Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Nyanyian Matahari

Hudan Hidayat
http://www.korantempo.com/

Saat Tuhan sembunyi dalam dunia yang berteka-teki, manusia melayani teka-teki Tuhan dengan kesadaran yang membelah dirinya: ia menghidupkan hatinya dan mengembangkan akalnya. Dengan akalnya ia mengolah dunia empirik. Dengan hatinya ia mengolah iman. Begitulah dua kesadaran yang membelah dunia. Sampai kesadaran itu memisahkan dirinya: menjadi sepenuhnya akal. Dan orang pun sampai pada atheisme.

Tapi atheisme tak bisa utuh. Orang memberontak pada Tuhan, tapi tak punya jawaban tuntas tentang dunia tanpa Tuhan. Kemana pun ia memandang, akan tertumbuk pada bayang-bayang Tuhan. Ia bisa mewacanakan menolak Tuhan, tapi jejak Tuhan tetap dalam dunia, dan sang atheis terperangkap di dalamnya.

Sang atheis yang tak hendak menyerah, hanya bisa membuat jejak "yang bukan Tuhan", dan itulah saat orang-orang menyeru Tuhan dengan nama-nama lain. Seperti yang ditunjukkan Goenawan Mohamad dalam esainya, "Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada&quo…

Laskar Pelangi dan Cerita Pendidikan Indonesia

Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/

Ada tiga film Indonesia yang dinyatakan sebagai kebangkitan dunia perfilman Indonesia, yaitu Naga Bonar Jadi 2, Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Hal itu diungkapkan oleh bapak presiden, Susilo Bambang Yudhoyono seusai menonton Laskar Pelangi dengan Ibu Ani Yudhoyono bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Di antaranya, Jubir Presiden Andi Malarangeng, Menkominfo M Nuh, Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, serta Mendiknas Bambang Sudibyo.

Laskar Pelangi yang disutradarai oleh Riri Riza memang unik dan pantas untuk dijadikan sebagai nominasi film terbaik tahun ini. Bukan karena ditonton oleh presiden beserta menteri. Pesan dan cerita hitam putih pendidikan Indonesia lah yang membuatnya pantas mendapat sanjungan dan apresiasi dari masyarakat. Diangkat dari sebuah novel yang menceritakan perjalanan panjang hidup sang pengarang, Andrea Hirata, menjadikan film Laskar Pelangi seolah dapat dirasak…

PERAHUKU

Mardi Luhung
Jurnal Nasional 14 Sep 2008

Umi dan Abi pergi ke taman kampung. Umi berkebaya sedap. Abi berbaju koko. Kata keduanya: “Kami ingin naik sepur kelinci yang panjang!” terus tersenyum. Senyum yang lepas. Dan membuntut di belakang sepur kelinci yang panjang itu. Seperti buntut layang-layang yang tertempa oleh angin. Meriah dan menyala. Dengan warna yang terang. Warna yang ketika masuk ke dalam mimpiku, akan mewarnai relungnya. Sampai membuat mimpiku merajuk: “Tolong, jangan, jangan bangunkan aku dari ini semua!” Dan senyum yang mengingatkan aku pada yang bertumbuhan di kelebatan bulumu. Yang kerap kau warnai. Yang sesekali menggumpal. Dan sesekali bergerai. Meluncurkan perahuku yang aku anyam dari puisi.

Perahuku yang aku anyam dari puisi?

Ya, ya, perahuku memang aku anyam dari puisi. Puisi yang kata-katanya aku petik dari butir embun yang menetes. Jatuh ke sayap kepik. Memantul. Dan membuat rona yang kelap-kelip. Rona yang sering memasuki mata. Membangun sebuah kolam air yang lon…

POTRET KULTUR DAN AGAMA KELUARGA BATAK

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam banyak buku yang membicarakan perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, nama Sitor Situmorang sering kali dikaitkan dengan prestasi kepenyairannya. Oleh karena itu, pembahasan terhadap antologi puisinya, jauh lebih banyak dibandingkan dengan pembahasan terhadap cerpen, drama atau esai-esainya. Sekadar menyebut beberapa di antaranya, periksa misalnya buku A. Teeuw, Tergantung pada Kata (1980: 32—40), Subagio Sastrowardojo, Sosok Pribadi dalam Sajak 1980: 56—141), Korrie Layun Rampan, Pembicaraan Puisi Indonesia (1980), disertasi Wing Kardjo (1981), dan sejumlah skripsi yang membahas buku antologi puisi Sitor Situmorang. Dalam buku yang lain, A. Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1978: 242—254 dan Sastra Indonesia Modern II, 1989: 112—114) menempatkan Sitor Situmorang dalam konteks perkembangan kesusastraan Indonesia. Jadi, pembicaraannya lebih komprehensif, meskipun tak terhindarkan ulasan mengenai puisi tetap lebih dominan.

Pembahasan m…

Masa Lalu Sebagai Kenang-Kenangan

Haris del Hakim

Berapa kali kaujenguk masa lalumu setiap hari?
Kenangan masa lalu selalu tampak indah dan senantiasa diingat dengan wajah berseri-seri, seakan alam semesta telah berubah menjadi alat musik yang hanya memainkan nada-nada bahagia. Meski perih dan luka tidak lepas dari satu kurun dalam kenangan itu, namun tak ubahnya nada improvisasi yang menambah merdu irama. Dan cerita tentang masa lalu lebih sering diiringi dengan tertawa dan bangga, apalagi bila terlibat di dalamnya sebagai pelaku.

Akan tetapi, saat sekarang yang sedang dialami dan dijalani menunjukkan bahwa dunia ini hanya hidup yang getir, pahit, dan luka yang tak kunjung sudah. Irama saat ini hanya lagu sendu yang sering menguras air mata, seakan tidak pernah mendapatkan satu tangga nada yang mampu membuat gembira. Semua peristiwa saat ini seakan tersedot dalam pusaran melelahkan dan membuat putus asa.

Sekali waktu muncul kesempatan menyenangkan dengan hadirnya rezeki, kabar gembira, atau kawan lama yang selama tahunan…

RELIGIUITAS SANG PRIYAYI

Judul Buku: Serasi Denyutan Puri
Pengarang: Suryanto Sastroatmodjo
Penerbit: Pustaka Pujangga
Tebal Buku: 60 hlm; 13 x 20, 5 cm
Peresensi: Imamuddin SA

Religiuitas dewasa ini haruslah dinomorsatukan. Seorang anak manusia hauruslah senantiasa kembali pada hakekata religius yang sebenarnya. Bukan religius asal-asalan. Dan bukan religius kelembagaan semata. Melainkan religius yang mencerminkan pengagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengagungan yang bukan sekadar kembang bualan. Namun berslimutkan dalam tangan perjalanan. Biar realitas kehidupan mengalami penurunan intensitas kecarut-marutannya.

Bentuk pengagungan itu dapat dilakukan dengan jalan mematuhi segala perintah Tuhan serta meninggalkan segala larangan-Nya. Dalam hal ini adalah ingat kepada Tuhan dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Baik bumi sebagai makro kosmos maupun mikro kosmos.

Pada dasarnya, segala kerusakan yang berada pada makro kosmos itu bersumber pada kerusakan mikro kosmosnya; yaitu pribadi manusiannya. Dan kerusaka…

Suatu Konsep Baru: Estetika Realisme-Primitif, Testimoni, dan Pengutuhan Kualitas Hidup

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“Mencintai seseorang sama artinya
rela menjadi tua di sampingnya.” (Albert Camus)

TAMPAKNYA dialog yang diucapkan tokoh rekaan dalam Caligula itu, kini boleh dilontarkan siapa saja. Tak musti sahih bila dituturkan penganut kaum absurdis. Terlebih kian sulit di zaman sekarang mencari orang yang paham akan karya-karya berat Caligula, Sampar (Camus), The Waiting for Godot, Endgame (Beckett), Zarathustra (Nietzsche) dan sejenisnya.

Diakui, mereka adalah sederet para “nabi” senjakala mondernitas, dengan kitab-kitabnya yang mengkritik puncak-puncak nalar yang diboncengi cemburu, ambisi, serakah, dan berbuah sikap metafisik atau sikap jiwa yang nampaknya samar tetapi jelas, jauh tetapi dekat. Suatu sikap yang dalam pandangan mereka sebetulnya sama sekali sia-sia, tapi perlu meski tak harus berarti penting. Bahkan hingga paling tersia (pesimis maupun optimis).

Bagi mereka yang penting adalah hidup “indah” menyongsong kematian.
Pendeknya, setiap orang harus men…

Rumah yang Hilang

Ida Ahdiah
http://www.jawapos.com/

Rumah itu kecil dua lantai, dan jauh dari keramaian. Lantai pertama terdiri dari ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Dua kamar tidur dan kamar mandi di lantai atas. Di kanan, kiri, depan, dan belakang masih ada tanah kosong. Supermarket agak jauh. Begitu juga klinik.

Dua blok dari rumah ada taman besar, menjorok ke sungai, yang membelah pulau. Piere yang lahir di sebuah kota kecil, di tepi sungai, dengan dermaga kayu tempat menambatkan perahu, menyukai kedekatan rumah itu dengan sungai.

''Mari kita hitung berapa uang yang kita miliki,'' kata Piere sambil menggenggam tangan istrinya, Siti.

Berdua mereka menatapi rumah berdinding bata merah itu.

''Jika kurang uang kita jual rumah yang di Indonesia,'' ujar Siti.
''Kau sudah tak sabar, ya?''
''Apartemen itu tak layak huni lagi."

Musim dingin lalu, di bawah temperatur -30, pemanas di apartemen tak berfungsi. Piere dan Siti tidur mengenakan baju hangat, …

PEMUDA

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

Besok lusa, 28 Oktober 2008, bangsa Indonesia akan memperingati hari ''Soempah Pemoeda''. Kongres Pemuda II yang menghasilkan tiga butir Sumpah Pemuda itu menurut Ajip Rosidi sebagai pernyataan resmi adanya tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Sebelum itu masih belum ada bahasa Indonesia. Yang ada adalah bahasa Melayu yang telah menjadi lingua franca antaretnik-etnik yang ada di Nusantara. Bahkan, ketika Raffles menjabat gubernur jenderal (1811), raja-raja yang bukan etnik Melayu berkirim surat sebagai tanda pernyataan setia kepada Raffles. Surat raja-raja dari berbagai daerah itu dibukukan dengan judul Golden Letters, hampir semua menggunakan bahasa Melayu. Hal itu membuktikan bahwa bahasa Melayu telah dipakai alat komunikasi resmi satu abad sebelum Sumpah Pemuda.

Maka, sangat tepat kalau pemuda-pemuda yang berkongres di Jakarta pada akhir Oktober 1928 itu memilih bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Padah…

Laki-Laki Basah Budi Darma

Prof Dr Fabiola D. Kurnia
http://www.jawapos.com/

Buku ini memuat lima belas cerpen terbaik Budi Darma, sastrawan yang juga guru besar sastra Universitas Negeri Surabaya. Ilustrasi sampulnya menarik. Ada topi baja, selongsong peluru, pena, dan sampul surat bercaplak pengarang.

Jagat sastra di negeri ini tahu bahwa Budi Darma, yang memperoleh gelar doktornya di Bloomington University, Indiana, AS, memang seorang datuk sastra yang piawai. Kepiawaiannya mengupas teori dan kelincahannya mengocok kata-kata tentunya lekat dengan budaya Jawa dalam dirinya.

Dalam peribahasa Jawa orang mengenal ungkapan randha teles yang maknanya janda ''berkebolehan''. ''Boleh'' dengan segala ''keistimewaan'' yang dimilikinya. Dan, keistimewaannya itu mengundang serta menyenangkan bagi banyak penggemarnya. Istilah randha teles membawa tautan antara teori dan praktik kata-kata, yang sedikit-banyak, mampu menggelitik dan menggiring daya cipta Budi Darma untuk menelork…

RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I - XC

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=197

Pribadimu lenyap dalam pergumulan perasaan, sewaktu angin merangsek
mengumpulkan awan bimbang, diulur daya tarik layang bumi menjelajah (XIX: I).

Menjelang senja, berbondong merangkul cium jubah kemerah,
ada memberi cawan berisi madu, persembahkan cangkir penuh airmata,
ialah rupawan di atas ketinggian kepatuhanmu berkasih sayang (XIX: II).

Magrib menutup senjakala, hujan turun rintian mesrah, senyum berpadu
menyatukan dada bergetar, sebesar kerinduan terpelihara (XIX: III).

Merestui perjalananmu di kala gerimis bersemangat ribuan keringat,
kalimah berhamburan selaksa taburan mayang musim semi (XIX: IV).

Nikmatilah kedekatan basah kuyup menelusup,
melewati parit-parit nuranimu menyuburkan tanaman (XIX: V).

Pertimbanganmu memberi atau menunda keadaannya,
menentukan harapanmu seiring laguan tropis menghijau (XIX: VI).

Tapakan kaki di tanah basah lereng kalbu, terdengarlah
pengaduan masa lalumu menggedor punggung langit kelabu (XIX: VII).

Kidunganmu…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi