Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

Puisi-Puisi Esha Tegar Putra

Jurnal Nasional, 21 Sep 2008
Orang Ladang

tujuh petang menukak punggungnya, di bukit
ingin mencakau alang-alang. niat tinggal kalimat
tujuh petang gigih menikam, menyansam,
mirip ragam umbi yang ditanak dalam periuk
teruka ini tinggal batas, tinggal jejak, sebab di bukit
ia tumbuh dan menyusup ke dalam lempung tanah

tujuh petang menukak punggungnya, di ladang
ada yang tak pernah hafal desau biola, segelas anggur
atau niat untuk membangun rumah pasir di tepi pantai
sebab ia orang ladang. ia lesap ketika mengejar tupai dan beruk,
dia rapal musim petik kopi
dan ketukan yang berkali pada pintu dangau
ia tahu siapa yang tiba

maksud hanya menukak tanah lalu tanam. menanam
lalu petik. tapi sepi berkuasa terlalu dalam
ia ingin bertuju pada sebuah jalan batu, simpang
dengan udara masam, ilalang kering merabuk
ke sebuah tempat di mana tupai dan beruk berdamai,
bersamanya. mereka akan berkejaran di bukit
dalam botol anggur,
lalu mereka akan lelap di desau biola

tujuh senja adalah ia yang ingin berladang
pada sebuah tan…

Seabad sang Penyelamat NKRI

Bernando J. Sujibto

100 Tahun Mohammad Natsir

Memang tidak berlebihan jika akhirnya presiden pertama RI Soekarno menyebut Mohammad Natsir atau Pak Natsir, sapaan akrabnya, sebagai Penyelamat NKRI. Pak Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI. Berkali-kali Natsir menyelamatkan Republik dari ancaman perpecahan. Pada tahun 1949 ia berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogjakarta dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Soekarno-Hatta.

Spirit NKRI Natsir juga ditunjukkan ketika Aceh mau melepaskan diri dari kesatuan republik ini pada Januari 1951. Sikap keras sang tokoh kemerdekaan Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara, akhirnya ‘melunak’ ketika berunding dengan Natsir karena kesalehan dan keteladanan Natsir yang terpancar teguh dan menjadi keyakinan bagi sosok Daud Beureuh.

Dalam konteks realitas bangsa dan negara Indones…

Pulang dalam Hujan

Suara Merdeka, 6 Maret 2005, dan Riau Pos, 19 November 2006
Marhalim Zaini

Kampung-kampung di sini tak pernah memiliki cerita yang lain. Kerentaan dan kehampaan, selain itu waktu yang berjalan sangat lambat. Kepulanganku, seperti juga kepulanganku yang lain, hanya kembali menyaksikan jalan berlubang, berdebu ketika kemarau, banjir dan bencah saat hujan. Ini Desember, hujan membuat tubuh kampung-kampung di sini menggigil. Hujan, berarti juga angin dan tak jarang adalah badai. Hati-hatilah kalau menyebut Selat Melaka, saat musim sedang begini. Atau jangan sesekali bernyanyi lagu Lancang Kuning, kalau tak ingin atap rumbia rumah penduduk terbang seperti kapas, dan pohon-pohon kelapa bertahlil, tak jarang menimpuk jalan, kedai, rumah, bahkan manusia. Entahlah, begitu keramatnya nama-nama itu. Tak seorang pun mengerti, sejak kapan sebutan itu dapat mengundang badai. Yang pasti, kalau mau aman dan selamat, tolonglah jangan sebut nama-nama itu. Dan tengoklah, mulai naik dari pelabuhan kecil ta…

Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur

Bernando J. Sujibto

Bagi yang terikat
Merpati pasti lebih jinak

Memang bukan hanya sekedar ketepatan, ataupun ketidaksengajaan yang sia-sia belaka, jika akhirnya saya dan beberapa teman (Ira, Sukma, Imam, Roman, Lanceng, Joko, Yoso, Thendra, dan Koto) bisa bertandang ke tanah Minangkabau, khususnya di daerah Pesisir Barat pulau Sumatera, tempat Raudal TB, Indrian Koto, dan Riki Dhamparan Putra lahir. Jauh sebelum hari itu, tanggal 27-29 April 2008, hari penting dalam peta perjalanan hidup ini, saya sudah begitu terbius-kagum kepada tanah kelahiran si ‘mitos’ Siti Nurbaya. Di sana pula telah saya tahu, meskipun mungkin telat, HAMKA, Marah Rusli, Hanafi, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Abdul Muis, dengan jalannya sendiri yang telah ditempuh untuk suatu yang sangat berharga demi martabat bangsa dan negara ini.

Tujuan saya dan teman-teman pertama adalah Payakumbuh, kota yang airnya bersih dan ikannya jinak (sebuah adagium tanah darek Payakumbuh). Di sana kita ada perhelatan temu penyair 5 kota …

Belajar Bercinta dengan Laut

Koran Tempo, Minggu, 19 Juni 2005
Marhalim Zaini

Segala yang datang dari laut, cintailah.
Tentang perjalanan. Tentang hidup yang tak terukur. Dan sesuatu yang tiba-tiba membuat kita merasa tidak lengkap. Di mana ia? Seorang saja yang hilang, pasti hati kita lengang. Kehilangan itu kian akrab. Seakrab kematian. Dan laut, selalu menyimpan ketakterdugaan. Ia, lelaki yang pergi bersama subuh. Aku, perempuan yang menanti seperti luluh. Kami, sepasang kekasih, yang disebabkan laut, maka harus melepas pagut.

Ini bekas barut perahumu. Apa yang tertulis di pasir, itulah yang kutunggu. Ingat, akulah ibu untuk calon anak-anakmu kelak. Bukankah telah kautanam di batas pantai, sebuah janji? Bahwa kepulanganmu adalah pasti. Aku perempuan yang tak ingin diingkari, menatap laut yang tak berbatas di matamu, seperti mimpi yang tak bertepi. Apakah kita sedang bermimpi? Tidak. Perasaanku adalah saksi. Sewaktu kau menyerah pada laut, dan membiarkan tangannya membawamu, aku sebenarnya sedang belajar mengekalk…

Puisi-Puisi Sri Wintala Achmad

SULUK SRIKANDI

(I)
Di alun-alun
Rumput merimbun
Semilir angin
Buai sepasang beringin

Angkasa membiru-jingga
Membakar gairah asmara
“Kanda, ajarkan aku memanah matahari
Sebelum terbenam ke dasar hati!”
Ujar Srikandi, sembari
Mencolek pipi Permadi

(II)
Angin lelap di sarang malam
Tidak ada kecipak ikan di kolam
Hanya desah Srikandi di bibir ranum
Melenguh hingga ke tulang sungsum
Lunglai telanjang di ranjang
Di pipi, airmata berlinang

“Kanda, mengapa kita cepat berpisah
Manakala matahari terpanah
Koyak berdarah?”

(III)
Di depan gerbang istana
Hati Srikandi berbunga-bunga
Melepas Permadi ke Madukara
Dadanya hangat diraba
Namun matanya tersirat sendu
Sekali mencinta lelaki buat dimadu

Sanggar Gunung Gamping, 07082006



SULUK BANOWATI

Di depan Bunda Setyawati
Aku hancurkan cermin kaca
Malu hidup sekali
Sebagai wanita pendua cinta

Akulah si bungsu Narasoma
Yang terlepas dari kudangan
Bukan pecinta s’orang hingga senja tiba
Melainkan pengkhianat kasih pujaan

Tidak sebat…

HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I - CXIII

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=231

Ia tak pernah menjatuhkan vonis kematian kedua kali, kecuali kau
naik banding, serupa mati surinya pemegang sapu lidi di makam Ampel (II: I).

Tahukah kau mengenai tercerabutnya nyawa? Sebuah awal perjalanan baru
berakhirnya kesedihan menuju kelanggengan kasih sayang (II: II).

Tidakkah kau merasa bersalah, berjalan di depan matahari
sambil menggandeng bayangan? Kiranya bayangan lenyap jika kau bersujud
di hadapan cahaya, ia seekor burung mengamati langkah-langkahmu (II: III).

Sebenarnya kau tidak mencintai bayangan tetapi ia selalu mengikuti,
bukankah ketenanganmu bercermin cahaya? Dan bayang bergetar olehnya (II: IV).

Di atas bukit ia berseru, ikutilah kepakan sayapku serupa menuruti nuranimu,
dulu aku memiliki bayangan, di saat terbang tinggi hilang sendiri,
ia tak mampu terbang, hanya membebani pengembara (II: V).

Jadilah kekupu waktu, menerima berkepompong terlebih dulu,
lama memintal benang sutramu, akan anggun begitu tampil (II: VI).

Kelepaka…

Beduk I

Jawa Pos, 14 Sep 2008
D. Zawawi Imron

Beduk dan kokok ayam bersahutan dinihari
Mengolah ufuk timur merentang senar-senar cahaya
Gita dari getar gitar hidupku
Beduk itulah yang memanduku tersenyum
agar senyumku tak terhapus usia
---

Aku berwudu untuk bersubuh, kubasuh wajahku agar keramahan
menjadi bahasa kasih yang tak bisa diterjemahkan
kecuali oleh bahasa embun yang menetes pada mawar
---

Kubasuh kedua tanganku
agar aku mampu merias wajah kampung halaman ibuku,
ibu dari seluruh bangsaku
sambil kuharap, keringat menderap menjadi bagian takdir Tuhan
yang masih tersimpan di balik cakrawala
---

Kuusap kepalaku
agar aku bisa membedakan pecahan kaca dengan berlian
Aku rindu pada secercah kunang-kunang yang mekar dalam sanubari
tempat beduk sejati bertalu
dan belum tentu sekali
bertalu dalam hidupku
---

Kubasuh kakiku
agar aku bisa menempuh jarak dan abad
karena aku dilahirkan untuk menjadi pejalan jauh
yang mencari beduk yang mungkin hilang sebelum kutabuh
Orang yang mujur bukan yang kaya teori
namun lumpuh dalam memb…

MEMBUKA RAGA PADMI, I: I - XCIII

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=233

Ketika dunia berupa kabut pekat, siapa berkata?
Manakala embun belum terlahir, siapa menggapai?
Di saat sejarah belum tercatat, siapa berbicara kata?
Wewaktu masih berupa potongan-potongan cahaya,
siapa yang dahulu menempati lautan es cahaya? (I: I).

Wanita ditakdirkan melahirkan anak-anaknya,
menyusui anak laki-laki dan perempuan (I: II).

Ia pembuka gerbang langit, ketika kitab waktu belum dipelajari (I: III).

Dia insan tertinggi di muka bumi,
karenanya kabut singkup, mega lenyap, wajah langit biru (I: IV).

Doa ibu mencipta senyum menafaskan angkasa
bagaikan gelombang ke pantai berulang-ulang (I: V).

Perawan cantik sejagat keturunan Hawa, kepadanya cahaya memancar
dan setiap lelaki yang dicintai, niscaya bermahkotakan raja (I: VI).

Menjadikan awan kerudung baginya,
lalu kegundahan menderas bagi menertawai (I: VII).

Begitu singkat keperjakaan memaknai sang gadis, maka melangkahlah
mengikuti harum kanthil menuju taman-taman jauh di sana (I: VIII).

Janga…

Berenergi Sedih

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Sehabis membaca cerpen (cerita pendek) Mein Dina Oktaviani di Jawa Pos, 29 Juni 2008 membuatku kembali berenergi positif dalam hidup. Hari-hari terakhir ini, aku sangat malas dan dihantui kesuntukan pesimis menjalani hidup. Hidup seakan sangat menjenuhkan sekali dan hanya menambah-nambah masalah saja. Dalam keadaan seperti itu, di mana kondisi psikis sangat tak bisa diajak kompromi, aku sonder seluruh rutinitas kegiatan, semisal membaca dan menulis. Jujur, hal lain yang membuat aku tertarik pada cerpen itu adalah ilustrasi apik (gambar gadis beraut sedih seakan berharap sesuatu) yang akrab dengan warna jiwaku.

Dalam kerinduan selalu ingin hidup stabil, aku berpikir dan merenung, meminjam istilah Pak Guru J. Sumardianta, mengaudit kesibukan-kesibukan guna antisipasi kesadaran palsu. Lazimnya orang sedih, kesedihanku tak jauh beda. Jika orang tatkala sedih beraura murung, aku pun menjalani kesedihan secara sama. Yang membedakannya (pengal…

Sajak-Sajak Mashuri

Orang Mati yang Tak Dikuburkan

datang, datanglah ke pengapku; ulir yang mengalir dari gelap; risau daun-daun dimangsa ulat; juga cahya yang pecah terbiar berdarah dilesakkan ke sekujur jazirah; kerna maut tak berbagi dalam satu detik ---segala waktu menghantu

dan tak ada dosa tak berampun di lembayungku ---hidup berkarat dalam sengau; serupa jarak memencil, sunyi labil, sambil berhibuk dengan kemarau; keesaan diri yang dicabut, dan dirambati mimpi-mimpi –mati pun berlabuh bersama hujan, tanpa suara dan terpaan

jika kau lah dipersilah, cakrawalaku tak lagi datar, serupa batas di laut lepas dan luas; tapi gelegar lah mencelat ke dalaman, menukik, ke dasar, dan kusadar: ada yang berbalik, ke bilik, menggedor sendiri, menjebol mimpi lalu menusukkan seribu belati ke terumbu ---langit

berlubang; berahasia

dinistakan

dan diantarkan ke pematang ---saat lahat demikian gencar berdentang

kau akan sampai di belulangku, dan kau akan menemui, aku lah berkarib maut, sebelum menjemput; tapi di sini, tak ada…

MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I - XXXIX

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=235

Allahhumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad;
ruh bersaksi sederaian gerimis mengantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga (I).

Mengatup manggar sayang, mengadu dataran gurun,
gapaian kalbu menyingkap suluran tabir, berdentaman tembang ganjil (II).

Yang genap dinikmati terhuyung ingin penuh, dari awal hingga akhir
harap dipunggah, bermula lelembaran magnet cahaya rasa (III).

Kertas ini seluruhnya bertakdirkan nyawa persembahan,
kelanggengan bagi anak-anak sungai menuju muara (IV).

Maka jangan menghitung masa bertirakat,
hisaplah kutub keberadaan kekuatannya (V).

Percikan ini berasal bebijian zaitun bersimpankan minyak
cemerlang tanpa nyala api, laksana insan berkehendak tinggi
melebihi kursi kedudukan para Malaikat Ruhaniyyuun (VI).

Kesungguhan mendekatkan diri, di muka pintu serasa lenyap;
kau mendaki usia, ia suguhkan udara bagimu,
kau kunjungi telempap, ia persilakan waktu bagimu juga (VII).

Jangan mewuju…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi