Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2008

Bahasa yang Mencari Kata

Hudan Hidayat

Adalah roh yang membutuhkan ruang, yakni ruang tubuh dan ruang bahasa. Tanpa roh, ruang tubuh dan ruang bahasa hanyalah benda mati. Pada tubuh, benda mati itu mungkin berupa kaki atau tangan yang terpotong, atau tangan dan kaki yang lengkap, sebagai bagian dari tubuh. Pada bahasa, ia adalah bentuk grafis dari huruf.

‘Benda mati’ sebagai unit terkecil dari bahasa, seperti kaki atau tangan yang terpotong,adalah bagian dari kenyataan yang terserak. Maka sebagai benda mati,
mereka tidak bisa mengenali kenyataan, apalagi memainkan kenyataan. Mereka bisa mengolah kenyataan,apabila mereka hidup, memiliki tenaga, dan kekuatan. Seperti pusaran air yang mengisap.

Tenaga bahasa adalah kesadaran, yang seolah arus listrik dengan kabel-kabel yang menjuntai,di mana pikiran dan perasaan, gagasan dan harapan, berada di dalamnya. Kesadaran adalah pancaran roh yang tak mau lepas dari Tuhannya. Juga tak mau lepas dari semesta. Pada dunia, kesadaran itu seolah kasmaran— seakan pemuda yang tak ma…

Menguak Tabir Pujangga Rabindranath Tagore Ke Tanah Jawa

Pernah dimuat di Jurnal Kebudayaan The Sandour, edisi I 2006
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=66

Prolog:
Di usia ke 69 bagus Burhan (nama kecil R.Ng. Ronggowarsito, 1802-1873), pujangga India Rabindranath Tagore dilahirkan dunia. Tepatnya di Joransko, jantung kota Kalkutta pada tanggal 6 Mei 1861, sebagai putra keempat belas dari lima belas bersaudara atas pasangan Maharishi Debendranath Tagore dan Sarada Devi. Atau 6 tahun setelah wafatnya Pangeran Diponegoro (1785-1855) Kakek buyut R. Tagore adalah penggerak Renaissans India, yang bernama Rommohan Roy.

Dengan sahabat karibnya Mahatma Gandhi (1869-1948), Tagore dianggap oleh masyarakat India sebagai perlambang insan setengah dewa. Tahun lahirnya beliau bersamaan dengan seniman ambisius Frederic Remington (1861-1909) yang karyanya rupa lukisan, pahat dan tulis. Di tahun itu pula Abraham Lincoln (1809-1865) terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Karya-karya Rabidranath Tagore (1861-1941) diantaranya berupa puisi, novel, c…

Perempuan Penjual Nasi Boran

Rian Sindu

Bila suatu saat engkau bertandang ke kotaku. Cobalah mampir sejenak. Sekedar melepas penat sambil menikmati indahnya malam di sana. Kotaku selalu ramai. Apalagi di sebuah pertigaan yang terletak tepat beberapa meter dari alun-alun. Tempat berjajar-jajar perempuan menjajakan nasi boran.*) Makanan bercita rasa asli resep daerahku. Engkau belum pernah merasakan nikmatnya nasi boran, kan? Makanya, mampirlah dulu ke kotaku!
***

Bulan merangkak naik. Malam makin redup. Namun kotaku belum juga lelap. Apalagi di pertigaan ini. Tempat keramaian malam tertumpah. Terlihat beberapa lelaki lesehan di atas tikar pandan. sekadar mengendurkan ketegangan akan rutinitas. Juga yang sengaja berniat merasakan nikmatnya ikan sili, puh dan rempeyek sebagai lauk nasi hangat yang dibalur dengan sambal. Membuat kombinasi yang pas dilidah setiap orang. Sambalnya pedas mengigit dan terasa agak sengak, namun itulah yang membuat nasi boran ini begitu digemari. Anak-anak kecil bergelayut di lengan ibunya y…

Sastra: Menjadikan Perubahan

M. Bagus Pribadi

"Suatu masyarakat yang paling primitif pun, contoh di jantung Afrika, yang tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, dan tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan." (Bumi Manusia, hal. 233). Kalimat yang tersadur dari pernyataan Pramoedya Ananta Tour di atas, paling tepat untuk menggambarkan keadaan, di mana ada suatu negara terbelakang, pun masih terdapat kecintaan pada dunia sastra. Walau mereka belum mengenal tulisan-menulis, namun peduli melestarikan sastra (: lisan), sebagaimana masyarakat kita tempo dulu.

Lalu bagaimana dengan kondisi kita sekarang, yang katanya telah sampai pada alam masyarakat modern? Ini bisa terlihat dari daftar prioritas kebutuhan hidup, yang lebih mementingkan pakaian baru, kosmetik, makanan ringan serta kendaraan, sebagai daftar belanja bulanan. Sehingga bisa dipahami, tingkat kepentingan masyarakat kita terhadap karya sastra, pembelian buku jauh lebih rendah dibandin…

ZAMAN MATI BAGI PUISI

Hamdy Salad*

Perdebatan sastra Indonesia mutakhir banyak dipenuhi oleh -kutuk dan pujian- yang tertuju pada dunia fiksi. Sehingga nyaris tak terdengar gema keindahan yang mengatasnamakan puisi. Bahkan tak juga menampak adanya kosa-kosa pergerakan yang memiliki aras pada kedalaman jiwa puisi. Seakan zaman menolak kehadiran puisi. Atau justru sebaliknya, puisi itu sendiri yang bunuh diri dan mati?

Sementara dunia fiksi, sebutan pengganti ragam novel dan cerita pendek, begitu cepat membengkak dalam ruang literasi terkini. Poster-poster kesusastraan, rehal pustaka dan toko buku dipenuhi karya fiksi yang ditulis oleh remaja dan orang dewasa. Para sastrawan bernama atau mereka yang sekedar bertahan untuk memenuhi pasar permintaan. Terselip juga di dalamnya, kumpulan buku-buku fiksi tanpa halaman biografi, yang sengaja mengaburkan identitas pengarangnya, lelaki atau perempuan, nama asli atau samaran. Dan tampaknya, sebagian besar dari pembacanya, tak mau direcoki persoalan serupa. Apalagi b…

Nyanyian Persembahan Malaikat Ruhaniyyun

Judul : Kitab Para Malaikat
Penulis : Nurel javissyarqi
Penerbit : PUstaka puJAngga Lamongan
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : ix + 130 halaman
Peresensi : Liza Wahyuninto*)

Malaikat Jibril as. mempunyai seribu enam ratus sayap, mulai dari kepala sampai kedua telapak kakinya terbalut bulu-bulu zafaron. Matahari seolah berada di antara kedua matanya. Di atas setiap bulu-bulunya seperti rembulan dan gumintang. Setiap hari ia masuk ke dalam lautan cahaya tiga ratus tujuh puluh kali, tatkala keluar dari lautan tersebut, meneteslah dari setiap sayap sejuta tetes cahaya, dan Allah menjadikan dari setiap tetes cahaya tersebut ujud Jibril as, mereka semua bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat, nama mereka malaikat ruhaniyyun. (Daqoiqul Akbar, Imam Abdurrohim bin Ahmad Qodhi).

Makna yang tertuang dalam kitab Daqoiqul Akbar inilah yang ditelanjangi oleh Nurel Javissyarqi melalui antologi puisinya Kitab Para Malaikat. Nurel seolah ingin menunjukkan bagaimana para malaikat yang dalam bahasanya di ber…

H.B. Jassin tanpa Wahyu

[ Minggu, 20 Juli 2008 ] Jawa Pos
M. Fadjroel Rachman
Penulis dan Peminat Karya Sastra

Membaca Hudan Hidayat, membaca Nabi Tanpa Wahyu (2008), adalah membaca sastra Indonesia muda yang jatuh bangun merintis jejak di dunia baru dalam aras nasional, regional, dan global. Hudan Hidayat (HH) tak lelah-lelah mencari jejak penulis baru, menciumi aroma pembeda, menelisik simpangan subtil, mencari kaitan pergaulan sastra Indonesia baru dan globalisasi dunia baru. Merumuskan benang merah sastra dan kebudayaan baru Indonesia, dalam taman sastra dan kebudayaan dunia, dengan iman yang teguh terhadap kebebasan, kehidupan, dan kemanusiaan. Sebab, kata HH, ia sama yakinnya dengan Octavio Paz (hlm. 55) yang berkata, ''Sastra modern lahir dari kritik terhadap zaman, kritik terhadap kebenaran tunggal.''

Dua jiwa dunia
Bila HH memeriksa karya penulis baru Indonesia, tanpa ragu HH langsung terjun dalam samudera pertempuran jiwa sang penulis. Pertempuran berdarah rasio dan nurani dalam menghada…

Menikmati Sastra Lamongan

Judul Buku : Gemuruh Ruh; Antologi Sastra Lamongan
Penulis : Nurel Javissyarqi dkk.
Penerbit : Pustaka Pujangga, Lamongan
Cetakan : I April 2008
Tebal : 140 halaman
Peresensi: Sungatno*
Sumber: Jurnalnet.com

Dalam konteks pariwisata, seni, budaya dan sastra di Indonenesia, Bali, merupakan daerah di kawasan nusantara yang paling di 'anak emas' kan oleh Indonesia. Selain potensi alamiyyahnya yang memang mampu mempengaruhi tinggi rendahnya devisa Indonesia, Bali juga menjadi ikon Indonesia dalam mentransformasikan keIndonesiaannya terhadap masyarakat negara asing. Sehingga, tidak jarang ketika masyarakat asing apabila ditanya tentang Indonesia, mereka akan menyinggung tentang Bali. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, dalam mengenal Indonesia, masyarakat tersebut berangkat dari dikenalnya pulau dewata itu.

Pasca tragedi meledaknya Bom di Bali, 12 Oktober 2003 lalu, dengan gamang dan kekecewaannya, Bali terpaksa menggandeng 'saudara se-Indonesia-nya, yakni Lamongan, sebagai salah satu d…

GERAKAN BARU SASTRA LAMONGAN:

Catatan Singkat atas Forum Sastra Lamongan
Haris del Hakim

Tulisan ini tidak hendak merekonstruksi sebuah gerakan secara komprehensif, namun sekadar mengambil salah satu sebuah gerakan halus yang terjadi secara simultan dan dapat disebut sebagai fenomena yang luar biasa. Selain dari itu, tulisan ini tidak menjamah ranah analisa karya yang memerlukan waktu yang panjang dan kajian lebih intens, tapi sekadar ulasan beberapa hal yang dapat dianggap penting.

Keberadaan sastra Lamongan patut mendapatkan perhatian. Sastrawan yang lahir dari Lamongan ikut mewarnai peta sastra Indonesia, sebut saja nama Satyagraha Hoerip, Djamil Suherman, Abdul Wachid BS, Viddy, Aguk Irawan MN, Mashuri, dll. Di samping itu di Lamongan sendiri sebenarnya nafas sastra telah mengakar kuat, sebagaimana yang pernah disaksikan sendiri oleh Emha Ainun Nadjib pada tahun 80-an. Geliatnya semakin kentara dengan kehadiran Harry Lamongan yang sebenarnya lahir di Bondowoso namun berdomisili di Lamongan.

Selama bertahun-tahun H…

KRITIK “SAKIT” SASTRA INDONESIA

Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008
Liza Wahyuninto

Pada tahun 1950, beberapa ahli sastra beranggapan bahwa kesusastraan mengalami kemunduran. Salah satu tokoh yang berpandangan bahwa kesusastraan Indonesia mengalami kemunduran adalah Sujadmoko. Dalam esainya yang berjudul Mengapa Konfrontasi, Sujadmoko melihat adanya krisis sastra akibat adanya krisis kepemimpinan politik. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sastra Indonesia mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpen-cerpen kecil yang menceritakan psikologisme semata-mata.

Ulasan Sudjadmoko tersebut mendapat reaksi keras terutama dari para sastrawan. Para sastrawan tersebut antara lain, Nugroho Notosusanto, S.M. Ardan, dan Boejoeng Saleh. Mereka mengatakan bahwa kesusastraan Indonesia tumbuh subur. H.B. Jassin dalam simposium sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1954 mengemukakan bahwa kesusastraan Indonesia modern tidak mengalami krisis. Dia mengemukannya dengan bukti-bukti dan …

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi