Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Sajak-Sajak Zen Hae

http://www2.kompas.com/
seseorang akan memanggilku dari kobaran api

batu-batu hijau di ladang
mengapung di riak kabut pagi
tubuhku yang separuh batu setengah kabut
tak tahu harus mendekam atau berenang
tapi aku akan menyerap segalanya
di sini—alam yang dicipta dalam tujuh tepukan
ladang yang menantang cakrawala
angin yang menggoyangkan gerumbul paci-paci
hujan yang ditenggak hantu-hantu tanah
kelak mengantarku ke inti bumi
batu-batu yang seperti diayak
tubuhku yang setua sekolah desa
yang seringan layang-layang koangan
oleng oleh seperti-suara-senapan
tulang-belulangku dibalut rasa linu
berderak-derak seakan mencari pori-pori
untuk saling meloloskan diri
tubuhku doyong ke kuburan
ah, belum pernah aku sepandir ini
menghirup pagi yang teramat murni
hingga aku kikuk dan alpa
bagaimana humus ingatanku
terusir dari rimba-rimba amnesia
meluap dari rawa-rawa mimpi buruk
merawikan kembali riwayat
antara beranda dan ladang belakang
yang pernah terkubur
di antara lapisan silsilah leluhurku
seribu tahun
separuh usiaku
semalama…

FENOMENA PRESIDEN PENYAIR DAERAH SEBAGAI DAGELAN POPULER

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Tentu kita kenal presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri! Kredo Tardji yang fenomenal itu, meluas mempengaruhi banyak penyair. Dan kita mendengar pula, seperti presiden penyair Surabaya, presiden penyair Lampung, presiden penyair Cirebon, bahkan ada presiden anak jalanan, dan sebangsanya. Dari sini terpancang jelas pengaruh Tardji, dalam belantika kepenyairan di tanah air. Apa maknawi wewarna itu, pada kaitannya dengan pribadi seorang penyair?

Penyair agung ialah sosok yang menyerap banyak pengaruh, mengolaborasikan dengan kualitas dirinya, kemudian mengungkapkan kembali secara kreatif. Bahasa Tardji, disebut mengingat dan melupa. Semacam prosesi menghindari keterpengaruhan dari karya-karya agung, pada saat itu juga menghapusnya melalui kreativitas sendiri dalam bentuk karya “yang boleh jadi lebih kokoh dari karya yang mempengaruhinya.” Itulah kedirian penyair, dayadinaya hayatnya dalam kancah penerimaan sekaligus …

MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Jika kita mencermati dua buku A. Teuuw, Sastra Baru Indonesia I (Ende: Nusa Indah, 1980) dan Sastra Indonesia Modern II (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989), maka kita akan sia-sia mencari nama Mohammad Fudoli Zaini. Agak mengherankan, kritikus sastra Indonesia yang berwibawa dan sangat berpengaruh itu, bisa luput menyinggung nama itu. Padahal, H.B. Jassin dalam Angkatan ’66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1976) pernah memuat salah satu cerpen Fudoli yang berjudul “Si Kakek dan Burung Dara” sebuah cerpen yang mendapat pujian dari redaksi majalah Horison untuk cerpen yang dimuat majalah itu tahun 1966—1967. Ajip Rosidi dalam Laut Biru Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977) juga memuat cerpen Fudoli yang berjudul “Sabir dan Sepeda”. Belakangan, Abdul Hadi WM (Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 55—59) memuji cerpen ini –bersama cerpen “Sisifus” dan “Gelap”— sebagai cerpen yang menghadirkan kisah sufis…

Dalam Tikam Kesepian

Dharmadi
http://oase.kompas.com/

Tak dapat dilupakannya kata-kata terakhir istrinya, keinginan untuk bisa mendampingi anak-anaknya sampai menjadi orang tua. Suatu ketika, beberapa tahun yang lalu, hanya beberapa menit menjelang kepergiannya, di dini hari;’Aku kepengin nunggoni bocah-bocah mentas nganti dadi wong tuwo’. Dan waktu itu ia hanya menjawab,”Jangan berpikir yang bukan-bukan, yang penting kamu sehat”.

Hanya itu saja kata-kata terakhir istrinya, yang terbaring di ranjang, ranjang yang pertama kali ditiduri bersamanya, tigapuluh tahun yang lalu, ranjang pengantin yang menjadi saksi gelora gairah di malam pertama dan di saat-saat kemudian telah mencatat bermacam adegan dan peristiwa dan menyimpannya sebagai riwayat. Begitu selesai berkata, istrinya diam, tak bergerak, kedua tangannya terlipat di dada.

Dan kemudian ia seperti mendengar suara;’bojomu wis ditunggu ibu-ibune nang swarga; ditunggu ibune, ditunggu mertuwane, ditunggu budhene; wis disediyani swarga’. Ia tergeragap, seakan…

Perempuan yang Kunikahi dengan Puisi

Faisal Syahreza
http://oase.kompas.com/

Aku merasa bersalah bila menatap matamu yang bagai ceruk dalam, setelah hangus dalam ranjangmu semalam. Oh tapi aku tahu itu keinginanmu bukan? Kau bahkan sepertinya bahagia bukan kepalang bila malam-malam--ketika tak ada satu lelaki pelanggan pun yang melirikmu dan mau tidur denganmu--tiba-tiba aku datang dan menyambutmu dengan pelukan sayap lelaki bujang. Aku merasa sesat bila terjebak lagi dengan pertemuanmu, bagai menemukan beruang lapar di hutan. Dan sebaliknya anehnya jadi serba salah, bila aku tak kunjung bertemu denganmu aku malahan merasa dingin dan sepi sekali. Aku merasakan bahwa aku sedang berenang di lautan es tanpa busana. Tanpa ada rumah yang mau menyambutku dengan api unggun dan segelas susu hangat.

Aku selesaikan ciumanku denganmu begitu khdimat ketika bibirku lumat dan bibirmu masih bermain peran. Kau malah sempat menghempaskan tubuhmu lagi di kasur empuk, merubung tubuhku dengan goda. Dan sedikit-sedikit ingin kembali luruh deng…

Menggagas Sastra Bertipikal Madura

`Atiqurrahman
http://www.surabayapost.co.id/

Eskapisme kultural tengah melanda susastra Madura. Hal tersebut tampak dari keseragaman eksplorasi karya-karya yang diciptakan. Lacur yang terjadi, sastrawan-sastrawan Madura tak menyadarinya. Timbul tanda tanya: bagaimana nasib susastra Madura selanjutnya?

Marilah simak bersama. Dasawarsa terakhir susastra Madura dijumbuhi karya-karya yang bertipikal pesantren. Kreatornya kebanyakan alumni-alumni pesantren. Tema yang diangkat adalah problem keagamaan, misalnya, hubungan manusia dengan Tuhan, cinta pada Tuhan, dan keinginan bersatu dengan Tuhan. Selain tema tersebut, praktis tak ada tema lain yang coba dieksplorasi oleh sastrawan-sastrawan Madura.

Mengapa hal tersebut terjadi? Mungkin semangat jaman membentuk kondisi demikian. Mungkin ada kesepahaman tentang “apa itu sastra, agama, dan sastra-agama”? Mungkin juga, keseragaman ini dilatarbelakangi oleh kesuksesan sastrawan-sastrawan pendahulu yang memokuskan problem karyanya pada wilayah yang ku…

Sajak-Sajak Abdul Wachid B.S.

http://www.korantempo.com/
Malam Setelah Turun di Jalan

"pergi, sayang," suaramu
"pergi, sayang," suaramu terlalu lembut untuk yang bernama keadilan tapi itulah embun yang nyalangkan siapapun agar tetap jaga di antara jemputan batang-batang tangan yang lebih baja dari baja

ke langit kota tiga detik menatap mungkin sama juga langit jantungmu deras dalam degup tapi sunyi saja yang hingar

seorang lelaki lebih biasa pada mulut peluru sehabis suara ditegakkan di siang di jalan-jalan. orang-orang khusyuk merobohkan bendungan nurani tapi batang-batang serdadu yang lebih baja dari baja "biarkan hidup tanpa cemas apa dan siapa Tuhan di hati di jalan rakyat!" jerit lainnya "bukankah serdadu sama lahir dari ibu kenapa yang tampak hantu melulu?"

ya, itu di siang tengah malamnya toh udara kelam mencium bau peluru "pergi, sayang..." istri cuma bisa ngelus rahimnya yang mulai bergerak-gerak perlahan di langit ada bermilyar mata meneteskan embun suatu saat …

Rahasia Mustika

Sri Ruwanti
http://oase.kompas.com/

Ia ingin mengucapkan sesuatu. Mulutnya tak henti-henti bergerak. Namun suaranya seperti tertahan di tenggorokkan.

Berkali-kali ia mengerang seperti menahan rasa sakit. Ia hanya bisa terbujur di atas kasur. Sudah satu bulan Bulek Tum bertahan dengan kondisi seperti itu. Ia seperti mayat, tapi nyawa masih bersarang dalam tubuhnya. Tidak merasa mati, tapi juga tidak menikmati hidup.

Kabar yang santer terdengar, bulek menanamkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Sesuatu yang membuat dia terlihat bercahaya, sehingga orang bagaikan tersihir bila melihatnya, menuruti apa yang diucapkannya tanpa ada pemaksaan.

Aku kasihan melihat kondisi Bulek Tum. Dia seakan benar-benar akan menjemput ajal. Aku sebenarnya malas mendengarkan gosip murahan berbau tahayul tentang Bulek Tum. Tapi aku juga sudah menyerah dengan hasil pemeriksaan medis yang tidak menunjukkan apa-apa tentang kondisinya. Akhirnya, aku meminta kesediaan Mbah Darmo, orang pintar di desa ini untuk melihat kondis…

Sajak-Sajak Binhad Nurrohmat

http://www2.kompas.com/
Alienasi perempuan semua orang

Kisut bibirmu menggambar selaput cahaya, mengelupas
dari sekujur laut pasang, hitamkan seluruh tanda.
Tangan-tangan lelaki menulis surat cinta
di pesisir basah dengan huruf-huruf besar.
Di dahan bakau kau gantung gaunmu, menyelam
bersama kura-kura, tenggelamkan debar jantung
meletuskan isyarat tak diharapkan.

Seperti laut, surat cinta melulu menunggu,
kalimat-kalimat aneh di sepanjang pesisir,
sebelum digerus arus.
Kau mengerti, cinta cuma ilusi yang diagungkan.

Dan seperti laut, tak ingin pasrah pada celetuk kecil
rasa sepi, juga hasrat iseng berbagi: lalu kembali
seperti laut, kehilangan jejak kering di pantai kemarin.

Warna bibirmu tak berubah, asingkan debar jantung.
Ratusan senja berlewatan
mereka terus menulis surat cinta, seperti arus,
dan percaya: mungkin tak singkat, kelak
isyarat lain tertinggal di sebutir pasir...

Jakarta, 2001



Roman Pelarian

Tak ada di sini gugup jantungmu
hanya kecut tubuh membekas di dinding
dan pekat jelaga pertarungan di b…

Sastra, di Antara Gender dan Spiritualitas

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Jakarta — Itulah kenangan seorang gadis cilik. Gadis cilik itu kini telah menjadi dewasa dan menulis berbagai kisah dalam bentuk novel. Dia bernama Camilla Gibb. Sastrawan yang tinggal di Toronto, Kanada ini menemukan dunia lain lewat dialog lisan. Sebuah pandangan yang dia dapat lewat komunikasi.

Gadis kecil itu menerima tamunya - seorang ibu yang menjual roti. Roti yang enak dan hangat. Lalu gadis kecil itu bertanya asal si ibu. Si ibu menjawab, “Saya dari Palestina?” Apa itu Palestina? Perempuan itu pun menjawab padanya, “Semacam sebuah negara...”

“Sastra merupakan cara untuk membuka dunia. Bukan stereotipe. Sastra dapat menjadi alat untuk menunjukkan rasa kasih sayang dari perbedaan. Sastra dapat mengubah persepsi terhadap orang lain,” tutur Gibb.

Dari negeri yang berdwibahasa itu–Inggris dan Prancis, Gibb telah menerbitkan tiga novel, yaitu Petty Details, Mouthing the Words dan Sweetness in the Belly. Novelnya yang terakhir berkis…

Lhok Samawi

Abidah El Khalieqy
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TENTANG cinta? Aha! Telah berapa windu aku hidup di alam asing di sebuah negeri tanpa matahari berkota melompong tak ada telinga tak ada mata tak ada hati tempat kita merasa sebagai manusia. Dan kau bilang mau datang ke rumahku? Di mana? Coba katakan! Adakah rumah tanpa alamat nirkampung nirkota?

"Aku mau ke kamu. Di mana saja," kau bilang.

Tapi aku tak di mana-mana. Pemburu sunyi cuma. Aku sedang mendengarnya; alastu birabbik qultu balaa? Sunyi adalah sehamparan bening tempat aku mencari wajahku. Kau tahu aku amnesia. Bertahun sudah aku lupa namaku, bentuk wajahku, koleksi baju dan kaset langka yang dulu bikin cemburu. Juga film-filmku. Pun puisi-puisiku. Siapa mereka? Aku pikuni semua-mua tak ada sisa.

"Masih ada kamu. Kuingin itu," katamu.

Aku? Akukah itu yang berambut gondrong dan lupa nyisir selalu. Berjalan tanpa halte. Berlayar tanpa dermaga. Aku melayang di luar atmosfer bumi, Sayang! Jangan cari aku.

"…

Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar

http://sastrakarta.multiply.com/
Di Malam Lain Pada Sebuah Ujung

Malam pertama: kita bertemu di sela waktu
menyibukkan jarumnya pada setiap putaran
lalu melelehkan gerimis dari kisi jendela
tempat kamu gantung jam dinding

tahukan kamu? tirai jendela rumahmu
(hadiah ulang tahun, dari jejak usia yang fana)
waktu tak selalu merindukan tidurmu
dan terus bergerak mengarak nafasmu
melompat ke luar pagar tanpa kau duga
melewati jedah istirahatmu yang fana pula

Malam kedua: kita saling membuang pandang
ke bubungan

entah kapan, matahari melucuti lapisan awan
tak perlu lagi menunggu ketukan berulang
tanpa harus selangkan pandang
pada busur jam yang terus memburu jejakmu
di jalan setapak bercabang
kita mesti ke luar
meniti keluh: meski peluh membengkakkan sel tubuh

di malam yang lain: kita bersepakat
menyulut api, lalu memadamkannya

Puisi dan Batin Kebudayaan

Binhad Nurrohmat
http://www.jawapos.com/

Kamus, tata bahasa, mesin cetak, telepon, dan internet memperpesat pergaulan dan perkembangan kebudayaan modern. Pada masa lampau, jarak geografis dan perbedaan bahasa menjadi kendala interaksi antarmanusia dan kebudayaannya, tapi kemajuan peradaban membuat bentangan jarak geografis bisa disambungkan oleh teknologi komunikasi dan hambatan perbedaan bahasa dapat dijembatani oleh penerjemahan. Teknologi komunikasi memungkinkan dan mempercepat interaksi; dan penerjemahan membuka cakrawala pengetahuan antarmanusia dan kebudayaannya --buku ini salah satu contohnya.

Penerbitan buku multibahasa Antologia de Poeticas (Kumpulan Puisi Indonesia, Portugal, dan Malaysia) ini merupakan keluhuran yang melantari tiga bangsa dan kebudayaannya berhimpun dalam sebuah buku. Buku ini bermakna bagi perjumpaan dan pemahaman antarbangsa dan kebudayaannya, bahkan memungkinkan persuaan antarbatin manusia lantaran watak puisi menyibak dan menyembulkan kedalaman dan keintim…

Kajian Sastra dalam Masyarakat Indonesia

Aprinus Salam
http://jawapos.com/

Dalam sejumlah kesempatan, sering muncul pertanyaan apa hubungan kajian sastra dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia? Pertanyaan tersebut tentu perlu mendapat tanggapan serius, bukan saja berkaitan dengan relevansi kajian sastra terhadap masyarakat, melainkan pula terhadap orientasi dan masa depan ilmu dan kajian sastra itu sendiri.

Tidak dapat dimungkiri masih sering muncul pertanyaan apa yang dapat dipelajari dari sebuah puisi, cerpen, atau novel. Latar belakang pertanyaan tersebut muncul karena masih terpeliharanya asumsi dan persepsi bahwa mempelajari puisi seolah mempelajari keindahan olah kata. Atau mempelajari novel seolah mempelajari sebuah cerita fiktif, cerita yang mengada-ada, yang hampir tidak berhubungan dengan fakta-fakta dalam realitas kehidupan. Itu pula sebabnya, kemudian muncul pertanyaan, setelah mempelajari sastra, atau lulusan sarjana sastra itu bisa bekerja di mana? Atau instansi apa yang dapat menerima sarjana y…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi