Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

HUBUNGAN KRITIK SASTRA DENGAN SOSIOLOGI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Perkembangan kritik sastra Indonesia dalam dekade tahun 1980-an ditandai de-ngan munculnya beberapa pembicaraan mengenai sosiologi sastra atau pendekatan sosio-logis terhadap karya sastra. Dalam konteks ini, kritik sastra sesungguhnya mencoba me-manfaatkan disiplin ilmu lain (sosiologi) untuk memberi penjelasan lebih mendalam menge-nai salah satu gambaran kemasyarakatan yang terdapat dalam karya sastra. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai hubungan kritik sastra dengan sosiologi, muncul lantaran ada anggapan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat. Karya sastra juga dianggap sebagai ptret kehidupan masyarakat dan gambaran semangat zamannya.” Dalam hal ini, karya sastra dianggap sebagai gambaran “struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas dan lain-lain.

Pandangan demikian sesungguhnya jangan ditafsirkan secara lugas, letterlijk. Dalam hal ini, kita masih perlu menjernihkannya lagi. Rene Wellek dan Austin Warren, Swing…

Novelis dalam Konteks Sastra Indonesia

Sayyid Fahmi Alathas*
http://www.lampungpost.com/

BERMUNCULANNYA para penulis baru dalam kancah sastra Tanah Air ditandai buku-buku terbaru karya-karya penulis anak negeri. Hal ini diharapkan dapat memacu perkembangan sastra Tanah Air yang lebih didominasi para pemula dengan berbagai ragam tema serta perkembangannya menuju teks sastra yang hidup.

Seperti pada novel Dianing W. Yudhistira didominasi tokoh Sasaswati yang mencoba digambarkannya sebagai gadis belia yang cerdas dari keluarga miskin. Gadis berusia 13 tahun itu gagal menikah dengan Kirman, anak dari juragan Wargo di kampungnya. Dalam hitungan Saraswati, terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk menjadi seorang sintren, agar dia bisa ikut membiayai sekolahnya.

Yang terjadi justru Ia menerima cercaan lingkungannya. Sebagai seorang sintren. Dengan pesona yang dimilikinya, Sarawati menjadi pusat perhatian dan pujaan para lelaki (baik bujangan maupun yang sudah menikah--dari segala lapisan dan golongan--sehingga menjadi pusat hinaan k…

Mukjizat Sastrawan

Asef Umar Fakhruddin
http://www.lampungpost.com/

Sejarah membuktikan, teks sastra mempunyai kekuatan dahsyat dalam kehidupan. Pahatan-pahatan aksara para sastrawan membuat pembaca tercerahkan.

Untuk mengetahui kedahsyatan teks sastra--yang mewujud dalam karya sastra--kita bisa membaca novel karya Gabriel Garcia Marquez, Cien Anos de Soledad (1967). Novel ini berkisah tentang kepahlawanan keluarga Kolombia. Novel karya peraih Nobel Sastra tahun 1982 ini memberikan motivasi kepada warga Kolombia agar api patriotismenya tidak pernah padam. Alhasil, novel ini menyadarkan warga Kolombia melakukan perubahan dan perjuangan. Tidak hanya itu, mereka menancapkan keyakinan dalam sanubari bahwa tidak ada kerugian dalam pejuangan dan bahwa kehidupan itu harus diperjuangkan, berapa pun saham yang harus dibayar.

Ling Shan (2000), karya monumental Gao Xingjian (peraih Nobel Sastra tahun 2000), juga demikian. Novel ini menampilkan ulir-ulir indah dalam pengemasan kata dan logika. Bahkan, para panitia Nobe…

Tauhid sebagai Esensi Estetika Sastra Sufi

Heru Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

APA yang ingin saya diungkapkan ini mengenai paradigma pemahaman sastra sufi dilihat dari fondasi Islam dan epistemologi sastra. Penggabungan keduanya, menurut saya, akan menghasilkan suatu paradigma sastra sufi yang logis. Sekalipun pengertian ini bersifat analogis, tetapi dapat dijadikan sebagai perspektif dalam memosisikan sastra sufi, yang sampai saat ini paradigmanya masih rancu karena dikaburkan oleh cara pandang subjektif sebagai pengaruh etika agama yang tidak dilihat secara keilmuan. Hasilnya, cara pandang paradigma sastra sufi dalam kesusastraan Indonesia masih terbelenggu oleh romantisme dan keyakinan Islam yang sempit.

1.
Hal mendasar yang diungkapkan dan diabadikan dari karya seni adalah estetika, yaitu cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan. Kesamaan fundamental dari setiap karya seni adalah estetika, sedangkan letak perbedaannya pada media penyampainya. Misalnya, antara seni sastra dan seni lukis itu sama-sama menyampaika…

Prosa-Puisi Kartini

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

"Segala yang murni dan indah dalam kehidupan manusia adalah puisi". Kata-kata ini diucapkan Kartini (kepada Stella--nama panggilan Kartini kepada Estella Zeehandelaar, feminis sosialis yang membuka diskusi pertama kali dengan Kartini melalui surat-menyurat--sebagai bukti bahwa ia mencintai puisi. Bagi Kartini, puisi atau seni pada umumnya adalah jiwa bangsa Bumiputera. Dari mulut anak-anak sampai orang jompo, senantiasa melahirkan puisi.

Namun, tak setiap puisi menggoda imajinya. Salah satu yang memancing dahaga seninya adalah tatkala ia mendengar denting gamelan yang disebutnya ginonjing. Alunan suaranya, denting liriknya, tak ayal membetot pikiran dan jiwanya. Ketika diajak membicarakan soal seni dengan sahabat-sahabatnya di Eropa, Kartini menegaskan bahwa seni yang memikat hatinya adalah yang di dalamnya mengandung keindahan sekaligus pembebasan.

Seni baginya adalah alat untuk mewujudkan cita-cita pembebasan rakyat pribumi dari penjajahan d…

Menapaki Lorong Sastra

Fathor Lt
http://www.lampungpost.com/

SASTRA akan memberi hikmah bagi orang yang mencari hikmah. Sastra akan memberi hiburan bagi orang yang menginginkan hiburan. Tapi, sastra tidak akan memberikan apa-apa bagi orang yang tidak memiliki apresiasi sastra. Begitula jawaban yang diberikan penyair Madura, Zawawi Imron, ketika ia diminta Gubernur Gorontalo Ir. Fadel Muhamamad untuk menceritakan suatu--cerita rakyat--kepadanya. Adapun yang diceritakan Zawawi antara lain, kedekatan hubungan seorang sufi yang diberi julukan Bahlul yang ternyata mampu menjadi kontrol kekhalifahan Harun Al-Rasyid.

Sebagaimana Bahlul, Zawawi pun demikian. Dengan mengambil peran sastra sebagai kontrol terhadap kekuasaan, Zawawi bisa diterima oleh berbagai kalangan, tak terkecuali apakah ia pejabat tinggi negara atau masyarakat bawah. Dengan bersandar pada nilai-nilai keilahian, pandangan Zawawi tentang sastra tak jauh beda dari ajaran Plotinos (205--270) yang mendekatkan pengalaman estetik dan pengalaman relegius, m…

Teolog-Seniman, Aktor Pencerahan Budaya

Endri Y
http://www.lampungpost.com/cetak

PADA era global sekarang, di mana sekat politik-geografis bukan lagi hambatan informasi, kebudayaan bukan hanya ditentukan akal budi manusia saja. Namun, kapital, informasi, media, dan manusia, semua memiliki peran strategis-ketergantungan.

Sedangkan esensi peta posisi budaya berada hanya pada hasil penciptaan para manusia yang telah tercerahkan. Dalam lingkup mencipta gerak budaya "yang tercerahkan" itu adalah seniman dan teolog. Keduanya menjadi pendulum kesejarahan yang terus diproduksi dan mereproduksi diri dalam hadirnya untuk memandu arah zaman.

Telaah Martin Buber yang terkenal, I require a you to become, becoming I, I say you. Jika dikaitkan dengan relevansi keterbukaan masyarakat yang tecermin dalam ranah budaya yang include pada kedirian, menemukan kebenarannya. Masuk di dalamnya akulturasi-akulturasi pada hampir semua diri-budaya sebagaimana filosofi Buber itu, "aku membutuhkan engkau untuk menjadi, sambil menjadi aku, aku…

Sosok di Balik Korden

Kuswinarto
http://www.lampungpost.com/

MATAMU basah. Kau ingat sepotong hati yang telah pergi. Kau ingat benar, saat hati itu meninggalkanmu, saat itu cabai di pasar tak terasa pedasnya. Matamu basah. Saat ini, kau pun tahu, cabai yang dijual di pasar rasanya sedang amat pedasnya. Kita biasanya memetik cabai-cabai kita dengan duka. Cabai-cabai yang sampai sedemikian tua merahnya. Merahnya seperti amarah. Amarah yang tak lagi tertanggung. Amarah yang dendam hendak menjelma bom. Amarah yang ingin meledak seketika!

Andai cabai-cabai itu manusia, mungkin dia sudah membantai habis bibir, lidah, juga gigi orang-orang yang menjadikannya penambah nikmat santapan. Andai cabai-cabai itu manusia, sangat mungkin dia melakukan itu, bahkan bisa jadi ia berserikat dengan garam, bawang, tomat, beserta cobek sekalian ulekannya.

Seperti cabai-cabai itu, matamu merah tua. Dan dari mata merah tua itu, mengalir butir-butir putih air mata. Jernih. Jernih sekali. Seperti sangat suci. Seperti fitri. Dan sesekali…

Keretamu Tak Berhenti Lama

Ratih Kumala
http://www.riaupos.com/

BEL itu berbunyi empat ketukan dengan nada yang membosankan. Seolah lonceng bubaran sekolah, penghuni stasiun serempak menjadi awas dengan pengumuman yang akan diworo-woro setelahnya. Aku tengah terkantuk-kantuk ketika bel itu menyentak, menyadarkanku dari lelap yang belum lengkap.

Pengumuman dikumandangkan bahwa kereta api dari Bandung tujuan Stasiun Malang tiba di jalur tiga. Bagi para penumpang yang telah membeli karcis tujuan ke Malang harap bersiap-siap sebab kereta api tak akan berhenti lama. Dalam pengumuman itu tak lupa diingatkan agar orang-orang menjauh dari jalur kuning yang telah ditandai. Area aman untuk berdiri di dekat jalur rel, agar tak tersambar kereta lewat. Para porter tentu saja tak mengacuhkan pengumuman untuk menjauh dari jalur kuning. Mereka menyambar pintu kereta dengan kelincahan kaki yang terlihat lihai. Meski kereta tak berhenti lama, ada sebagian orang yang turun di Stasiun Tugu, Jogjakarta, ada pula yang naik menuju ke M…

Pegawai Negeri

Teguh Winarsho AS
http://www.suarakarya-online.com/

AKU dan Annisa memutuskan menikah di usia muda. Aku, duapuluh tahun; sedang Annisa, sembilanbelas tahun. Awalnya keputusan ini ditentang ayah. Ayah menghendaki agar kami selesai kuliah, baru menikah. Tapi setelah mendengar penjelasanku, akhirnya ayah maklum dan mau menerima. Begitulah, aku dan Annisa sudah saling menyinta. Kami tak ingin terjebak pada perbuatan yang dilarang agama. Dan, menikah adalah jalan keluar yang terbaik.

Tapi sembilan tahun lebih menjalani hidup berumah tangga, hingga dikaruniai seorang gadis kecil cantik dan seorang laki-laki ganteng, aku masih belum mampu membawa ekonomi keluarga ke arah yang lebih baik. Kami hidup sederhana bahkan cenderung pas-pasan. Hingga kadang bantuan dari orang tua masih mengalir. Tapi ini bukan berarti aku dan istriku tidak berusaha untuk maju. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, ah, mungkin hanya nasib baik saja yang masih belum mau berpihak pada kami.

Istriku dengan bekal i…

CATATAN KECIL ATAS CERMIN MERAH NANO RIANTIARNO

http://mahayana-mahadewa.com/
Maman S Mahayana

“Cermin Merah seperti saluran air yang mampat. Ia menyimpan kepedihan psikis anak manusia yang gelisah: mempertanyakan sang ayah yang hilang diterkam politik tahun 1965, kakak yang tewas dalam pendakian gunung, menggelandang di ibukota atau menikmati percintaan yang tak lazim. Novel yang sangat filmis ini seperti sengaja berakhir tak selesai. Sejumlah pertanyaan menggantung tak berjawab.” Itulah kesimpulan yang dapat saya tangkap selepas membaca (naskah) novel ini. Sebuah kesimpulan yang sangat umum dan tentu saja belum menjelaskan apa-apa.

Sesungguhnya banyak aspek yang dapat kita angkat dari novel ini. Secara struktural, setidaknya ada tiga anasir yang menonjol, yaitu (1) penokohan yang dalam proses karakterisasinya –memakai ungkapan Nano—membrodol sejumlah pertanyaan tak berjawab, (2) tema penyimpangan yang menciptakan semacam labirin yang terus berputar entah sampai kapan. Semua seperti dihadirkan begitu saja sebagai pengejawantahan kema…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi