-an, Bukittinggi justru kota penting dalam atlas sastra Indonesia. Keberadaannya tak hanya patut ditandai bulatan-merah, melainkan bulatan yang dikurung segi-empat. Persis keberadaan kota itu pada peta bumi Indonesia masa itu, yakni ibu kota Provinsi Sumatera Tengah (Sumatera Barat-Riau-Jambi…

Jejak Religius dalam Perpuisian Indonesia

Lukman Asya
http://www.infoanda.com/

Dalam konteks tulisan ini religiositas dimaknai sebagai religious feeling or sentiment atau perasaan keagamaan. Religiusitas berarti termanifestasikannya suatu keyakinan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia; adanya suatu penyerahan diri, ketundukan dan ketaatan (Atmosuwito, 1989). Rohaniwan Muji Sutrisno mengartikan religiusitas sebagai intinya inti agama. Mangunwijaya (1982) memahami religiusitas lebih pada getaran hati nurani.

Religiusitas dalam sastra Indonesia selalu hadir dalam konteks wacana (pembacaan maupun penciptaan) sekularisme dan materialisme yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritualitasnya. Penghayatan yang intens terhadap Tuhan, menyoal aspek-aspek personalitas kebaktian makhluk kepada Tuhan, sedu-sedannya di dalam suatu karya bukan hanya karena alasan untuk memperoleh pengetahuan tentang religiositas an sich, melainkan juga karena secara pragmatis sebagai suatu gerakan mencari dimensi yang hilang dari religi. Religi…

Gaya Barok pada Puisi Indonesia

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Pada dasa warsa akhir abad XX dan hingga kini, kiranya terjadi perubahan konsepsi dalam perwujudan puisi-puisi Indonesia. Kekangan spirit eksistensial yang mengambil bentuk Simbolis bukan lagi menjadi pilihan yang menarik. Model-model semacam puisi Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Taufik Ismail serasa ketinggalan zaman. Maka muncullah nama-nama penyair seperti Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Sitok Srengenge, HU Mardi Luhung, Arief B. Prasetyo, W. Haryanto, Adi Wicaksono, Oka Rusmini. Puisi-puisi merekalah yang menciptakan masa silam bagi kepenyairan terdahulu.

Puisi ”Mahasukha” dari Arief B. Prasetyo, misalnya: Di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap, kungang-kunang terbang, menikung, mengiang, membandang, terus, terus, cepat, ringkus, remas, hempas, keras-keras, jadi jerit bianglala yang terkulai di telaga, yang terberai, terkapar menggapai-gapai akar darah… Pilihan kata dan pola perakitan kata pada puisi Arief serasa chaos. Strukt…

Sastra Sufi dan Mainstream Politik

Judul Buku : Oposisi Sastra Sufi
Penulis : Aprinus Salam
Penerbit : LKiS, Jogjakarta
Cetakan : 1, Juni 2004
Tebal : xii+205 halaman
Peresensi : Marluwi
http://arsip.pontianakpost.com/

PUNCAK sufisme adalah tercapainya ‘ekstase’ religius bagi hamba di hadapan Ilahi. ‘Ekstase’ tersebut dalam bentuk kesalehan yang sungguh-sungguh. Dalam agama, pencapaian ‘ekstase’ menuju Ilahi melalui jalan sufis merupakan jalan yang sah. Pencapaian absolut dunia sufis, seperti yang “dibentangkan” Aprinus Salam dari ujarannya Sayyid Hossein Nasr, adalah: “…ia menjadi sumber batin kehidupan dan menjadi pusat yang mengatur seluruh organisme keagamaan Islam” (hlm. 28).

Kajian Aprinus Salam dalam buku Oposisi Sastra Sufi (2004) menekankan sufis dalam spektrum-singgungan politik, khususnya yang terjadi dalam pergulatan politik di Tanah Air. Dengan memposisikan gerakan sufis sebagai lokomotif dan kekuatan moral dalam upaya melawan politik pada konteks saat itu (Orde Baru) yang hegemonis dalam ruang sosial umat-kemanus…

Gelombang Puisi Hasan Aspahani

Abdul Kadir Ibrahim
http://batampos.co.id/

Membaca puisi-puisi Hasan Aspahani seperti kita tengah membaca lekuk-lekuk, turun-naik, cekung, beralun-alun lautan yang bergelombang hebat. Terbayang dan dirasakan gelombang dahsyat tengah menuju pantai-gigi pasir pantai atau gelombang kecil di tepi pantai dan semakin ke tengah lautan yang semakin membumbung. Gelombang puisi Hasan Aspahani membuat kita menjadi “mantra”.

Sebagaimana lazimnya, berlaku selama terkembangnya zaman—lautan ketika angin sepoi-sepoi, maka gelombangnya biasa-biasa saja. Bahkan ketika musim teduh, lautan selalu dikatakan oleh orang tua-tua Melayu seperti air dalam talam, tenang, berdelau, terhampar maha luas dan menakjubkan! Namun, ketika angin bertiup kencang dan semakin kencang, maka gelombang di lautan pun semakin tinggi—yang dalam bahasa di tanah kelahiran saya, Natuna, gelombang “besar”, laut mengamuk.

Ketika gelombang lautan mengamuk, maka tampaklah pucuknya menyambar-nyambar, memecah buih dan memutih, yang dalam bah…

Realisme Pramoedya Ananta Toer

Eka Kurniawan*
http://www2.kompas.com/

Sebagai salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan anggota lain kelompok tersebut.

Cerita-cerita yang ia tulis tidak menampakkan tradisi jenaka dan sarkastik sebagaimana Idrus, Balfas, atau Asrul Sani, melainkan justru lurus, serius, dan dengan gaya naratif dramatis. Bahasanya pendek dan penuh sugesti, seperti narasi yang biasa dibawakan seorang dalang pada pertunjukan wayang.

Perihal lain yang khas dan senantiasa menjadi identitas kepengarangannya, Pramoedya sering kali juga melatarbelakangi ceritanya dengan paparan sejarah maupun pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisan awalnya banyak mengambil latar belakang masa sebelum Pe…

Sajak-Sajak Maghfur Saan

http://www.suarakarya-online.com/
TELUK YANG KAUBAYANGKAN

teluk yang kau bayangkan adalah kuali bermandi perak
dan bersama anak bidadari kau lepas pakaianmu
jutaan magma meledak-ledak di sungai nadimu
ingin melukis langit tapi perahumu tersangkut
pada karang yang telah berlumut

kau tahu teluk ini menjadi persinggahan gelombang
setelah berputar-putar menabuh genderang perang
serupa pusaran angin memutarbalikkan layar
berapa lembar sejarah yang telah kau lumat dalam mulutmu?

ribuan musim mungkin berulang-ulang menuju teluk
sebelum disantap camar dengan pekikan tak beraturan
kau sendiri tak pernah menemukan jejak-jejaknya
kecuali kotorannya yang mengapung yang kau tangkap
dengan jala tanganmu yang berpeluh.



TIBA-TIBA MENJAUH

perahu yang berlayar di matamu tiba-tiba menjauh
kau bilang ini malam terakhir, tapi mimpi
selalu saja belum berujung sebuah cakrawala
melengkung mengendap-endap menjaga langit
menyibak kabut dengan sesekali tebarkan bara api

yang memercik isyarat
bahwa berb…

Gerbong Maut

Imam Muhtarom
http://www.balipost.co.id/

Bagian 1

Kami berada di atas gerbong yang melaju tak terkendali. Seperti menaiki sebuah perahu kayu yang berputar di atas ombak dan telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Perahu itu belum pernah berhenti. Kami seperti tersesat di perairan maha luas dan kami hanya bisa menduga-duga tentang keluasan itu.

SEWAKTU kami telah menghabiskan buntalan nasi daun pisang yang bercampur aduk dengan sayur nangka muda sehingga nasi itu berwarna kecoklatan, sangat pedas sampai mulut kami seperti usai makan api dan berkata merajuk, ''Ibu, perut kami mulas!'', ibu tidak memperhatikan bunyi suara kami. Apakah yang kami katakan berlainan dalam pendengaran ibu ataukah telinga ibu selalu mengartikan lain dari perkataan kami? Ibu tak hiraukan kami lagi?

Kereta yang kami tumpangi terus berderak-derak melintasi persawahan lengang senja hari. Tampak langit di belahan barat merona kuning kemerahan menyaput dan satu-dua tampak burung melintas. Kami termangu.…

Mengkaji Sajak Sufistik Wali Eropa

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

DIIRINGI musik zipin serta penguasaan teknik deklamasi yang mumpuni, penyair Hamid Jabbar dengan kidmat melantunkan sajak Penari sembari menari dan menyanyi.

Selama 15 menit lebih, audience yang memadati ruang perpustakaan British Council, Gedung S Widjojo Centre Lantai 1 Jl Jend Sudirman Kav 71 Jakarta Pusat, itu seolah terbius, diam terpaku. Begitu syair terakhir sajak karya Dr Martin Lings itu disudahi, meledaklah tepuk tangan penonton.

Selanjutnya, dengan bersahaja -tanpa alunan musik zipin- Duta Besar Inggris untuk Indonesia Richard Gozney membacakan sajak Burung-burung dalam versi aslinya The Birds. Kemudian, tampil pemain sinetron Rieke Diah Pitaloka yang mengusung dengan manis sajak Taman. Sayang, pada akhir pembacaannya Rieke "melukai"pembacaannya sendiri dengan melafalkan kata "cinta" dengan "cina".

Seterusnya, berurut-turut tampil dengan datar pesohor dan aktivis HIV Baby Jim Aditya. Ia membawakan sajak Perta…

"Menulis Nafkah Saya"

Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

MODAL keterampilan saja tidak cukup untuk menjadi penulis profesional di negeri ini. Ada prasyarat lain yang harus dipunyai. Itulah ketabahan dan semangat tinggi.

Satu dari sedikit orang yang memenuhi prasyarat itu adalah Nh Dini. Sebagai penulis, perempuan kelahiran Semarang, 29 Februari 1936, itu sudah melalui proses panjang dan teruji.

Dia menuturkan mulai menulis saat duduk di bangku kelas III sekolah dasar. Dini kecil biasa menumpahkan pikiran dan rasa hatinya ke dalam buku pelajaran. Kegemarannya membaca buku dan mendengar cerita dari sang ibu melempangkan jalan sebagai penulis.

Bakat Dini kian terasah di sekolah menengah. Dia membuat sajak dan cerpen untuk majalah dinding sekolah. Usia 15 tahun, Dini membacakan sajak dan prosanya di RRI Semarang. Setelah itu dia kerap mengirimkan sajak-sajak ke RRI Jakarta dalam acara "Tunas Mekar".

Bungsu lima bersaudara pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah itu memilih jurusan sastra di bangku SMA. Dia p…

Le Poete Maudit

Heru Emka
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

SENJA diam-diam mengambang dan mengisap panas mentari yang mereda. Hawa sejuk di hotel berbintang lima itu pun menyelimuti tubuh, menghapus keringat yang disisakan terik siang di jalanan. Riuh rendah deru-debu, teriak seru, eskspresi wajah-wajah kaku yang berjarak hanya selemparan batu, segera teredam lapisan kaca ber-AC. Tiga lantai berikutnya adalah ruang luas yang nyaman berisi gumam lembut perempun. Kursi empuk yang berderet rapi, dan hadirin yang berbusana indah dan semerbak wangi.

Kontradiksi ini mengingatkan aku pada apologi sopir taksi," Maaf pak, AC-nya baru ngadat. Padahal tadi pagi masih sehat ." Dari MP-4 di pinggang, Mick Jagger berdendang, "You can't always get what you want." 1)

Cukup banyak juga tuan dan nyonya kaya Jakarta yang saling bersapa ceria di sana, terpadu gaya hidup yang kini cukup diminati: mengoleksi benda seni (sekaligus menakarnya sebagai peluang investasi). Di kursi deretan depan ada Er…

Sabtu Malam Bersama Afrizal Malna

Muhajir Arrosyid
http://citizennews.suaramerdeka.com

Di luar gerimis rintik-rintik. Mungkin karena gerimis itu, atau karena lebih berat menyaksikan tim merah putih berlaga, maka dari awal sampai akhir, acara yang diselanggarakan oleh Hysteria ini tidak tambah satu orangpun peserta.

Di antara peserta itu antara lain Eko Tunas, sastrawan sekaligus pemain drama yang minggu ini sedang melaksanakan Tour keliling Jawa Tengah dengan pementasan monolog berjudul Korsi, hadir pula Harjito, pengamat Sastra media, dan Aulia Muhammad, penulis esai yang sebentar lagi akan menerbitkan buku baru.

Walaupun peserta terbatas, namun tidak mengurangi kegayengan acara. Bahkan acara terasa mewah. Acara berlangsung santai dan cair. Semua khusyuk mengikuti acara, Sembari makan kripik singkong dan teh bergelas plastik yang disediakan oleh panitia, ada pula yang sambil memeluk guling. Santai tapi asyik.

Afrizal yang malam itu dengan kepala tak berambut berbicara serius. Peserta takzim menyimak. Penyair yang sekar…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi