Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Menari di Mentari

Gde Agung Lontar*
http://www.riaupos.com/

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Dari kejauhan seringkali tubuhnya kelihatan seperti hanya selarik siluet, yang tersamar dalam cerlang cahya perak. Terus saja ia menari, dalam komposisi yang barangkali hanya ia sendiri yang mengerti. Wajahnya pasi, seperti tanpa ekspresi. Sesekali nunduk, lalu tiba-tiba menyentak hingga tengadah ke langit, sehingga rambutnya yang panjang selewat bahu itu tergerai dalam rentak gelombang yang magis, lalu menimbulkan percik-percik bara kembang api kala bersinggungan dengan riak mentari. Sementara, kedua tangannya yang semula menangkup di depan bidang dadanya tipis, serentak serempak terpentang dalam posisi horisontal yang nyaris sempurna. Gelombang hawa panas pun lalu berhamburan, bagai disapu sepasang sayap maharaksasa, dan lalu kita di bumi pun menyebutnya sebagai lidah matahari.

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Tak peduli ia pada panas lima ribu lima ratus lima puluh lima derajat celsius permuka…

Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri

A.S. Laksana
http://www.jawapos.com/

Pada suatu hari, ketika segala hal menjadi terang, dan begitu pun matamu, kau bisa mendapati seorang mayor bertingkah mencurigakan di rumahnya sendiri. Di rumah mayor itu Seto pernah datang sebagai juru selamat; ia membebaskan seorang berandal tanggung, anak si Mayor, dari keroyokan para bajingan depan losmen gara-gara urusan perempuan. ''Tinggallah di sini,'' kata Pak Mayor ketika Seto mengantar pulang si anak yang lebam.

Seto sudah minggat tiga bulan dari rumah ayahnya waktu itu dan ia tak punya tempat tinggal dan ia menjawab, ''Terima kasih.'' Maka, tidurlah si kribo itu di kamar belakang yang kosong, bersebelahan dengan kamar pembantu. Lima bulan menetap di sana, ia menabur kesan baik dan buruk, dan menanam beberapa ingatan yang akan merepotkan si Mayor ketika mereka kelak berhadapan sebagai seteru. Kau tahu, beberapa tahun nanti, pada hari pemberantasan gali di tahun 1984, Pak Mayor memang harus menumpas si juru s…

BALADA DI BUKIT PASIR PRAHARA

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=108

(I) Yang menapaki bencah pasir pesisir,
mendaki bukit-bukit rindu,
dan angin selalu menyapu kakiku;
seperti seorang putri mengusap keningku,
kala keringat mulai bercukulan
lantas cepat menguap bersamanya.

(II) Ia bagaikan pengembara
berteduh di bawah trembesi tua,
cahaya surya beranjak sore,
melagukan kidung jingga kemesraan;
dan di manakah asal,
tempat tinggal dunia semestinya?

(III) Aku hawa kering, menuliskan lirik laut selatan,
menggerakkan kertas surat-surat ini
yang miliki ruh sebentuk makhluk,
lalu mereka terbuai angin pantai.

(IV) Kala mega kelam merunduk panjang,
ditarik serombongan taupan,
derap kereta kencana menghampiri singgahsana;
petilasan aku melamun sebuah dunia!

(V) Pagi pun sayup, ada yang berbisik di belakang,
sekerumun gadis membicarakan aku, kala di bukit pasirmu.

(VI) Ribuan pasang mata mengintai nasib dan nyawaku,
kegelisahanku bercampur senang,
karena alunan seruling langit setia memberi kabar,
laksana berita yang tak akan usai.

(VII) …

Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://cetak.kompas.com/
Habsiyah

Kau adalah bidadari yang ditiup dari bahan tersisa. Karenanya tak begitu istimewa. Dan terpaksa diletakkan di gerbang pasar daripada di taman sorga. Di gerbang pasar tugasmu meluruskan langkah para ibu. Langkah yang bingung ketika mesti memutar uang belanja yang kerap minus. Yang hanya cukup untuk menipu kenyang. Dan sedikit membeli racun serangga. Serta secarik nota yang akan ditulis: “Maafkan, jika aku akan meracun anak- anakku, juga anak-anakmu....” Lalu seperti pengusap, kau pun mengusap pikiran para ibu itu. Pikiran yang goyang. Pikiran yang akan membuat sayapmu berkelepakan menahan gigil. Seperti gigilan tembok pasar yang suram. Yang jika didengar memantul di antara beras, kecap, lombok, minyak, rempah dan para penimbang yang bimbang. Sebab setiap sapi yang ditimbangnya selalu melenguh. Dan bercerita, tentang hidupnya yang cuma dari kandang ke kandang. Lalu berujung di pisau jagal yang gatal. Tapi, karena kau bidadari yang tak begitu istimewa, mak…

Lindu

Zainal Arifin Thoha
http://hidupbersamabencana.wordpress.com/

SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, juga acap terdengar.

Bagi kami, antara percaya dan tidak dengan pertanda alam itu, merupakan hal lumrah, lantaran antara kami dengan generasi masa lalu terpaut jauh dalam hal keyakinan ataupun ilmu titen.

Tapi nyatanya, Mbah Imam, sesepuh masjid yang juga abdi dalem keraton menangkap isyarat lain. Itu sebabnya, hampir saban hari ia membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani. Ketika saya tanyakan kepadanya, untuk apa membaca Manaqib seperti itu, Mbah Imam menjawab untuk keselamatan. Bagi siapa? Ya, bagi diri sendiri, keluarga, para tetangga, serta masyarakat pada umumnya.

Nah, ketika Lindu terjadi …

Sajak-Sajak Nirwan Dewanto

http://kompas-cetak/
Tiga Biola Juan Gris

(1)
Terbaring di atas talam, ia cembung masih
dengan dawai menegang oleh putih-mutih
lembar lagu yang ditindihnya. Dan sebatang pipa
harum tembakau dan mungkin setandan anggur layu
rajin mengapitnya ketika ia begitu ragu pada ungu
dan coklat yang mestilah miliknya. Di pucuk lehernya
hanya lengkung serupa arabeska hitam sehingga
ia tak akan lagi membusung seperti telur kasuari
tapi membubung seperti udara Magribi di ujung jari.


(2)
Sebagian punggungnya perlahan memipih selagi
dawainya menghilang di antara lipatan linen putih
dan kuning yang memiara dua selongsong semu
sampai papan halma di depannya biru seperti pagi
seperti cerminnya yang baka. Ternyatalah ia berdua
kembar Siam yang gemar menyalin latar muka
dengan belakang sampai hijau tubuhnya hanya
seratus pecahan lingkaran dan segitiga pengabdi
coklat mahoni kertas dinding dan urat kayu meja
saat mata sekadar bermain matra dan permata
saat Partita Bach mesti menyela jingga dan jelaga.


(3)
Tenang seperti kertas Jepa…

Sajak-Sajak Teguh Ranusastra Asmara

http://sastrakarta.multiply.com/
Sajak Akhir Tahun

ketika rindu lepas di ujung senja
angin melecut pada rahim puisi
ada bayangan yang mengaca
menatap sisa-sisa usiaku
begitu sepi

(tidurlah, dengan silang mautmu
yang ditinggalkan di ruji-ruji almanak
dan sementara Tuhan mengejangkan impian)

sepanjang jalan kecil ini
bulan telah mengasingkan ketakutan, di balik arloji
maka lahir bendera penyair
tanpa genderang kerajaan
hanya kelam dan duka
membalut wajahku

(tak usah tersedu
air matamu adalah pembrontakan
yang memberangkatkan siul-siul kebebasan)

Yogya, 1970



T a m a n

kuhitung langkah-langkah kaki dalam sepi taman
ketika hari tanpa suara, tegak kembali
jadi barisan waktu yang terlepas

angin tiba-tiba merendahkan lagu-lagu rindu
dan terbukalah nada fales pada angka
rahasia yang memberat, di ruangka
: belum bernama

Yogya, 1969



Malam Satu Suro

bergegas melintas gelombang, kabarpun sampai
di sini masih tersimpan warisan…

Puisi-Puisi Abdul Azis Sukarno

http://sastrakarta.multiply.com/
TAKDIRKUKAH INI?

aku bangkit dari tidur panjang,
untuk tidur yang lebih panjang lagi

aku bergegas membuka selimut,
untuk menggantikannya dengan kain yang lebih tebal lagi

dan begitulah,
pagi demi pagi kubiarkan melewatiku tanpa permisi,
tanpa keresahan dan sakit hati

sebab, aku ingin mati dalam hidupku berulang kali
dan hidup dalam matiku tak henti-henti

seperti saat ini
saat Kau seolah melarang aku
untuk dapat menulis puisi!

Pringgolayan, Yk, 2005



TRAGIS

aku ingin bersembunyi dalam rumah bekicot
lalu bergerak perlahan-lahan
meninggalkan kota ini
pergi menuju hutan sunyi

di sana aku akan menulis puisi
tentang kesedihan seekor binatang lembek
yang kandangnya hilang dicuri entah oleh siapa
hanya aku yang tahu

"ya, tuhan," katanya,
"bagaimana aku bisa hidup dengan tubuh seperti ini?
tanpa rumah berarti tanpa nyawa bagiku."
ucapnya lagi seraya berkelojot-kelojot akan mati
kubayangkan, menyedihkannya ia
berhari-hari kerjanya pasti menangis dan tak bisa apa-apa
hingg…

Puisi-Puisi Akhmad Muhaimin Azzet

http://sastrakarta.multiply.com/
TUMPUKAN BATU

aku mencari serpihan manusiaku yang hilang
di antara tumpukan batu, betapa telah pecah
oleh panas matahari dan kota kian renta

pohon rindang tidak lagi tumbuh di tubuhku
apalagi hamparan rumput yang menghijau
dari ujung kaki hingga kepala hanyalah batu

lalu di manakah manusiaku, hilang ke mana
yang pernah lahir oleh kasih seorang ibu
kubongkar-bongkar, melulu tumpukan batu

Yogyakarta, 2006



KABAR BENCANA

saat embun menetes kuterima suratmu
mengabarkan bencana
yang datang dan pergi seakan tanpa tanda

bukan lagi jerit tangis seperti badai
atau orang–orang mendadak papa
kehilangan segalanya
tapi suratmu menjelma muara
segala air mata

Yogyakarta, 2006



AWAN HITAM DI MATAMU

apakah duka telah menjadi lautan
memenuhi seluas dada
awan hitam di matamu menyeretku
hingga sunyi yang paling dalam

jangan lagi, duhai, usah lagi
awan hitam semakin berarak
dan menjadi hujan

sebab ke mana lagi mengalirkan
segala yang tumpah
jika kerinduan telah tenggelam
menggelombang

Yogyakarta, 2007



S…

Sastra yang Berangkat dari Lamunan

Indra Tjahyadi
http://www.sinarharapan.co.id/

Ada kalanya sebuah karya sastra bukannya tercipta dari sebuah permenungan, melainkan dari sebuah lamunan. Lihat saja puisi-puisi karya Nirwan Dewanto. Pada puisi-puisi karya Nirwan Dewanto lamunan menjadi semacam motor penggerak utama bagi dasar penciptaannya, dan bukannya permenungan.

Dengan menggunakan lamunan sebagai motor penggerak utama bagi dasar penciptaannya, ada sebuah konsekuensi logis yang tak dapat dielakkan muncul pada larik-larik puisi karya Nirwan Dewanto tersebut, yakni bahwa puisi-puisinya tersebut terkesan hidup dan dihidupi oleh lanturan-lanturan. Lanturan-lanturan yang hidup dan menghidupi larik-larik puisi karya Nirwan Dewanto tersebut bukannya tidak menimbulkan read effect bagi para pembacanya. Pertama, bahwa puisi-puisi karya Nirwan Dewanto cenderung lebih bersifat naratif, dan kedua bahwa puisi-puisi karya Nirwan Dewanto tersebut terkesan lebih cenderung menawarkan fantasi daripada imaji.
Tengok saja puisi karya Nirwan …

DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

“Fikirkanlah coretan-coretan di dinding Ibukota, adanya istilah MERDESA, sebelum meletusnya balada pemberontakan anak-anak Jatinegara”

Desa itu daerah kendali perekonomian kota. Tata letak spiritualitas pemampu berpeluang menentukan gerak-gerik bangsanya. Sekilas terlihat orang desa berkiblat pandangan kota, padahal orang kota tidak asyik lagi menatap kesehariannya. Dari desa-lah terpelihara keindahan nurani, kemanusiaan agung terpanggil menciptakan atmosfir damai. Dan tranformasi keilmuan merata di setiap sudut-sudut terpencil, ketika orang kota melupakan berkah ilmu, sebab terbius jasadiah.

Sewaktu orang-orang desa mengetahui seluk-beluk kelicikan kota, mereka kembali ke desa, bercerita mengenai kesejatian kembang hayat. Tampaknya orang kota lewat berbagai wacana, namun sewaktu dunia informasi kian terbuka, orang desa berusaha memahami keingintahuan hidup. Lalu lahirlah pandangan hidupnya, dalam menyinauhi jarak perkembangan…

MEMAHAMI KULTUR ETNIK MELALUI KARYA SASTRA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Jika diyakini sastra sebagai ruh kebudayaan, maka sastra sesungguhnya dapat digunakan sebagai salah satu pintu masuk memahami kebudayaan sebuah bangsa. Bagaimanapun juga, sastra merupakan representasi kegelisahan sastrawan. Ia lahir dari proses yang rumit pengamatan, pencermatan, pengendapan, dan pemaknaan sastrawan atas kehidupan ini. Lebih khusus lagi, atas fenomena tindak berkebudayaan sebuah komunitas sosial. Itulah sesungguhnya tanggung jawab sastrawan (seniman) pada kebudayaan, pada kehidupan. Inilah yang dimaksudkan Chairil Anwar sebagai kebebasan dan kebertanggungjawaban seniman pada kebudayaan, pada kemanusiaan: “Kemerdekaan dan Pertanggungan Jawab adalah harga manusia, harga Penghidupan ini….” Begitulah Chairil Anwar mengingatkan tanggung jawab sastrawan (: seniman) pada kehidupan ini.

Dalam konteks itu, ketika fenomena tindak berkebudayaan itu coba diterjemahkan dan dimanifestasikan dalam bentuk karya sastra, di dalamnya tak terhi…

Bung Karno

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Ami bertemu dengan Bung Karno.

“Pak!”

“Ya? Ada apa Ami?”

“Kenapa Bapak tidak pernah kembali?”

“Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi.”

“Tapi kami perlu Bapak.”

“Memang. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna, kalau tetap ada mungkin sia-sia.”

“Tidak. Kalau Bapak ada, tidak akan begini jadinya.”

“Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi, yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah.”

“Kami sudah mencoba, Pak, tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak.”

Bung Karno tersenyum.

“Kamu kurang sabar saja.”

“Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Kami sudah menunggu. Kami memberikan kesempatan, kepercayaan bahkan juga dukungan. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi.”

“Itu namanya kurang sabar.”

“Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan, bukan menjadi lebih perih. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu…

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo
Ponorogo Pos

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya.

PANORAMA SASTRA RELIGIUS

S Yoga
http://www.surabayapost.co.id/
http://syoga.blogspot.com/

Perkembangan sastra religius di Jawa Timur (Jatim) mungkin kurang menarik bagi generasi muda. Sehingga bila kita cermati, hingga kini jarang terlahir sastrawan muda yang kesadarannya terhadap religi cukup tinggi. Padahal sastra religius merupakan salah satu aset yang sangat penting. Hal ini dikarenakan dukungan secara kultural sudah sangat mencukupi, di mana basis-basis pesantren tersebar di Jatim. Sehingga hal yang pontensial ini hendaknya mampu melahirkan karya-karya religius yang mampu berbicara di tingkat nasional.

Apalagi kita tahu Sumenep merupakan gudangnya penyair religius, misal Abdul Hadi WM, D Zawawi Imron, Jamal D Rahman dan Ahmad Nurullah. Sedangkan dalam bidang prosa ada M Fudoli Zaini (Alm) dengan karya Arafah dan Batu-Batu Setan. Sementara di daerah lain kita mengenal Djamil Suherman (Alm), novelis kelahiran Surabaya, menghasilkan Perjalanan ke Akhirat dan Umi Kulsum, yang karyanya berlatar belakang pesantren…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi