Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

Ayat-ayat Cinta & Tuhan sebagai Komoditas

A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Stok tema soal cinta tak bakal habis diulas. Tema yang satu ini memiliki daya aktual kuat yang didesain khusus mampu berkompromi dengan setiap limit waktu dan ruang. Sifat kekekalan cinta memberi peninggalan ‘rasa’ yang bersemayam di lubuk hati terdalam. Tak dinafi’kan, rasa mencintai merupakan fitrah alamiah tiap-tiap orang.

Kelenturan rasa cinta yang kerap menjadi ‘bunglon’ atas apapun, menyeretnya berubah ‘barang’ dagangan yang bebas dikonsumsi ramai-ramai oleh publik. Kiranya betul bila penyanyi tersohor tanah air ini mengalegori ‘cinta tak kenal logika’, menyebabkan tema cinta mudah menghipnotis para penghambanya. Tema cinta berhasil mengebiri kecanggihan rasio takluk akan buaian romantisme alpa. Tema cinta kini telah dikosmetika secantik mungkin menjadi budaya massa.

Tak dapat ditampik bila para penghamba cinta sekaligus penjilat kapital, tak ambil pusing untuk menyiasati komoditasnya laku keras di pasar, cukup dibumbui dengan ke…

Puisi-Puisi Imamuddin SA

DARI ALIF SAMPAI YA’
kepada Sang Nabi

lidahku laksana kutub
dan sarafku tak bergaun wol
hingga bibirku membeku
membisu

imajiku kaku
tiada aksara terangkai untukmu
hampa mengukir puitika puja nan merdu,
sungguh segalanya telah terlampaui keanggunanmu
gontai jalan hatiku

mengangan angan tuk kembali memujimu
sebab abjad terusang olehku

di sisa degup sahadat
merekat
kusisipkan rekaat munajat
lewat tembang-tembang yang kau gurat;

“dari alif sapai ya’
adalah bukti perjalanan waktu
disingkap kebersatuan laku
terkunci keyakinan kalbu,

esok kita kan bersatu
kala kusanggup membongkar tanda
yang kau kisah untukku
sebab yang tertuju hanyalah satu
kuyakin itu”

Kendalkemlagi, Maret 2008



KADO JATI SEREMONI

ia kenal tembangmu
walau ini sepedih rasa
meringkuk telah
di sekutu tanah,
kau rentang saja
sayap-sayap kalbu
merela gala teseru

adalah serimpi misi
mengarang kembang usai
lewat cendawan nanti
tak terbeli
atau tergadai lalui
liat lindu tempo hari
pun entah … ini
sebatas sirkus nadi
bagai kado jati seremoni

tiada seberat hati
melepas diri
bagi…

Tak Ada Kata Terlambat Untuk Menulis

Liza Wahyuninto

Kampanye menulis sedang gencar-gencarnya digalakkan akhir-akhir ini, baik dari individu penulis (ternama maupun pemula) sampai pada pengadaan pelatihan jurnalistik dan penulisan bertarap nasional. Endingnya tentu saja mengharapkan output dari pelatihan tersebut berhasil melahirkan penulis-penulis baru.

Kelahiran penulis-penulis baru ini memang selalu dinanti oleh masyarakat, terutama dari lingkungan akademisi yang dalam hal ini adalah siswa dan mahasiswa. Karena dari kaum akademisilah biasanya penulis-penulis sekaligus pemikir masa depan bangsa. Selama ini di Indonesia sudah banyak ditemukan penulis, namun tulisan yang berkualitas masih jarang ditemui.

Ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam mengawal kelahiran penulis-penulis baru yang nantinya akan kita nanti buah pikiran yang brilian dari mereka.

Menjadi Penulis Adalah Pilihan
Penulis tidak dilahirkan, itulah mottonya. Bahwa menulis bukanlah bakat yang dimiliki oleh orang-orang tertentu, tetapi menjadi penuli…

Parafrase Kesedihan

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Mereka enggan hidup nyaman dengan kesibukan permanennya yang melulu menghamba pada rotasi mesin berdaya konsumerisme. Mereka membaktikan hidup di desa-desa kumuh dengan tetap menggawangi idealisme berkatologisasi pengetahuan, yaitu memilih hidup keranjingan membaca.

Berbeda dari itu, kisah tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi di mana Andrea Hirata sebagai arsiteknya, malah mempraktikkan kesengsaran akut demi sebuah arung pendidikan. Lintang bersama sembilan kawannya yang menamakan dirinya dengan sebutan Laskar Pelangi…

Perjuangan Mengangkat Sastra Pinggiran

Musfi Efrizal*

Puisiku bukan batu Rubi ataupun Zamrud, Puisiku adalah debu, namun debu Karbala (Fuzuli, 1556)

Sastra jurnal memang jarang diperbincangkan oleh masyarakat pengkaji dan penikmat sastra. Hal ini dikarenakan sastra lebih populer lewat media koran atau buku (baca : sastra koran dan sastra buku). Tidak mengherankan jika muncul pernyataan “jangan sebagai seorang pengarang/pujangga/penyair apabila karyanya belum dimuat di koran”. Hal ini jelas sangat mendeskreditkan sekaligus melecehkan beberapa penulis yang berada di daerah pedalaman atau pinggiran.

Polemik sastra kota dan sastra pinggiran memang sempat didengungungkan, namun yang penting untuk disoroti adalah kualitas karya yang dihasilkan. Sastra pinggiran dengan segala kekurangannya bukan berarti kualitasnya rendahan, pun demikian meskipun sastra kota dengan segala hal yang dapat dijangkaunya dan didukung oleh upaya saling mengangkat nama di antara para penulis belum tentu karya mereka berkualitas.

Jurnal Kebudayaan The Sandou…

Sajak-Sajak Mashuri

SITI, AYO KAWIN LARI

Di ruang kelas, aku baca cerita
yang sering membuatku berpusing kepala
cerita yang mengingatkanku pada pacarku
yang kepalanya juga sering terancam pecah
cerita yang berpangkal pada cinta tak berpunya
dan berakhir dengan duka carita…

“syamsul bahri berlari-lari ketika siti melamun di tepi
perigi, sambil memuji diri sendiri
: akulah perempuan abadi!”

Aku lalu mengambil penghapus dari ruang guru
Membaca sebentar, meski berlembar-lembar
lalu dengan ringkas kupangkas

Nama yang selalu membuatku was-was
: Siti
pada Syamsul Bahri, aku sisakan hidupnya
karena aku tahu Marah Rusli pun menyisakan hidupnya
dalam cerita,
meski siti telah mati..

aku begitu kawatir, kalau Marah marah lewat guruku
dan menggantungku
di depan kelas, sambil terus menerus menjejaliku
dengan kertas-kertas, yang panjang
dan tak bisa aku ringkas
aku pun menulis begitu tergesa di kertas
: “Syamsul Bahri hanya mati sekali;

sekali nafas
terpangkas, sesudah itu impas, lunas…”
Siti telah mati,
aih, ternyata Syamsul Bahri pun mati
tapi ki…

Rindu Yang Tak Terjamah

Yushifull Ilmy*

Brakk…! Dengan kesal kubanting tasku ke lantai. Entah mengapa hari ini nasib buruk selalu menimpaku. Nazril Ilham yang biasa di panggil Aril, siswa kelas 3B yang terkenal sombong itu, membuatku kesetanan. Tadi di kantin ketika aku membawa segelas es teh hendak menuju tempat duduk dia menabrakku hingga gelasnya jatuh. Itu saja tidak cukup. Ketika aku pulang sekolah dia bersama motor gedenya melaju dengan kencang melewati kubangan air di tepi jalan yang tepat di sampingku dan…praatt……muncrat air itu ke bajuku.

"Dasar orang sombong, nggak punya sopan santun," gerutuku. Yang membuatku makin marah ketika dia terus melaju tanpa merasa bersalah sama sekali.
Hari ini team basket dari kelas 3A dan 3C bertanding. Teman-teman yang bukan pemain menjadi penonton para idolanya bersaing. Aku yang tak begitu tertarik dengan olah raga memilih tetap di dalam kelas. Aku membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan. Tiba-tiba terdengar suara yang mengganggu konsentrasiku, "Aku…

For You; Love

Nh. Anfalah

Aku Naia. Gadis sebatangkara. Entah mengapa hidupku seperti tak berguna. Hanya Allah-lah satu-satunya sang Kuasa yang takdirnya harus kuterima.
“Pisang,... Goreng,… Pisang gorengnya, Bu. Masih hangat.” Lantang suaraku semakin meramaikan pagi yang cerah. Begitulah, tak ada seorang pun yang mengiraukanku.

Sering kudengar bisik-bisik yang tak menyenangkan. Ejekan, cemooh, caci dan maki sudah terbiasa bersarang di telingaku. Kadang kalau pisang gorengku tak laku, aku membawa dan menjualnya ke kampus, meski banyak yang takut dengan luka bakar di pipiku yang menjijikkan. Semua kulakukan hanya demi kuliahku. Demi ilmu. Demi hidupku. Dan demi cintaku. Cinta yang tak terbalas. Cinta yang tak tersampaikan yang berakhir dengan penantian tak berujung.

“Iih… Si dia ngelamun tuh. Ngelamunin pisang gorengnya, kaleee…. Hey, Naia. Lihat pisang goreng lu…!”
Tak kuhiraukan celoteh si Amel sebelum ku dengar suara yang ramai di kantin yang memang berdekatan dengan kelasku. Aku segera menuju ke kant…

Pernik Kehidupan Masyarakat Kejawen

Judul Buku : Dunia Mistik Orang Jawa
Penulis : Capt. R.P. Suyono
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : vii + 280 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Meski pola berpikir masyarakat Jawa saat ini terkategori rasional, akan tetapi masih ada sebagian masyarakat Jawa berkeruh dengan sentuhan-sentuhan mistik. Misalkan, mengenai keyakinan mistik yang dianut orang Jawa, beragam agama dan kepercayaan, dunia roh, benda-benda magis, ritual, perhitungan waktu, ramalan Jayabaya, serta tempat-tempat angker yang masih terdapat dipulau Jawa hingga sekarang.

Mistik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah hal-hal ghaib yang tidak terjangkau oleh akal, tetapi ada dan nyata. Para antropolog dan sosiolog mengartikan mistik sebagai subsistem yang ada pada hampir semua sistem religi guna memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan bersatu setia dengan Tuhan. Mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam pikiran kolektif masyarakat.

Tak jarang k…

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

PUITIKA PURNAMA WAKTU

di atas laut
di hari ketika malam menghempas
waktu diantara celah langit dan bunga karang

buihbuih menepi menggoreskan mata pena
di pasir angin:

- aku pintu menghadap laut
deru gelombang yang sanggup menghempas
1000 purnama

wahai purnama yang tenggelam dalam cahaya
akulah menghapus jejak luka
mengalir teramat panjang
menyayat langit
menjadi gumpalan udara

sungguh
aku telah menyebrangi lorong berderu itu
melenyapkan diri dalam riuh puisipuisi
menjemput rembulan dari celah cakrawala
retak
menjadikan puitika purnama waktu yang berpijar;

meski rerontok
sunyi sesayap zirah
luruh di tangan laut
menjadikan serpihan cahaya;
tempat pengekalan terhadap
matahari matahati.

Lamongan, 2006



METAMORFOSA SUATU LANGIT

jiwajiwa kering itu diterbangkan angin;
adakah tangantangan tak kasat mata
mengantarnya pada darah
cinta di ketinggian mencari cahaya
(dan tak dapat dimaknai hakikatnya)

jiwajiwa itu mengering terlalu cepat
menyangkal jasad tak bersalah
melayang di atas pengingkaran ruang cosmos
menjumpaiku pada kebisu…

Kembang Sepatu di Antara Sepatu

A Rodhi Murtadho

Sepatu berbau busuk. Kembang sepatu berwarna merah. Pemandangan yang selalu ada di setiap hari Minggu. Di antara teriknya sinar matahari dan angin yang terus mengalir pada kesunyian yang membawa bau busuk sepatu. Tentu saja bau itu menjalar ke mana-mana. Yang pasti ke rumahku. Sebagai tetangga yang berdempetan. Bahkan halamannya juga hampir menjadi satu. Aku yakin tetangga yang berada di seberang sana dalam radius seratus meter masih bisa merasakan kebusukan sepatu itu.

“Mas, jangan kau buka pintu dan jendela, aku takut bau busuk sepatu itu akan menjalari rumah kita,” pintaku pada suamiku.

“Tapi udara segar tidak akan masuk, Dik,” kata Harjo, suamiku yang berperawakan kalem dan sangat sabar.
“Itu lebih baik daripada seluruh isi rumah ini akan menjadi sesak dan busuk.”

Kami sebenarnya tidak tahan. Lebih tepatnya, aku sangat tidak tahan. Bagaimana mungkin Kumajas, tetanggaku itu, tahan dengan bau busuk yang menyengat seperti itu. Pintu dan jendela rumahnya terbuka. Sepatu ya…

Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi

Interlude di Remang Malam

terdengar itu,
jam dinding membentak
hitungan waktu yang terpenggal
tak pernah gagal

rupanya,
kita sudah menjadi kebal
terus mengotak-atik waktu
dari 1 ke 1001
: mimpi manusia

tapi,
suara tokek itu
masih sempat membikin kita tersentak juga



Perjalanan Ke Bukit

aku tak ‘kan mengharap
jalan datar di depan sana
dan doa yang mengharapkannya
akan ditertawakan udara
sebagai ketololan yang sia-sia

”telah kering sang Pena”

iklim-cuaca pun mencatat
bahwa perjalanan ke bukit
otot-otot menjadi kawat
butir-butir nasi menjadi keringat
dan semangat ditumbuhi karat

dan manakala aku tergelincir menggelinding
aku tak mau ada di antara ngeri dan mimpi
yang tak lain adalah diam yang menyiksa

biarlah hancur binasa
sebab kehidupan akan tergelar segera
dengan memandang mekar wajahku
di bukit sana



Kepada Waktu

coret saja namaku dalam daftarmu
berkali-kali tak sambut buangan kakimu
dan buang saja ludah pahitmu ke mukaku
seperti yang selalu kaulakukan membikin sesal

memang hijau jari-jari di dada rentan patah
apalagi unt…

Sajak-Sajak Anis Ceha

MENJELANG BULAN

Sesederhana itu kau buka benakmu
dengan kata-kata indah;

seperti abu dilarung ke lautan lepas,
dan ikan-ikan menjauh
oleh takut akan kesuciannya
atau enggan berbagi
dengan arwah-arwah penjaga debu.

Akulah menyanjungmu bersegenap dunia
yang kupijak bersama rerumputan muda.

Oh yang jauh,
seperti kiranya waktu tampak membuka mulutnya
dengan hari,
dengan terbit mentari di ujung timur
demi menjelang bulan kemudian.

050613



APA ARTINYA

Telah ku tutup tirai hati sebelum cerminkan diri
akan hamparan teduh wajahmu.

Duhai kasih,
kiranya kau tahu aku tak mencintaimu
tapi orang lain tengah ku tunggu,
dalam kabut hitam rindu.

Parasmu tersenyum begitu saja,
setelah ku tahu tak getarkan sedikit pun
apalagi koyakkan hatiku yang berpacu
bersama perubahan waktu;

waktu-waktu itu darahku membeku,
keringat tak mengalir
apalagi angin,
tak sedikit pun menyapa daun-daun.

Lalu apa artinya dirimu?

051129



PADA SUATU HARI DI UJUNG SUBUH

Ku dapati gelisahmu di ujung subuh,
kupu-kupu sayapnya terluka
tak dapat lagi meny…

Apologia, Absurditas dan Puisi

Mashuri

Abad ini tidak hanya berada di akhir gagasan tentang puisi. Dunia imaji sudah terbelah dan jumbuh dengan realitas yang terfiksikan; dan ide-ide tentang bahasa semakin rapuh dan jauh dari proyeksi kreatif. Dalam kondisi hiperrealitas dan dunia dengan citra yang direkayasa, diperlukan upaya kreatif yang subversif untuk mengoyak kebuntuan itu. Salah satunya adalah dengan menembus batas, dan meradikalkan konsep tradisi dan pembaruan dalam titik yang paling ekstrim.

Tolak ukur yang digunakan dalam melihat puisi selama ini adalah kata, kekuatan kata dan metafora yang melatarbelakanginya. Ada ahli sastra yang menganggap penyair tak lebih hanya pengrajin. Para penyair dalam pandangan mereka, adalah pribadi yang suka mempermainkan bahasa, dengan sikap kebinalan sebagai orang yang mengerti bahasa, potensi serta persilangan yang melekat di dalam dan di luar bahasa. Penyair hanya merakit kata, tanpa tahu lebih jauh tentang kata itu.

Mungkin sebagian pandangan mereka benar, tetapi ketika puis…

AMADHAHI POLA-POLA ANGGIT ING CENGKOK GUNA-BUDAYA

Suryanto Sastroatmodjo

Pertama, mungkin sekali, apa yang diketahui oleh Vernon Gill Carter dan Tom Dale, bahwa manusia dan peradabannya itu tergantung dari tanah, sebagai seorang ibu memelihara dan membersihkan anak-anaknya, adalah benar. (The Physical relief features of land, that is, the landforms of earth’s surface, are another measuring-stick for human society: Relief dan tanah, mempengaruhi jaring-jaring lalulintas, pemuatan penduduk, biaya hidup dan jenis pengangkutan serta usaha-usaha di bidang pertanian dan kebudayaan. Yang menekankan, bahwa lingkungan tersebut “diemban” oleh suatu manifestasi kasih sayang yang tulus, dalam pengabdiannya melestarikan sumberdaya energi, insani dan segala gumelar.

ZAITUN: CAHAYA DI ATAS CAHAYA

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=84

Sebuah Naskah Pendek

Prolog (QS.24:35):
“Ia pemberi cahaya lelangit dan bumi.
Perumpamaan Cahaya-Nya ibarat kurungan pelita
(miskat), yang di dalamnya terdapat pelita. Pelita itu
berada di dalam kaca; kaca tersebut bagaikan bintang
cemerlang serupa mutiara, yang dinyalakan dari pohon
yang banyak berkahnya; yaitu pohon zaitun,
yang berasal bukan dari barat, dan bukan dari timur.
Yang minyaknya saja, hampir-hampir menerangi, meski
tak dinyalakan dengan api. Cahaya di atas segala cahaya!”



I. Pembuka
(Seorang pengembara muda berjalan di atas panggung,
ia berkata):

Segarlah kepemudaanku yang baru mekar,
embun arang di wajah mawar hitam bergulingan
ketika angin sekutu serentak menikam para papa,
dengan mata gemerlap menyetubuhi ruang hampa.

Akukah gembel yang malang itu?
Mengembala domba-domba tak berkepala,
dan para cacing busuk dalam perut ibundanya.

Saatnya memang,
menggelandang dari gang-gang kota,
makan dari sampah harapan para angkara;
makin dalam pekat kelop…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi